Ungkap Kasus Penyekapan di Depok, Penyidik Polrestro Tetapkan 4 Orang Tersangka

6

DEPOK24JAM,- Empat orang telah ditetapkan penyidik ​​Polres Metro (Polrestro) Depok sebagai tersangka kasus penyekapan terhadap pengusaha bernama Atet Hadiyana Sihombing. Keempat tersang itu berinisial M, I, J, dan Y.

Penyekapan tersebut terjadi di sebuah hotel di Margonda karena korban tidak bersalah telah menggelapkan uang perusahaan.

Pada awalnya Polrestro depok hanya menetapkan dua tersangka, yaitu M dan I. Namun belakangan bertambah tersangka baru dengan inisial J dan Y.

“Pertama dua orang, tambah dua lagi. Mereka ikut ngejagain (saat penyekapan). Tidak ditahan karena mereka kooperatif datang kemudian juga wajib lapor,” ucap Kasat Reskrim Polrestro Depok, AKBP Yogen Heroes Baruno, Rabu, 13 Oktober 2021.

Pihak Polrestro Depok saat ini masih mengejar tiga pelaku lainnya, termasuk pelaku utama kasus ini. Yogen mengaku terus berusaha memanggil pemilik perusahaan tempat Handi bekerja lantaran pada pemanggilan pertama yang bersangkutan manggkir. Kini telah dilayangkan pemanggilan kedua.

Kerja cepat Polrestro Depok ini pun mendapat apresiasi dari kuasa hukum Atet Hadiyana Sihombing, Jon Mathias karena telah berhasil menangkap empat tersangka dalam kasus ini.

Namun, dia tetap berharap pihak kepolisian segera mengungkap aktor utama dalam kasus penyekapan dan meminta dalang kasus ini segera ditahan.

“Kita apresiasi kinerja Polrestro Depok karena telah melakukan penyidikan dan mengembangkan kasus ini. Disini yang ditangkap baru pesuruhnya saja, aktor intelektualnya belum tersentuh. Jadi kita minta penyidik untuk melangkah pada aktor intelektual,” tuturnya.

Selain itu, Jon Mathias berharap dengan terungkapnya kasus ini secara jelas, penyidik polres bisa segera melengkapi berkas-berkas agar bisa diserahkan ke Kejaksaan Negeri Depok.

“Polres dengan cepat melakukan penyidikan dan mengembangkan kasus ini. Dan Insya Allah juga sudah mulai dilimpahkan ke kejaksaan, mungkin dalam wakti tidak lama lagi proses P21,” ungkap Jon.

Penyekapan yang menimpa Handi ini bermula saat dirinya dituding melakukan penggelapan uang perusahaan senilai Rp 73 Miliar. Sehingga dia diminta mengembalikan uang tersebut dengan menyerahkan sejumlah asset yang dimiliki.

Handi yang diundang untuk rapat di perusaah, mulanya tak tahu bahwa akan terjadi penyekapan. Dia diajak ke sebuah ruangan dan dimintai surat yang menyatakan dirinya menggunakan uang perusahaan. Handi pun menolak hingga terjadilah penyekapan tersebut.

“Ada aset yang disita, banyak. Berrupa tanah, rumah, uang tunai, kendaraan roda empat dan dua. Sesuai kesepakatan mereka dengan saya kurang lebih (nilainya) Rp 42 Miliar,” beber Handi.

Atas kejadian yang menimpanya, Handi mengaku mengalami trauma. Hingga saat ini dia masih belum bisa berkomunikasi dengan banyak orang yang tidak dikenal. Bahkan mendengar suara bel pun dia merasa gemetar.

“Masih trauma karena hampir setiap saat saya dapat ancaman, melihat senjata api, diancam dan lain sebagainya mau dilibas, mau diapa dan sebagainya,” pungkasnya.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

depok24jam