Persentase Kemiskinan Depok Turun, Tapi Jumlah Orang Miskin Malah Nambah. Kok Bisa?

DEPOK24JAM- Jumlah penduduk miskin di Kota Depok naik dari 62,6 ribu orang pada 2024 menjadi 63,4 ribu orang pada 2025, atau bertambah sekitar 850 orang. Padahal di saat yang sama, persentase kemiskinannya justru turun tipis dari 2,34 persen menjadi 2,31 persen.

Data ini bersumber dari publikasi Profil Kemiskinan Kota Depok 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Depok berdasarkan Susenas Maret 2025.

Angka 2,31 persen memang membuat Depok menjadi daerah dengan tingkat kemiskinan terendah di Jawa Barat. Namun, jika datanya ditelusuri lebih dalam, ada beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan.

Kenapa Persentase Turun Tapi Jumlah Orang Miskin Naik?

Ini menjadi paradoks paling menarik dari data BPS tahun ini.

Persentase penduduk miskin Depok turun 0,03 poin, dari 2,34 persen menjadi 2,31 persen. Namun secara jumlah absolut, penduduk miskin justru bertambah 0,85 ribu orang atau sekitar 850 jiwa.

Artinya, penurunan persentase bukan karena jumlah orang miskin berkurang. Justru jumlah warga yang hidup di bawah garis kemiskinan meningkat.

Persentase bisa turun karena total penduduk Kota Depok juga bertambah. Dengan kata lain, jika hanya melihat persentasenya memang terlihat turun, tetapi jika melihat jumlah orang yang benar-benar hidup dalam kemiskinan, angkanya justru meningkat.

Berapa Garis Kemiskinan Kota Depok 2025?

Garis Kemiskinan (GK) Kota Depok tahun 2025 tercatat sebesar Rp884.663 per kapita per bulan, naik 4,83 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp843.893.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan:

Wilayah Garis Kemiskinan 2025 (Per Kapita/Bulan)
Kota Depok Rp884.663
Nasional Rp609.160
Provinsi Jawa Barat Rp547.752

Garis Kemiskinan mencerminkan besarnya pengeluaran minimum yang dibutuhkan seseorang untuk memenuhi kebutuhan pokok makanan maupun nonmakanan selama satu bulan.

Semakin tinggi nilai GK, semakin tinggi pula biaya hidup minimum di wilayah tersebut.

  • Biaya hidup minimum di Depok sekitar Rp337 ribu lebih tinggi dibanding rata-rata Jawa Barat.
  • Biaya hidup minimum di Depok sekitar Rp275 ribu lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.

BPS juga mencatat bahwa sepanjang periode 2015–2025, Garis Kemiskinan Kota Depok secara konsisten berada di atas rata-rata Provinsi Jawa Barat maupun nasional.

Apakah Ketimpangan di Antara Warga Miskin Depok Membaik?

Tidak.

Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Kota Depok tahun 2025 tetap berada di angka 0,07, sama seperti tahun 2024.

Menurut BPS, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketimpangan pengeluaran di antara kelompok penduduk miskin belum mengalami perubahan.

P2 merupakan indikator yang menggambarkan tingkat ketimpangan pengeluaran di dalam kelompok masyarakat miskin. Semakin tinggi nilainya, semakin besar ketimpangan yang terjadi.

Karena nilainya tidak berubah, berarti belum ada perbaikan dari sisi pemerataan kondisi ekonomi masyarakat miskin.

Seberapa Lambat Penurunan Kemiskinan Depok Dibanding Daerah Lain?

Penurunan tingkat kemiskinan Depok tahun ini hanya sebesar 0,03 poin.

Sebagai perbandingan pada periode 2024–2025:

  • Provinsi Jawa Barat: turun 0,44 poin, setara sekitar 193,93 ribu orang keluar dari kemiskinan.
  • Nasional: turun 0,56 poin, setara sekitar 1,37 juta orang keluar dari kemiskinan.
  • Kota Depok: turun 0,03 poin, tetapi jumlah penduduk miskin justru bertambah sekitar 850 orang.

BPS dalam publikasinya juga menyebut bahwa perkembangan tingkat kemiskinan Kota Depok relatif stagnan di kisaran 2 persen selama beberapa tahun terakhir.

Bahkan, BPS menilai kajian yang lebih mendalam mengenai karakteristik penduduk miskin serta faktor penyebab kemiskinan di Kota Depok masih sangat diperlukan.

Apakah Warga Depok Rentan Jatuh Miskin Saat Krisis?

Data historis menunjukkan jawabannya iya.

Saat pandemi Covid-19 melanda:

  • 2019: 2,07 persen
  • 2020: 2,45 persen
  • 2021: 2,58 persen

Menurut BPS, angka tersebut hampir menyamai kondisi kemiskinan Kota Depok sekitar 18 tahun sebelumnya.

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) juga naik dari 0,24 pada 2019 menjadi 0,42 pada 2022. Sementara itu, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) meningkat dari 0,04 menjadi 0,10 pada periode yang sama.

Perkembangan P1 setelah pandemi juga belum stabil:

  • 2023: 0,24
  • 2024: 0,34
  • 2025: 0,31

Fluktuasi tersebut menunjukkan bahwa kondisi kelompok masyarakat termiskin di Kota Depok masih rentan terhadap tekanan ekonomi.

FAQ: Data Kemiskinan Kota Depok 2025

Berapa jumlah penduduk miskin di Kota Depok tahun 2025?

Sekitar 63,4 ribu orang, naik dari 62,6 ribu orang pada 2024 atau bertambah sekitar 850 orang, berdasarkan Susenas Maret 2025.

Berapa persentase penduduk miskin Kota Depok 2025?

2,31 persen, turun 0,03 poin dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 2,34 persen.

Berapa Garis Kemiskinan Kota Depok 2025?

Sebesar Rp884.663 per kapita per bulan, naik 4,83 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi yang tertinggi dibandingkan rata-rata Jawa Barat maupun nasional.

Apa itu Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)?

P2 merupakan indikator yang menggambarkan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin. Pada tahun 2025, nilai P2 Kota Depok tercatat 0,07, sama seperti tahun 2024.

Apa sumber data artikel ini?

Publikasi Profil Kemiskinan Kota Depok 2025 (Volume 5 Tahun 2025) yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Depok berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025.


Artikel ini disusun berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Depok. Seluruh angka dikutip dari publikasi Profil Kemiskinan Kota Depok 2025 tanpa penambahan data eksternal. Sumber: BPS Kota Depok, Profil Kemiskinan Kota Depok 2025 (Dirilis Desember 2025)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *