Karena dianggap tidak memperhatikan dengan serius nasib situs sejarah Rumah Cimanggis, Komunitas Sejarah Depok (KSD) kecewa atas pembangunan peletakan batu pertama Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

Pegiat KSD JJ Rizal mengatakan seharusnya sebelum peletakan batu pertama, nasib situs sejarah atau Rumah Cimanggis yang ada di kawasan tersebut harus sudah jelas.

Sebab selama ini pihaknya telah memperjuangkan terkait situs sejarah yang dinilai sangat penting tersebut. Adapun situs sejarah yang diperjuangkan itu antara lain:

1. Rumah Cimanggis diresmikan sebagai Cagar Budaya;

2. Rumah Cimanggis fungsinya disepakati bersama oleh UIII, Pemkot Depok dan KSD ke depan sebagai museum sekaligus ruang terbuka hijau dan biru;

3. Membentuk organisasi pengurusan Rumah Cimanggis dari unsur UIII, Pemkot Depok dan KSD yang mengelola keberadaan Rumah Cimanggis agar menjadi museum pertama di kota Depok sekaligus ruang publik yang dengan mudah dapat diakses oleh masyarakat.

Ironisnya, kata Rizal semua tuntutan yang sudah sejak lama diperjuangkan oleh KSD itu tidak ditanggapi.

Bahkan tuntutan pertama agar ditetapkan sebagai cagar budaya sampai hari ini tidak kesampaian.

Padahal sudah ada rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) sejak hampir tiga bulan lalu kepada Walikota Depok untuk menandatangani surat penetapan Rumah Cimanggis sebagai Cagar Budaya, tetapi walikotanya malah mengabaikan.

Padahal menurut UU No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya sudah sangat jelas ia bisa langsung tanda tangan, ironisnya malah tidak mau kecuali dapat surat Keputusan Presiden dulu.

Sementara dari pibak UIII, Kementerian Agama, dan Kepresidenan tidak ada dorongan sama sekali agar Rumah Cimanggis dapat ditetapkan menjadi Cagar Budaya.

Tampaknya setelah polemik ramai yang bahkan sampai melibatkan langsung Wakil Presiden JK dengan jajarannya yang berkepentingan dalam urusan pembangunan UIII tidak ada pengertian sama sekali akan pentingnya memperhatikan situs sejarah yang diamanatkan UU harus dijaga dan dirawat sebagai aset bangsa.

“Yang tampak hanya semangat membangun universitas termegah pusat peradaban Islam, tetapi nilai bahwa peradaban Islam sangat menghargai sejarah dan dekat sekali dengan sejarah, mengingat Al Quran isinya melulu sejarah, tidak dipahami dalam konteks situs sejarah Rumah Cimanggis penting diselamatkan karena nilai historisnya.”

Apalagi, kata Rizal. mengingat proyek ini adalah proyek pak Jokowi yang dalam setiap langkah pembangunannya mencita-citakan menjalankan amanah Nawacita dan butir ke delapan Nawacita jelas-jelas menyebut belajar dari sejarah.

“Atas dasar ini KSD berharap pak Jokowi memenuhi amanat Nawacita itu dengan selain meletakan batu pertama juga memerintahkan kepada Walikota Depok untuk segera menandatangani rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang sudah diabaikannya selama hampir tiga bulan belakangan ini, sehingga Rumah Cimanggis resmi menjadi cagar budaya.”

Otomatis memiliki perlindungan hukum yang kuat dan pasti. Sekaligus juga memerintahkan agar pihak UIII bersama masyarakat Depok dan pemerintahnya mencari jalan untuk membuat Rumah Cimanggis museum pertama di kota Depok yang sekaligus berfungsi sebagai ruang terbuka hijau yang mudah diakses publik.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi meletakkan batu pertama pembangunan kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Pembangunan kampus yang berlokasi di Cimanggis, Depok, itu menelan dana Rp 3,5 triliun.

“Setelah dihitung-hitung habisnya berapa, dilaporkan ke saya kurang lebih Rp 3,5 triliun dan sudah saya masukan ke proyek strategis nasional,” ujar Jokowi saat acara peletakkan batu pertama di kampus UIII Depok, Jawa Barat, Selasa seperti dikutip dai Detik.com, (5/6/2018).