‘Kue Ijo’ Alternatif Takjil Khas Depok

Kue Ijo khas Depok

DEPOK- Hidangan berbuka puasa identik dengan kudapan manis, salah satunya adalah Kue Ijo khas Depok.

Kue berbahan dasar tepung, telur serta air daun suji dan pandan ini dibuat oleh seorang warga Depok yang memproduksi Green Snack di Beji Timur, Kecamatan Beji, Depok.

Sundus Balfas, pemilik usaha Green Snack mengatakan, dia mulai membuat kue ini sejak tahun 2007 merupakan cemilan sehat karena tanpa pengawet.

Mulanya dia melihat banyak daun suji serta pandan yang dibuang begitu saja. Dia pun berkreasi dengan mengolah sejumlah bahan menjadi Kue Ijo.

“Di Jakarta itu susah cari daun suji sama pandan. Di sini kok dibuang-buang? Saya bilang, ah saya mau coba bikin, mau jual,” katanya, Kamis (19/2/2026).

Awalnya dia membuat Kue Ijo untuk acara halal bihalal di Masjid Al-Barokah sebanyak 100 potong. Tak disangka, tamu undangan yang hadir senang dengan kue buatannya.

“Langsung saya bilang, saya jual,” ujarnya.

Saat awal produksi, Sundus menjual seharga Rp 1.000 per potong. Seiring waktu dan naiknya bahan dasar, kini harganya menjadi Rp4.000 per buah atau Rp100.000 per kotak isi 25.

Warna hijau cerah pada Kue Ijo berasal murni dari perasan daun suji dan pandan yang diproses secara alami tanpa tambahan pewarna buatan.

“Semua alami, tanpa bahan pengawet. Makanya kalau di luar tahan 24 jam. Kalau di kulkas bisa tiga sampai empat hari, bahkan ada yang simpan seminggu asal rapi,” tukasnya.

Bahan dasar Kue Ijo yaitu telur, gula pasir, susu kental manis, susu bubuk, vanila, garam, santan, terigu, dan maizena.

Mulanya, telur diaduk dan dicampur dengan sari suji dan pandan, kemudian menambahkan bahan kering dan santan sebelum disaring, dicetak, dan dikukus hingga matang. Kue Ijo kerap dibeli sebagai oleh-oleh maupun untuk menjenguk orang sakit.

“Yang nggak nafsu makan, makan ini,” jelasnya.

Pelanggan Green Snack sendiri berasal dari berbagai kalangan, mulai dari warga sekitar, instansi pemerintahan, jasa katering.

Produksi Kue Ijo bersifat fluktuatif tergantung pesanan. Pada momen Ramadan, permintaan meningkat signifikan hingga tiga hari menjelang Lebaran.

“Kalau kondisi ramai, produksi dapat mencapai 1.000 hingga 2.000 potong per hari,” katanya.

Sundus mengaku senang karena bisa memanfaatkan daun suji dan pandan yang sebelumnya terbuang kini justru dikumpulkan warga untuk disetorkan sebagai bahan baku.

Selain menanam sendiri untuk cadangan, Sundus juga memberdayakan masyarakat sekitar agar ikut merasakan manfaat ekonomi.

“Depok ini subur, pandan sama suji nggak masalah. Kalau di Jakarta susah,” bebernya.

Pelanggan setia yang tersebar hingga Padang dan Makassar menjadi motivasi untuk terus mempertahankan kualitas.

“Harapannya ke depan lebih maju, supaya bisa menambah lapangan kerja,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *