DEPOK — Transformasi menuju ekonomi hijau tidak hanya mengubah cara perusahaan beroperasi, tetapi juga mendefinisikan ulang kompetensi yang harus dimiliki generasi muda.
Di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap talenta yang menguasai teknologi, keberlanjutan, dan literasi keuangan, Program Studi Administrasi Perkantoran, Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (Vokasi UI) melalui Himpunan Mahasiswa Administrasi Perkantoran (HIMORA) menyelenggarakan Office Administration Sharing in School (OASIS) 2026 di SMKN 8 Jakarta.
Diikuti oleh 70 siswa, enam dosen, dan 18 mahasiswa Vokasi UI, OASIS 2026 tidak sekadar memperkenalkan dunia administrasi perkantoran modern, tetapi membekali siswa dengan tiga kompetensi strategis yang diproyeksikan menjadi kebutuhan utama dunia kerja masa depan green jobs, transformasi digital, dan literasi keuangan berkelanjutan.
Melalui metode pembelajaran partisipatif berupa diskusi, simulasi, permainan edukatif, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test, para peserta memperoleh pemahaman mengenai bagaimana profesi administrasi berkembang dari pekerjaan administratif konvensional menjadi profesi strategis yang mendukung keberlanjutan organisasi.
Ketua Program Studi Administrasi Perkantoran Vokasi UI, Mila Viendyasari menjelaskan bahwa perubahan dunia kerja menuntut redefinisi terhadap kompetensi tenaga administrasi.
“Administrasi perkantoran saat ini tidak lagi identik dengan pengelolaan arsip dan surat-menyurat semata. Dunia kerja membutuhkan tenaga administrasi yang mampu mengintegrasikan teknologi digital, memahami prinsip keberlanjutan, serta memiliki kecakapan mengelola sumber daya secara efisien. Karena itu, OASIS hadir untuk memperkenalkan perubahan tersebut sejak para siswa masih berada di bangku SMK,” katanya, Minggu (26/7/2026)
Menurut Mila, penguatan literasi mengenai digital office, green office, green jobs, serta literasi keuangan menjadi investasi penting bagi generasi muda agar mampu beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan industri sekaligus berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.
Materi utama mengenai “Green Jobs and Green Office sebagai Implementasi Ekonomi Hijau di Indonesia” disampaikan oleh dosen Administrasi Perkantoran Vokasi UI, Radityo Kusumo Santoso.
Ia menjelaskan bahwa konsep green jobs tidak hanya terbatas pada profesi di bidang lingkungan hidup, tetapi juga mencakup berbagai pekerjaan yang berkontribusi mengurangi dampak lingkungan melalui inovasi proses kerja.
“Tenaga administrasi kini menjadi bagian penting dalam transformasi hijau organisasi. Mulai dari mengembangkan sistem paperless, mengelola dokumen digital, mengurangi konsumsi energi, mengelola limbah elektronik, hingga membantu penyusunan sustainability report perusahaan. Semua itu merupakan bentuk nyata kontribusi profesi administrasi terhadap pembangunan berkelanjutan,” katanya.
Radityo juga memperkenalkan berbagai profesi yang diproyeksikan tumbuh pesat dalam ekonomi hijau, seperti ESG Analyst, Sustainability Analyst, Carbon Accounting Specialist, Green Supply Chain Manager, Energy Auditor, hingga tenaga profesional di bidang produksi bersih dan pengelolaan limbah.
“Paparan tersebut selaras dengan berbagai kajian internasional yang menunjukkan bahwa transisi menuju ekonomi hijau tidak hanya menciptakan jenis pekerjaan baru, tetapi juga mentransformasi hampir seluruh profesi agar lebih berorientasi pada efisiensi sumber daya, pengurangan emisi, dan tata kelola berkelanjutan. Green investment sendiri dipandang sebagai mekanisme penting dalam mempercepat pencapaian ekonomi rendah karbon sekaligus membuka peluang kerja baru di berbagai sektor,” tambah Rienzy Kholifatur dari Yayasan Ruang Karya Berdampak (RKD), yang mendukung kegiatan ini.
Selain kesiapan memasuki dunia kerja, peserta memperoleh materi mengenai literasi dan inklusi keuangan dari Apriati Niningsi, Direktur Operasional PT BPR Sumber Artha Rahayu, melalui sesi bertajuk “Bijak Mengelola Uang, Cerdas Meraih Masa Depan.”
Dalam paparannya, Apriati menekankan bahwa akses terhadap layanan keuangan harus diiringi kemampuan memahami manfaat, risiko, serta konsekuensi dari setiap keputusan finansial.
“Menggunakan layanan keuangan bukan soal bisa atau tidak, tetapi soal memahami konsekuensinya. Rekening, dompet digital, investasi, maupun paylater akan menjadi alat yang bermanfaat apabila digunakan dengan literasi yang baik,” katanya.
Peserta dikenalkan pada konsep perencanaan keuangan jangka panjang, penyusunan dana darurat, pengelolaan utang, investasi, hingga risiko pinjaman daring ilegal dan penggunaan layanan buy now pay later.
“Penguatan literasi keuangan tersebut memiliki relevansi yang semakin besar di era ekonomi hijau. Sebuah penelitian terbaru mengenai Generasi Z menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan berpengaruh signifikan terhadap kemampuan anak muda mengambil keputusan investasi yang mendukung perusahaan berorientasi keberlanjutan. Semakin tinggi literasi keuangan seseorang, semakin besar kecenderungannya memilih keputusan finansial yang bertanggung jawab terhadap lingkungan maupun masyarakat,” seru Giri Lumakto, peneliti dari YRKD.
Kepala SMKN 8 Jakarta, Siti Rustini, M.Pd., menyambut baik kolaborasi tersebut.
“Kami mengapresiasi kehadiran Vokasi UI karena siswa memperoleh wawasan yang tidak hanya melengkapi pembelajaran di kelas, tetapi juga memperkenalkan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja saat ini. Green office, green jobs, digitalisasi administrasi, dan literasi keuangan menjadi bekal penting agar mereka mampu melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia profesional dengan lebih siap,” katanya.
Pelaksanaan OASIS 2026 turut mendukung berbagai agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya:
* SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kompetensi abad ke-21 dan pembelajaran kontekstual.
* SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) dengan memperkenalkan peluang kerja hijau dan kompetensi masa depan.
* SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui penguatan praktik digital office, paperless meeting, efisiensi energi, serta pengelolaan limbah elektronik.
Program ini juga selaras dengan semangat UI GreenMetric, yang mendorong perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga motor perubahan menuju budaya keberlanjutan melalui pendidikan, penelitian, dan praktik operasional yang ramah lingkungan.

