Jeritan Warga Bulak Barat : Hampir Tiga Tahun Hidup Terisolir Akibat Banjir Tak Kunjung Surut

Warga Kampung Bulak Barat terisolir

DEPOK- Lebih dari dua tahun warga Kampung Bulak Timur hidup terisolir. Pasalnya akses jembatan penghubung Bulak Timur dan Pasir Putih tidak dapat dilalui akibat genangan air yang tidak pernah surut selama dua tahun.

Nurjidah, salah satu warga mengatakan, selama tinggal 32 tahun dia sangat kesulitan karena terputusnya akses jalan akibat banjir bertahun-tahun.

“Sudah ada 2 tahun lebih,” katanya, Selasa (2/12/2025).

Menurutnya, banjir ini sebagai dampai dari longsoran sampah dari TPA Cipayung. Padahal akses jalan itu menjadi jantung kehidupan warga sekitar.

“Di sana TPA-nya longsor, di ujung sana. Jalan ini paling ramai dilewatin orang tapi sekarang ya mati karena banjir,” ujarnya.

Ketua RT 04/08, Kelurahan Cipayung, Naserih, mengatakan kondisi ini telah berlangsung lama dan semakin memburuk.

Sejumlah rumah dan bangunan usaha yang berada di area paling dekat dengan banjir sudah melalui proses pembebasan lahan, namun kondisi banjir membuat jalur masih tidak dapat digunakan.

“Kalau untuk lamanya ya sudah sekitar 3 tahun lah ya dan nggak bisa dilewatin buat menyebrang jembatan sebagai jalur alternatif. Jalan ini salah satu yang nomor satu sebenarnya di sini karena lebih dekat ya,” katanya.

“Yang untuk warga, kalau penghuni ada 2, kontrakan 5 pintu, berikut ruko ada 6, sama pabrik tahu 1, itu semua sudah dibebaskan. Cuma kalau buat lalu lintas jalan belum bisa digunakan karena masih banjir,” sambungnya.

Menurutnya, penyebab utama banjir sulit surut adalah penyempitan saluran air yang berdekatan dengan area pembuangan sampah.

Akibat penyempitan tersebut, banjir kini tidak hanya menutup satu titik, tetapi meluas ke area lain. Selain akses utama yang sudah lama terputus, kini jembatan lain juga terkena dampak banjir.

“Di ujung sana tuh yang dekat pembuangan sampah itu menyempit, kecil gitu maksudnya, salurannya nggak gede banget,” ungkapnya.

Penyempitan di lokasi tersebut membuat aliran air tersendat. Jembatan pun lama kelamaan terendam air.

“Jadi disitu penyempitannya membuat air lama surut. Jembatan yang kemarin aman-aman aja yang ke arah makam Cipayung, sekarang sudah ikut banjir juga kalau hujan intensitas tinggi. Berarti sudah dua jembatan dah itu hitungannya,” tukasnya.

Kondisi ini membuat warga harus mencari jalan lain dan berputar lebih dari 2 KM. Padahal jembatan tersebut adalah akses utama warga beraktivitas.

Dia dan warga lainnya berharap akses transportasi itu segera dipulihkan karena berdampak langsung pada ekonomi warga.

“Kalau dari warga sih, yang paling utama itu sebenernya jalur transportasi. Artinya gini, kalau jalur transportasi hidup, ekonomi juga gampang hidup disini kan,” harapnya.

Dia menyebut ia mendapat informasi bahwa perbaikan jembatan yang berada di jalan tersebut direncanakan dilakukan pada tahun 2026.

“Jadi kebanyakan warga tuh pengennya kalau bisa jembatan dulu lah, apa dirapihin dulu gitu,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *