DEPOK– Universitas Indonesia (UI) memasuki usia ke-76. Dalam usianya tersebut, UI menargetkan tembus dalam peringkat 100 universitas terbaik dunia.
Sebagai informasi, UI saat ini berada di peringkat 189 versi QS World University Ranking. Presiden RI, Prabowo Subianto menargetkan UI untuk bisa tembus peringkat 100 besar dunia.
Rektor UI, Prof. Heri Hermansyah mengatakan, pihaknya akan berupaya mencapai target tersebut. Pencapaian UI di jajaran 200 besar dunia sudah diapresiasi Presiden.
“Kita mendengar sendiri bahwa di laporan satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo, beliau menyampaikan apresiasi bahwa untuk pertama kalinya UI menjadi satu-satunya universitas yang berhasil menembus ranking 200 dunia,” katanya, Selasa (3/2/2026).
Namun untuk UI tidak mau berpuas diri di peringkat tersebut. UI berupaya untuk bisa masuk dalam peringkat 100 besar dunia sesuai arahan Presiden.
“Setelah breaking 200, langkah berikutnya adalah bagaimana caranya untuk breaking 100 seperti yang telah disampaikan oleh Bapak Presiden,” ujarnya.
Heri mengakui ada banyak hal yang harus dilakukan untuk mencapai target tersebut. Saat ini skor UI dalam kategori dampak riset (innovation impact) masih rendah sehingga harus dikejar.
Saat ini skor UI baru di 3,9. Skor ini jauh tertinggal dari universitas di Malaysia yang berada di rentang 10 hingga 40.
“Untuk menembus 100 universitas besar dunia, UI perlu mencapai skor sitasi minimal di angka 20,” tukasnya.
Oleh karena itu, dia mengatakan perlu adanya strategi perbaikan untuk meningkatkan dampak riset dan sitasi dengan berbagai langkah.
“Untuk meningkatkan dampak riset inovasi ini, ada beberapa hal yang harus kita lakukan berkaitan dengan SDM,” ungkapnya.
Rencananya, UI akan merekrut dosen yang memiliki rekam jejak riset kelas dunia dan hasil penelitian yang banyak disitasi.
Kemudian juga UI akan menyediakan fasilitas riset yang mendukung topik-topik frontier terkini.
”Selanjutnya meningkatkan tunjangan bagi peneliti agar mereka dapat fokus bekerja penuh waktu (full-time) tanpa harus mencari pekerjaan sampingan,” bebernya.
Dikatakan Heri, UI juga akan memperkuat kerja sama antara universitas lokal dengan internasional, serta sinergi dengan dunia usaha dan industri.
Dia mengakui bahwa saat ini riset yang dilakukan masih sebatas ‘katak dalam tempurung’. Artinya, tema riset ditentukan dosen dan dana berasal dari internal/pemerintah, sehingga hasilnya seringkali hanya berakhir di perpustakaan.
“Riset harus didasarkan pada masalah nyata di dunia industri. Perusahaan diharapkan mengalokasikan dana riset ke universitas agar terjadi interaksi antara dosen dan praktisi untuk menciptakan inovasi yang dapat langsung diterapkan,” pungkasnya.

