Indonesia Alami Ledakan Populasi Silver Generation tahun 2025, Ini yang Harus Dilakukan Pemerintah

Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Padang Wicaksono

DEPOK- Tahun 2025, jumlah populasi lanjut usia (lansia) di Indonesia akan mengalami lonjakan. Untuk itu perlu dilakukan Langkah antisipatif agar ledakan tersebut tidak menjadi beban negara.

Direktur Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI), Padang Wicaksono mengatakan, Vokasi UI menggelar International Conference on Vocational Education, Applied Sciences, and Technology (ICVEAST) 2025 dengan dihadiri ratusan pakar dari berbagai negara.

Tujuannya, membedah peran teknologi dan pendidikan vokasi dalam menjawab tantangan global, terutama peningkatan kualitas hidup lansia.

‎Padang mengatakan, ICVEAST 2025 menjadi momen penting untuk menunjukkan peran inovasi dan teknologi dalam menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan demografi global, khususnya dalam mendukung kesejahteraan generasi lansia.

‎“Ini jadi momentum penting bagi kita semua untuk menunjukkan bagaimana inovasi terapan dan teknologi dapat menjadi solusi berkelanjutan dalam menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan demografi, khususnya dalam mendukung generasi lansia yang tangguh dan sejahtera,” katanya, Rabu (17/8/2025).‎

Lebih lanjut disebut, forum ini akan menghasilkan kajian ilmiah yang bisa digunakan oleh penentu kebijakan dalam menghadapi tantangan kelompok lansia di Indonesia agar tetap produktif di usia senja.

“Tentu output dari forum ini menjadi formula yang kita nilai ideal terhadap ledakan kelompok lansia,” ujarnya.

Menurutnya, agenda ICVEAST 2025 ini penting karena diprediksi Indonesia akan mengalami lonjakan jumlah lansia di tahun 2050, mendatang. Hasil kajian dalam pertemuan itulah yang nantinya diharapkan dapat menjadi masukan untuk pemerintah.

“Sehingga pemerintah juga nanti seharusnya menyiapkan sarana-parasarana bagi lansia. Karena kan tahun 2022 itu kan (jumlah lansia) 10 persen, tahun 2050 kan 30 persen, berarti kan itu naik 20 persen, ya cukup masif kan. Jadi mulai sekarang ini harus mulai disiapkan sarana-parasaranya. Nah kita sudah ada contoh ya, kalau di kita ini misalkan penanganan fisik, kita punya vocational wellness center. Jadi penanganan fisik juga ya, lingkungan, juga kesejahteraan, sosial, sebagainya,” ungkapnya.

Turut hadir sebagai keynote speaker internasional yaitu Dr. Marilyn Moffat dari New York University. Dia memaparkan pentingnya pengembangan teknologi ramah lansia, transformasi pendidikan vokasi, hingga kolaborasi lintas sektor dalam membangun generasi lanjut usia yang tangguh.

‎Selain itu, akademisi Vokasi UI juga tampil dalam panel diskusi, Dr. Fia Fridayani Adam yang menyoroti penerimaan panti lansia modern di Jabodetabek.

‎“Adaptasi lingkungan yang baik dan kesinambungan gaya hidup sebelum pensiun adalah kunci agar hunian ramah lansia dapat diterima sebagai alternatif penuaan yang sehat dan bermartabat,” kata Fia.

‎Sementara Dr. Nia Murniati membahas hubungan kepemilikan dana pensiun dengan status kerja lansia. Menurutnya, kepemilikan dana pensiun tidak serta-merta menentukan apakah seseorang kembali bekerja atau tidak.

 

‎“Banyak lansia yang tetap bekerja bukan karena alasan finansial, melainkan untuk mengisi waktu, menjaga kesehatan, atau mencari aktualisasi diri,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *