DEPOK24JAM— PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC) membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp80,23 miliar pada Semester I 2026 (periode yang berakhir 30 Juni 2026). Perolehan ini mengalami penurunan sekitar 28,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp112,86 miliar.
Berdasarkan Laporan Keuangan Interim (Tidak Diaudit) perseroan, terkoreksinya kinerja laba dipengaruhi oleh penurunan pendapatan bunga yang tercatat sebesar Rp1,19 triliun, turun dari posisi Rp1,49 triliun pada Juni 2025. Hal ini turut berdampak pada penurunan laba per saham dasar (Basic EPS) dari Rp6,23 menjadi Rp4,43 per saham.
Meski pendapatan bunga tertekan, manajemen BCIC berhasil melakukan efisiensi signifikan pada pos beban bunga. Beban bunga perseroan menyusut dari Rp1,10 triliun pada Kuartal II 2025 menjadi Rp829,33 miliar pada Semester I 2026.
Efisiensi biaya dana (cost of funds) ini sejalan dengan strategi perseroan dalam merestrukturisasi Dana Pihak Ketiga (DPK). BCIC mencatatkan lonjakan signifikan pada dana murah (CASA) khususnya produk Giro, yang melesat menjadi Rp6,26 triliun per 30 Juni 2026 dari posisi Rp3,91 triliun pada akhir tahun 2025. Sebaliknya, ketergantungan pada Deposito Berjangka berkurang dari Rp26,34 triliun menjadi Rp24,36 triliun.
Penyaluran Kredit dan Aset Tetap Tumbuh
Di sisi intermediasi, BCIC tetap melanjutkan ekspansi penyaluran kredit. Hingga akhir Juni 2026, total pinjaman yang diberikan kepada pihak ketiga mencapai Rp28,78 triliun, naik dari posisi Rp26,51 triliun pada akhir Desember 2025.
Pertumbuhan kredit tersebut mendorong total aset bank merangkak naik menjadi Rp39,84 triliun dibandingkan posisi akhir tahun lalu sebesar Rp39,35 triliun. Perseroan juga mengantisipasi risiko kredit dengan menambah Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) atas pinjaman yang diberikan menjadi Rp359,98 miliar.
Dari sisi struktur permodalan, total ekuitas perseroan menguat menjadi Rp3,92 triliun per 30 Juni 2026 dari Rp3,43 triliun pada akhir 2025. Ketahanan permodalan ini juga diperkuat oleh penerimaan pinjaman subordinasi sebesar Rp480 miliar yang masuk dalam aktivitas pendanaan perseroan.

