DEPOK- Ibadah misa dalam rangka memperingati Kenaikan Yesus Kristus di Kota Depok berjalan lancar dan kondusif. Seluruh umat Nasrani di Kota Depok merasa tenang dan nyaman melaksanakan ibadah. Hal ini yang dirasakan umat Nasrani usai menjalankan ibadah pada Kamis (29/5). Mereka merasa bahagia karena untuk pertama kalinya Kota Depok masuk dalam 10 besar Kota Toleransi yang dirilis Setara Insttitute.
Pastor Paroki Gereja Katolik Bunda Maria Ratu Sukatani, Romo Dionisius Aditejo Saputro mengatakan, dia dan seluruh jemaat bersyukur Kota Depok telah lepas dari label kota intoleran. Menurutnya ini tidak lepas dari upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Depok serta semua pengampu kebijakan publik.
“Ya tentu kami mensyukuri bahwa Depok pada tahun ini dari indeks kota toleransi yang dikeluarkan Setara Institute ini telah naik peringkatnya, peringkat toleransinya dari 94 kalau tidak salah ini naik ke 78,” katanya Kamis (29/5/2025).
Umat Nasarani di Kota Depok yang juga turut mendukung dalam upaya mewujudkan toleransi. Menurutnya, jika semua komponen masyarakat ini bisa mengupayakan dalam perbedaan, bukan untuk disamakan tetapi bagaimana diakui sebagai cara untuk semakin menyempurnakan.
“Nah tentu bahwa semangat ini tetap menjadi warna dan sekaligus tujuan serta upaya untuk bagaimana mewujudkan Depok ini memang menjadi kota yang harmoni dan kota yang maju. Kita berbeda bukan untuk disamakan, tetapi untuk menyempurnakan satu dengan yang lain, dan saya kira ini menjadi satu potensi yang kuat,” ujarnya.
Romo Dion, sapaan akrabnya menuturkan, Depok merupakan salah satu kota penyangga Jakarta dapat menjadi potensi luar biasa. Namun itu perlu ditekuni dan juga diseriusi oleh semua pihak, termasuk juga dalam hal ini adalah Pemerintah Kota Depok. Dia juga menyoroti kebijakan Wali Kota Depok, Supian Suri yang berani mengambil terobosan baru. Salah satunya menunjuk kalangan non Muslim sebagai Camat Sukmajaya.
“Ya memang kalau mau membuat sebuah terobosan untuk mewujudkan sebuah toleransi ya, tapi bahwa label sebuah toleransi ini harus diwujudkan atau direalisasikan. Kita menerima perbedaan itu kan bukan soal berbicara agama yang sama, tetapi bagaimana mengakui potensi yang berbeda-beda, terlepas dari agama apapun kalau kita mau mengakui dan mau menuju Depok itu yang maju,” ungkapnya.
Dia menceritakan bagaimana kota/kabupaten lain seperti Bekasi dan Tanggerang dapat berkembang pesat. Hal itu tentunya karena ada semangat toleransi yang tinggi di kedua kota/kabupaten tersebut.
“Karena mereka mau untuk kemudian sampai pada semangat toleransi, dan saya kira juga Bekasi masuk dalam kategori kota toleransi. Maka dengan adanya camat yang berasal dari non muslim saya kira menjadi gebrakan yang baru untuk wali kota sekarang,” ungkapnya.
Dia pun berharap, Depok bisa menuju situasi yang lebih inklusif untuk kemudian menyatakan bahwa daerah ini memang kota toleransi. Lebih lanjut Romo Dion mengatakan, bahwa rukun dan toleransi adalah yang berbeda.
“Kalau kita bicara soal kerukunan dan toleransi satu hal yang berbeda. Kalau kita bicara rukun ya mungkin setiap hari rukun tidak ada apa-apa. Tetapi begitu masuk hal-hal yang esensial, ranah tentang keyakinan, ini yang seringkali menjadi perdebatan atau kemudian satu friksi di dalam kondisi sosial masyarakat, karena bagaimanapun juga soal keyakinan kan urusan masing-masing. Bagaimana bertoleransinya, itulah di situ yang kemudian musti dimengerti sebagai satu keadaan memahami satu dengan yang lain,” katanya.
Di tempat yang sama, Kapolres Metro Depok, Kombes Pol Abdul Waras mengatakan, dalam pengamanan terkait peringatan Isa Al Masih ini pihaknya menurunkan sebanyak 156 personil dibantu dari jajaran Kodim. Pihaknya memberikan apresiasi pada semua pihak yang turut serta dalam memberi dukungan keamanan di Kota Depok.
“Itu kami mengamankan beberapa gereja yang ada di wilayah Depok. Dan Alhamdulillah sesuai dengan pantauan yang kami lakukan, semua berjalan dengan aman, lancar dan kondusif. Sekali lagi terima kasih, ini semua juga berkat support dukungan semua elemen masyarakat tadi yang disampaikan oleh Romo, bagaimana tingkat toleransi kita meningkat dan ini juga harapan kita semua. Kita sama-sama bisa hidup dan rukun di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari berbagai macam agama, suku sebagai anak bangsa,” katanya.
Sementara itu, Dandim 0508/Depok, Kolonel Inf Iman Widhiarto menambahkan, toleransi sendiri itu kan sebenarnya bagaimana semua pihak bisa menundukkan ego, dan menyadari ada ego di sekelilingnya. Ditekankan, jika semua masih memegang ego dan menganggap egonya yang paling benar dan yang paling harus dituruti, nah disinilah akan terjadi intoleransi.
“Sehingga artinya tidak ada yang ingin memaksakan kehendaknya sendiri, karena menyadari bahwa manusia yang lain juga punya kehendak juga. Maka bagaimana mengkombinasikan ini, mengkolaborasikan ini, sehingga bisa terjadi sinkronisasi, itulah amanah dari toleransi,” katanya.

