DEPOK- Polisi hingga kini masih mendalami kasus beras oplosan. Diketahui bahwa ada 212 merek beras merupakan hasil oplosan dan dijual di pasaran.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowon mengatakan, hari ini akan dilakukan pemeriksaan kepada 25 distributor atau produsen yang masuk dalam kategori mengoplos. Kemudian juga pihak-pihak yang melakukan pengurangan berat isi kemasan.
“Baik, sampai dengan hari ini rencana kita akan melakukan pemeriksaan terhadap 25 distributor ataupun produsen, kategori sementara mengoplos. Kemudian juga ada yang berat-beratnya di bawah ketentuan, atau tidak sesuai dengan yang ada di dalam list di kemasan,” kata Kapolri di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Kamis (17/7/2025).
Polri bekerjasama dengan Kementrian Pertanian untuk menangani kasus ini. Termasuk juga bekerjasama untuk pengecekan laboratorium.
“Dan juga kita bekerjasama Kementan untuk melakukan pengecekan lab, terhadap mereka progres masih berlangsung,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap, temuan beras oplosan telah merugikan masyarakat sebesar Rp 99,35 triliun. Temuan ini berawal dari adanya anomali harga beras sekitar 1-2 bulan lalu. Harga di tingkat petani dan penggilingan turun, tetapi justru harga di tingkat konsumen naik.
“Harusnya kalau petani naik, baru bisa naik di tingkat konsumen,” kata Amran.
Sementara itu, kata Amran, Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya memperkirakan produksi beras naik 14 persen atau 3 juta ton lebih.
“Ada surplus 3 juta ton lebih dari kebutuhan, tetapi harga naik. Sehingga kami mencoba mengecek di seluruh Indonesia, ada 10 provinsi penghasil beras terbesar,” ungkapnya.

