DEPOK– Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon mengklaim di Dewan Keamanan bahwa Hizbullah bertanggung jawab atas insiden-insiden yang melukai pasukan UNIFIL, termasuk yang menewaskan dua anggota pasukan asal Indonesia.
Bahkan Danny mengatakan bahwa IDF sama sekali tidak menembak di dekat pos terdepan.
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana mengatakan bahwa pernyataan tersebut sangat prematur mengingat penyelidikan baru akan dilakukan oleh UNIFIL.
Menurutnya, justru dengan pernyataan ini seolah Israel memang adalah pihak yang melakukan serangan dan sengaja menciderai Pasukan Perdamaian PBB.
“Israel seolah ingin menutupi sejak awal dengan pernyataan yang tidak didasarkan pada hasil investigasi dan bukti-bukti,” kata Hikmahanto, Rabu (1/4/2026).
Ia justru mengapresiasi pernyataan Dubes Indonesia untuk PBB, Umar Hadi yang menyatakan menolak apapun alasan yang disampaikan oleh Israel.
Indonesia di berbagai forum PBB, termasuk forum komite khusus Operasi Perdamaian PBB, menyampaikan dengan tegas Zero Tolerence for Atrack on Peacekeepers.
“Bahkan investigasi yang dilakukan oleh UNIFIL harus independen dan pada saatnya harus menyebut secara tegas siapa yang bertanggung-jawab sehingga tidak ada upaya mereka-reka atau melindungi pihak yang seharusnya bertanggung jawab,” tegasnya.
Hikmahanto menuturkan, ke depannya Indonesia harus meminta agar negara-negara dan pihak-pihak yang berkonflik untuk memberi perlindungan yang kuat bagi para penjaga perdamaian, dan bila ada yang menjadi korban dari suatu serangan tidak boleh dibiarkan tanpa akuntabilitas.
“Bila tidak ada jaminan, Indonesia harus nyatakan secara tegas Indonesia tidak akan berkontribusi pada Pasukan Perdamaian PBB di masa mendatang,” pungkasnya.

