DEPOK- Dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2025, sekitar 2000-an orang mengikuti kampanye dalam kegiatan car free day Depok dan zumba di Lapangan Balai Kota Depok. kampanye dikemas dalam Save Our Surroundings (SOS) Fest.
Ini adalah gerakan yang bertujuan melindungi orang-orang di sekitar kita, terutama anak-anak, perempuan, dan kelompok rentan, dari paparan rokok yang dapat mengancam berbagai risiko kesehatan, ekonomi, lingkungan, hingga kesejahteraan mereka. Dengan pendekatan yang mencakup 8 pilar utama, Kesehatan, Pendidikan, Hak Asasi Manusia, Perlindungan Anak, Kebijakan Publik, Budaya Sosial Baru, Lingkungan, dan Ekonomi, SOS berupaya menciptakan perubahan nyata melalui edukasi, kampanye, dan advokasi kebijakan
Sebagai bagian dari gerakan ini, SOS Fest 2025 hadir sebagai ruang kolaboratif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya lingkungan yang sehat dan bebas dari dampak industri rokok. SOS Fest 20205 dikemas dengan konsep yang ringan, inklusif, dan menyenangkan, festival ini mengajak berbagai pihak, seperti aktivis pengendalian rokok, pemerhati lingkungan, pegiat hak asasi manusia, pendidik, komunitas anak, pembuat kebijakan, tokoh publik, influencers, media, hingga komunitas seni dan olahraga untuk berpartisipasi dalam gerakan perlindungan generasi masa depan bangsa dari bahaya rokok
Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah mengatakan, kegiatan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia menjadi salah satu cara untuk melindungi anak dan remaja dari pengaruh rokok. Menurutnya, merokok sangat membahayakan bagi kesehatan tubuh.
“Saya juga tidak merokok. Pemuda dan orang tua yang ada di sini juga jangan merokok, karena sama saja membakar duit dan tidak baik bagi kesehatan. Pemerintah Depok juga sudah memiliki Perda KTR untuk menurunkan angka perokok di Kota Depok,” ungkapnya di Lapangan Balai Kota Depok, Minggu (1/6/2025).
Saat ini Pemkot Depok sudah memiliki Perda Kawasan Tanpa Rokok dengan menetapkan tujuh lokasi yang dilarang merokok. Antara lain fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, dan tempat umum.
Perda KTR tersebut untuk menekan angka prevalensi perokok aktif yang terus meningkat. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa jumlah perokok aktif diperkirakan mencapai 70 juta orang, dengan 7,4% di antaranya perokok berusia 10-18 tahun.
Di tempat yang sama, Dokter Spesialis Jantung Bobby Arfhan Anwar mengatakan, persentase perokok pria di Indonesia sangat tinggi. Pria yang tidak merokok di Indonesia sangat langka dan angka perokok ini harus ditekan, karena berbahaya bagi kondisi kesehatan perokok aktif dan pasif.
Persentase pria perokok aktif Indonesia tertinggi di dunia, yaitu sekitar 73,2% per 2025. Artinya lebih dari tiga perempat pria di Indonesia merupakan perokok aktif. Angka ini juga menunjukkan bahwa Indonesia berada di posisi ke-12 dari daftar negara dengan jumlah perokok terbanyak di dunia.
“Hanya sekitar 26% pria di Indonesia yang tidak merokok. Merokok bulanlah tren yang baik bagi kesehatan, tetapi sangat membahayakan bagi pembuluh dan bisa menyebabkan penyakit. Mari kita cukupkan diri kita dengan udara bersih,” katanya.
Dia mengatakan bahwa rokok tembakau dan elektronik mengandung zat adiktif yang menyebabkan candu, sehingga tubuh merasa ketagihan dan selalu mengulang ingin merokok lagi dan lagi. Bila dikonsumsi terus menerus maka akan menyebabkan gangguan kesehatan yang serius.
Apalagi saat ini, mulai muncul rokok elektronik yang memiliki aneka rasa-rasa manis buah, permen karet dan lain-lain. Dokter Bobby menganggap bahwa rokok elektronik dengan aneka rasa manis menjadi jalan masuk generasi muda bahkan anak-anak untuk merokok, sebab anak muda suka dengan rasa yang manis.
Tingginya angka perokok di Indonesia masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah Indonesia. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat bahwa jumlah perokok aktif mencapai 70 juta orang, dengan hampir 6 juta di antaranya adalah remaja berusia 10-18 tahun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa 28,62% penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas merokok dalam sebulan terakhir.

