Tips Dokter untuk Kaum Ibu Tingkatkan IQ Anak : Waktu Makan dan Minum Susu Jangan Berbarengan

Edukasi ADB di RS Andika

DEPOK–  Dalam proses tumbuh kembang anak, keperluan akan Zat Besi (Fe) yang cukup sangat diperlukan. Jika kurang Zat Besi maka tumbuh kembang anak terhambat, bahkan sampai menyebabkan penurunan Intelligence Quotient (IQ). Idealnya, anak usia 4 bulan hingga 2 tahun memerlukan asupan Zat Besi yang cukup untuk pertumbuhan.

Dokter Spesialis Anak dari Rumah Sakit Umum (RSU) Andika, Efrianty mengatakan, Zat Besi sangat dibutuhkan anak-anak untuk membantu perkembangan otak dan mencegah anemia.  Jika anak kekurangan zat besi, maka tak hanya berpengaruh bagi tumbuh kembangnya saja, tapi juga sisi kognitif atau kecerdasannya terganggu.

“Jadi ketika dia zat besinya kurang, maka yang ditakutkan adalah anak akan mengalami gangguan tumbuh kembang seperti gangguan motorik, bahasa juga akan mengganggu kognitif seperti perkembangan akademik yang kurang, konsentrasi, emosional, seperti itu,” kata Efrianty, Sabtu (16/8/2025).

Efrianty menyebut, sumber makanan yang mengandung Zat Besi terdapat dalam dua kategori yaitu hewani dan nabati. Zat besi hewani dapat diperoleh dari daging merah, seperti daging sapi dan kambing. Selain itu, makanan tinggi zat besi dapat diperoleh dari sumber makanan laut.

“Kemudian juga dari makan-makanan seperti seafood atau dari laut itu seperti kerang, kemudian ikan-ikanan seperti ikan tuna, ikan salmon ya,” ujarnya.

Untuk Zat Besi yang bersumber dari tumbuhan dapat diperoleh dengan mengkonsumsi kacang-kacangan. Seperti kacang merah, kemudian kacang hijau, produk-produk kedelai seperti tahu, tempe.

“Kemudian ada buah-buahan seperti pepaya, ada buah kurma, itu juga tinggi untuk zat besinya,” tukasnya.

Dalam mengomsumsi Zat Besi, ada hal yang harus diperhatikan. Orang tua harus memperhatikan kemampuan anaknya masing-masing.

“Jadi kalau untuk anak-anak kalau misalnya bisa mencukupi semua kebutuhan jenis makanan tadi, kita campurkan untuk semuanya ke dalam makanan itu dengan porsi yang disesuaikan dengan kebutuhannya,” ungkapnya.

Menurut Efrianty, waktu untuk memberikan zat besi juga harus diperhatikan jangan berbarengan saat menyusui.

“Kita sudah rekomendasikan tadi itu, jangan bersamaan dengan misalnya seperti teh ataupun kalsium (susu), karena teh dan kalsium dapat mengganggu penyerapan dari zat besi,” ungkapnya.

Efrianty merekomendasikan agar orang tua memberikan makanan dengan kandungan zat besi tinggi dengan makanan atau minuman bervitamin C.

“Kalau suplementasi zat besi berdasarkan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI itu menyarankan untuk zat besi diberikan dari usia 4 bulan sampai usia 2 tahun itu setiap hari, tanpa memandang status zat besinya,” ujarnya.

Sementara itu, Ahli Gizi dari RSU Andika, Nur Reeza Rizkyana, S. Gz. Dikatakan, Zat Besi memiliki fungsi penting dalam mengantarkan nutrisi ke seluruh tubuh.

“Tanpa zat besi, nutrisi yang masuk tidak bisa mencapai otak. Dampaknya, anak kesulitan konsentrasi, daya pikir menurun, dan prestasi akademik terganggu,” katanya.

Walau ADB berbeda dengan stunting, namun kekurangan Zat Besi juga bisa memicu terjadinya stunting pada anak. Dia menekankan bahwa pencegahan jauh lebih mudah daripada penanganan.

“Tetapi memang ketika kondisi sudah stunting itu justru membuat agak lebih sulit untuk penanganannya, sebetulnya lebih berperan dalam pencegahan. Jika anak sudah mengalami stunting, maka itu akan lebih sulit ditangani. Jadi memang penanganannya adalah pemberian zat besi di awal,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *