Gambaran Kehidupan Terminal Disajikan oleh Lensa Anak Terminal di Festival Pengmas UI 2025

Lensa Anak Terminal di Pengmas UI 2025

DEPOK- Ada sudut menarik yang terlihat di area Perpustakaan Universitas Indonesia pada 1-3 Oktober 2025. Lensa Anak Terminal menyuguhkan gambaran sudut-sudut kehidupan yang mungkin luput dari pandangan banyak orang.

Foto-foto seperti tawa anak-anak di pinggir jalan, hiruk-pikuk terminal, dan potret sederhana dari kehidupan kota tersaji di sudut Lensa Anak Terminal.

Di balik karya itu, terdapat Setyo Manggala Utama, pendiri komunitas Lensa Anak Terminal, yang menjadi salah satu mitra dalam Festival Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia 2025.

Kehadiran Lensa Anak Terminal menghadirkan beberapa produk yang dikembangkan dari karya-karya seni para anak terminal, seperti stiker, kartu pos, perhiasan, dan lain sebagainya.

Karya dan kerja mereka membawa pesan bahwa edukasi, empati, dan kreativitas dapat menjadi jembatan bagi anak-anak dari kelompok marjinal untuk menemukan arah hidupnya.

“Festival ini jadi ruang pertemuan yang sangat penting. Melalui acara seperti ini, kami bisa memperluas jejaring dan menjembatani agenda pengembangan sosial di Kota Depok dengan Universitas Indonesia,” kata Setyo, Rabu (8/10/2025).

Lensa Anak Terminal didirikan pada tahun 2021, di tengah masa pandemi, berangkat dari kegelisahan pribadi Setyo. Sebagai alumnus Universitas Indonesia yang pernah aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa, ia kerap menyaksikan anak-anak berjualan tisu di sekitar kampus.

“Ironis rasanya. Kami dulu aktif mengadvokasi isu besar, tapi hal yang paling dekat seperti anak-anak di sekitar UI, justru belum tersentuh,” ujarnya.

Dari situ, muncul tekad untuk turun langsung. Ia mulai mendekati anak-anak yang bermain dan bekerja di kawasan Terminal Depok, memperkenalkan mereka pada kamera dan dasar-dasar fotografi. Kegiatan sederhana itu kemudian berkembang menjadi kelas vokasional kreatif visual, di mana anak-anak belajar bukan hanya cara memotret, tetapi juga bercerita melalui gambar.

Empat tahun berjalan, komunitas ini telah mencetak banyak prestasi. Karya anak-anak Lensa Anak Terminal telah dipamerkan di Jakarta International Photo Festival (JIPFest) selama empat tahun berturut-turut (2022–2025), serta turut meramaikan pameran foto di enam negara, antara lain Singapura, Malaysia, Jepang, Cina, Jerman, dan Inggris. Mereka juga telah menerbitkan tiga buku foto, salah satunya meraih penghargaan JIPFEST Photo Book Dummy Awards berdasarkan pilihan pengunjung.

Namun perjalanan itu tentu tak selalu mudah. Setyo mengakui ada tiga tantangan besar yang dihadapi, yaitu mempertahankan komitmen anak-anak agar tetap aktif, menghadapi dinamika sosial di lingkungan terminal, serta keterbatasan pendanaan.

“Kamera bukan alat yang murah, tapi kami tidak ingin semangat mereka padam hanya karena keterbatasan alat,” ujarnya.

Karena itulah, kesempatan tampil di Festival Pengabdian UI 2025 terasa begitu bermakna. Melalui booth pameran mereka, pengunjung dapat melihat bagaimana pendidikan kreatif visual bisa mengubah cara pandang terhadap anak-anak dari wilayah marginal. UI, melalui Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPIS), menjadi mitra yang memberi ruang untuk mempertemukan inisiatif sosial dengan dukungan akademik.

“Selama ini, Universitas Indonesia sering dipandang jauh dari masyarakat sekitar. Tapi kegiatan seperti festival ini membuktikan sebaliknya. Ada kemauan untuk membangun jembatan antara kampus dan masyarakat. Dan kami ingin menjadi bagian dari jembatan itu,” ucapnya.

Bagi Setyo dan anak-anak binaannya, tampil di festival ini bukan puncak, melainkan langkah lanjutan. Mereka ingin agar karya dan cerita anak-anak terminal tak berhenti di ruang pameran.

“Kami ingin masyarakat melihat mereka bukan sebagai anak jalanan, tapi sebagai generasi muda yang punya potensi besar,” pungkasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *