Ungkap Penyebab Keracunan Ratusan Santri Ponpes Baitul Quran, Sampel Air dan Muntahan Dicek Lab

Kadinkes Depok, Mary Liziawaty

DEPOK- Sampel air dan muntahan santri yang mengalami keracunan di Pondok Pesantren (Ponpes) Baitul Quran, Depok diperiksa di laboratorium. Hasilnya akan keluar dalam 14 hari.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Depok sudah turun tangan melakukan investigasi. Dari ratusan santri yang keracunan, saat ini tersisa sembilan yang dirawat di RS Bhayangkara Brimob Kelapa Dua, Depok.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Mary Liziawaty mengatakan, pihaknya sudah mendatangi lokasi kejadian pada Selasa (2/9). Hanya saja sampel makanan yang dikonsumsi santri sudah tidak ada karena sudah dimakan.

“Jadi kami mengambil sampel muntahan. Selain mengambil sampel muntahan, juga mengambil sampel air, tadi Pak Wali juga sampaikan sampel air. Dan juga yang banyak disebut kornet, ya kita juga ambil sampel kornet juga.  Jadi ini yang masih kita tunggu hasil dari lab terkait pemeriksaan ini,” katanya, Kamis (4/9/2025).

Mary menyebut, ada 160 santri yang mengalami keluhan serupa. Mereka langsung dilarikan ke RS Brimob, puskesmas dan RS ASA.

“Kalau yang mengalami keluhan itu sekitar 160 anak. Tapi kan tadi yang kemudian dibawa ke RS Brimob ada 72 yang kemudian yang dirawat 42, sisanya berobat jalan. Kemudian hari ini tinggal 9 yang dirawat. Ada 6 yang di RS ASA,” ujarnya.

Diperlukan waktu 14 hari untuk mengetahui hasil pemeriksaan laboratorium. Setelah itu baru diketahui mengenai penyebab keracunan santri.

“Hasil labnya 14 hari. Berarti baru kemarin ya kita kirim. Paling lambat 14 hari. Semoga sebelumnya sudah ada hasilnya,” ungkapnya.

Dinkes juga memeriksa sampel air minum yang dikonsumsi santri. Air minum tersebut adalah hasil olahan dari ponpes tersebut.

“Bukan air sumber minumnya mereka. Mereka kan sumber minumnya dari air tanah yang difilter oleh mereka sendiri,” bebernya.

Mary hingga kini belum bisa memastikan penyebab keracunan tersebut. Dia masih akan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

“Ya itu tadi kita belum bisa memastikan apakah ini dari makanan atau dari air atau dari mana ya. Makanya kita akan tunggu nih hasil lab-nya. Nah, kalau dari makanan kan kita nggak dapat sampel makanan ya nih. Hanya kornetnya saja kan. Ini kita dapetnya muntahannya. Muntahannya nanti dari bahan makanan yang mana kan kita nggak tahu,” tegasnya.

Dari informasi yang didapat bahwa para santi mendapat menu nasi, tauge di hari Sabtu. Kemudian hari Minggu mereka mendapat menu kacang panjang dan tempe.

“Jadi kalau mana nih makanannya, kita nggak tahu karena sampel makanan sudah nggak ada. Kita sampel muntahan. Kalau muntahan kan berarti sudah berbagai makanan ya. Jadi intinya faktor makanan atau faktor air atau apa ya nanti kita tunggu hasil lab-nya,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *