Terungkap, Kopi Tuku Beli Bahan Baku dari Outlet Kopi ‘Rumahnya Kopi Gayo’

Outlet Kopi 'Rumahnya Kopi Gayo'

DEPOK- Menjamurnya coffe shop di Depok ternyata menjadi ladan bisnis bagi distributor biji kopi. Potensi inilah yang dilirik oleh Fadlan Gemara, owner Owner Outlet Kopi ‘Rumahnya Kopi Gayo’.

Toko yang terletak di Jalan Boulevard GDC, Ruko Anggrek 1 Blok D/46 ini menyediakan berbagai biji kopi pilihan yang didatangkan langsung dari Aceh. Untuk harganya pun terhitung ramah di kantong. Sejumlah coffe shop banyak pun banyak yang membeli biji kopi dari Outlet Kopi ‘Rumahnya Kopi Gayo’, salah satunya adalah Kopi Tuku.

Fadlan Gemara menceritakan, ide membuka Outlet Kopi ‘Rumahnya Kopi Gayo’ di Depok bermula dari niatnya membantu petani kopi di daerahnya. Niat besarnya adalah memutus mata rantai tengkulak yang sangat merugikan petani.

Dengan tekad kuat, Fadlan pun berupaya membuka jalur distribusi sendiri. Dia membuka jaringan dan rantai pasok demi mensejahterakan petani kopi. Keuntungan yang didapat kemudian bisa dinimkati petani kopi, bukan oleh tengkulak.

“Saya coba menghimpun beberapa petani, terutama dari kalangan keluarga sendiri, untuk membuka pasar sendiri. Karena para petani ini kelemahannya adalah pasar atau marketnya dia nggak punya,” katanya di Outlet Kopi ‘Rumahnya Kopi Gayo’, Minggu (28/9/2025).

Bisnis yang digelutinya tidak main-main. Dirinya menjalani usaha ini dengan serius untuk mendapatkan biji kopi terbaik. Hasilnya pun tidak sia-sia. Kopi yang dijualnya berhasil tembus ke kancah internasional, salah satunya ke Timur Tengah. Untuk dalam negeri, Outlet Kopi ini sudah banyak mensuplai toko kopi ternama, salah satunya toko kopi Tuku.

“Kalau Tuku Kopi itu kita suplai bahan bakunya,” ungkapnya.

Fadlan menuturkan, jika ingin menjalin kerjasama dengan Outlet Kopi tak perlu khawatir akan kehabisan stok. Pasalnya ada 140 petani dengan luas kebun kopi 26ribu hektar dalam satu hamparan desa. Pohon kopi di ladangnya ditanam di lahan dengan  ketinggian 1.300 sampai 1.800 MDPL.

“Hasil yang bisa diolah dalam satu tahun itu 26ribu ton. Sekitar dua kali panen dalam satu tahun,” ceritanya.

Fadlan menyebut, untuk satu kilo biji kopi biasanya dijual ke tengkulak seharga Rp110ribu. Tapi dia berani membeli dengan harga lebih tinggi demi memberikan keuntungan lebih pada petani. Dia merasa bahwa petani harus sejahtera sehingga biji kopi yang dihasilkan pun tetap terjaga kualitasnya.

Saat ini konsumen tetapnya berasal dari berbagai daerah. Dia membuka outlet di Depok karena letaknya yang strategis berdekatan dengan Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi.

“Ya pertama karena saya domisi di Depok. Terus Depok ini juga termasuk sentranya kopi untuk di Jabodetabek ya,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *