DEPOK- Wali Kota Depok Supian Suri melakukan mutasi dan rotasi terhadap 97 aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkot Depok pada Senin (26/5). Mereka yang dilantik adalah Pejabat Administrator dan Pengawas. Rotasi dan mutasi ini adalah yang pertama kalinya setelah Supian menjabat wali kota.
Supian mengatakan dirinya memiliki harapan besar kepada para pejabat yang mendapat kesempatan melayani masyarakat pada jabatannya masing-masing. Dia akan terus melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap kinerja pejabat yang dilantik.
“Mudah-mudahan dengan kebersamaan yang dibangun, apa yang menjadi cita-cita Depok Maju Jawa Barat Istimewa benar-benar bisa terwujud,” katanya, Senin (26/5/2025).
Rotasi dan mutasi yang dilakukan kata Supian sudah melalui prosedur yang ditetapkan. Ini merupakan hasil dari perjalanan proses menempuh prosedur baik ke Badan Kepegawaian Nasional (BKN) dan Kementrian Dalam Negeri.
“Kita mengusulkan lebih dari yang tadi dilantik, tapi yang dapat persetujuan untuk dilantik hari ini adalah nama-nama yang dilantik hari ini. Secara ketentuan sudah ditempuh semuanya,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Supian juga melantik seorang pejabat dari kalangan minoritas yaitu Christine Desima Arthauli. Diketahui bahwa Christine adalah non muslim yang semula menjabat Kepala Bidang Kebudayaan, Pengembangan Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif, Disporyata Kota Depok. Supian meyakini Christine mampu mengemban amanah yang diberikan dan melayani warga Sukmajaya dengan baik.
“Kami meyakini Bu Christine akan bisa beradaptasi dan tidak akan kalah karena saya tahu masyarakat Depok adalah masyarakat yang modern dan maju. Jadi tidak lagi hanya gara-gara minoritas orang tidak dapat kesempatan untuk melayani warga sehingga kami yakin percaya Bu Christine akan cepat beradaptasi dan maksimal melayani warga Sukmajaya,” tegasnya.
Sementara itu, Christine mengucapkan terimakasih atas kepercayaan yang diberikan padanya untuk mengkoordinir wilayah Kecamatan Sukmajaya. Dia menyadari dirinya memiliki kekurangan dan perbedaan, namun dia menegaskan akan fokus pada persamaan.
“Jadi saya akan banyak blusukan turun ke bawah menyamakan persepsi dari para lurah di wilayah mengenai permasalahan apa yang perlu disolusikan di Kecamatan Sukmajaya. Lebih khusus lagi bagaimana menjadikan Sukmajaya memiliki magnet bagi warganya dan khususnya Kota Depok,” katanya.
Menanggapi dirinya yang merupakan non muslim, Christine menegaskan bahwa yang harusnya dikedepankan adalah persamaan. Menurutnya perbedaan hanyalah sebagai bumbu dan tidak boleh diangkat menjadi isu intolean dan sebagainya.
“Saya percaya amanat yang diberikan ini sudah melalui pertimbangan yang sangat matang dari pak wali dan pak wakil menempatkan saya di Sukmajaya. Saya siap berkolaborasi, saya siap melayani warga Sukmaya,” ujarnya.
Dengan dilantiknnya Christine sebagai Camat Sukmajaya yang merupakan non muslim membuktikan bahwa Kota Depok bukanlan kota yang intoleran. Sebelumnya diketahui bahwa selama 20 tahun, ini adalah pertama kalinya Camat Sukmajaya dijabat oleh seorang perempuan dan non muslim.
“Depok sangat toleran. Sebagai alumni dari Sekolah Pamong tentu saja saya memiliki kebanggaan tersendiri memiliki wali kota yang juga mengangkat perbedaan. Kota Depok harus menjadi kota yang inklusi, Kota Depok harus memiliki visi dan setiap wilayahnya memiliki magnet,” ucapnya.
Menurutnya, perbedaan bukan menjadi penghalang bahkan itu bisa menjadi perekat. Karena lebih banyak persamaannya daripada perbedaan.
“Ya makanya kenapa dengan pemimpin yang sekarang juga sebagian dari teman-teman ASN yang non muslim dipercayakan untuk menduduki jabatan. Tentu saja dengan program-program wali kota dan wakil wali kota, percaya hasil dari penilaian para pimpinan dan diamanahkan kepada kami,” pungkasnya.

