Peringatan 11 Tahun Kematian Akseyna, Kali Ini Rektorat Ikut Aksi Simbolik di Danau Kenanga

Peringatan kematian Akseyna

DEPOK– Peringatan 11 tahun kematian Akseyna Ahad Dori alias Ace, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (MIPA UI) masih menjadi misteri.

Ace ditemukan tewas mengambang di Danau Kenanga UI, dekat Gedung Rektorat pada 26 Maret 2015.

Sejumlah saksi dan bukti sudah dikumpulkan penyidik, namun penyebab kematiannya hingga kini belum terungkap.

Setiap tahunnya, mahasiswa UI selalu memperingati tewasnya Akseyna dengan maksud agar kasusnya segera menemukan titik terang.

Peringatan kematian Ace selalu digelar di Danau Kenanga. Mahasiswa menggelar orasi dan menyalakan lilin sebagai tanda duka.

Kepala Departemen Aksi dan Propaganda BEM UI, Albani Ilmi mengatakan, mereka sempat ke kepolisian untuk menindaklanjuti perjanjian yang pernah terjadi di tahun 2024.

“Jadi di tahun 2024, BEM UI dan kepolisian serta rektorat juga pernah ada janji bahwa dari kepolisian akan memberikan SP2HP dalam waktu 3 bulan sekali,” katanya, Kamis (2/4/2026).

​Tetapi, pada faktanya hanya memberikan SP2HP itu hanya dua kali yaitu pada tahun 2022 dan kedua tahun 2024 ketika ada perjanjian di bulan Juli serta di bulan Oktober.

“Nah setelah itu tidak ada lagi SP2HP untuk sebagai niat baik lah mungkin keinginan dari Polres untuk memberitahu kita tentang perkembangan kasus Akseyna. ​Nah ketika kita mendesak pun di sana, ya terlihat mereka belum mengusut tuntas kasusnya,” ujarnya.

Untuk meminta agar kasusnya segera diungkap, mahasiswa mengadakan acara aksi simbolik. Mereka ingin mencari keadilan bagi keluarga korban juga.

“Bagaimana bisa gitu seorang mahasiswa dari kampus yang katanya nomor satu di Indonesia tapi bahkan tidak bisa menjamin ruang aman gitu. Walaupun memang sekarang ada iktikad baik dari rektorat untuk membersamai kami ikut mendesak Polres Depok untuk menyelesaikan dan mengusut tuntas kasus ini,” tegasnya.

Setiap tahunnya, peringatan kematian Akseyna selalu digelar di Danau Kenanga.

Hal itu bukan tanpa alasan. Karena di danau tersebutlah Akseya ditemukan.

“Aksi simbolik sekalian ini sih kita pengen mengingat karena Akseyna kebetulan meninggal di sini ya, di Danau Kenanga ini. Mayatnya ditemukan di sini, jadi kita mengingat memorial, aksi simbolik untuk mengingat mereka,” tambahnya.

Pada peringatan tahun ini, pihak rektorat ikut bersama mahasiswa untuk mendesak kepolisian segera mengungkap kasus ini.

“Ya, kami memang mendesak rektorat agar juga ikut mendesak kami untuk mendesak kepolisian,” ucapnya.

Dengan bergabungnya rektorat dalam peringatan tahun ini, Albani berpendapat bahwa rektorat sebagai mitra kritis mereka.

Menurutnya, itu sudah menjadi tanggung jawab rektorat untuk membantu mendesak kepolisian mengungkap tabir kematian Akseyna.

“Tanggung jawab dari rektorat sendiri ya tentang bagaimana mahasiswanya tuh ya meninggal di kampusnya sendiri, gitu. Ya tahun-tahun sebelumnya mungkin belum ada follow-up yang baik, cuma di tahun ini ada lah sedikit harapan ya. Cuma ya kita tetap terus membersamai, apakah rektorat kalau ikut terus membersamai kami untuk mendesak, kami akan ikut membantu,” pungkasnya.​

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *