DEPOK- Sebanyak 300 karya seni pohon bonsai dari berbagai daerah dipamerkan dan dilombakan dalam ajang Festival Bonsai yang diselenggarakan oleh Komunitas Kampung Kita Depok (K3D). Festival Bonsai adalah yang pertama kali digelar pasca pandemi. Sejumlah seniman bonsai pun antusias mengikuti festival ini. Mereka berasal dari Jabodetabek dan luar kota seperti Bandung, Bengkulu serta Pulau Dewata.
Pembina K3D, Sungkowo Pudjodinomo atau Pakde Bowo mengatakan antusias pecinta bonsai saat ini masih tinggi. Buktinya ratusan seniman bonsai dari berbagai daerah berdatangan di Depok untuk ikut festival.
“Cukup antusias si pebonsai ini. Sehingga sampai jumlah seperti yang saya sampaikan tadi. Artinya bahwa kegiatan seperti ini cukup bergairah kembali. Kami ingin menghidupkan kembali gairah teman-teman pebonsai,” katanya, Minggu (4/5/2025).
Dia pun berharap, ada dukungan yang diberikan Pemerintah Kota Depok khususnya dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) bersama Disporyata untuk terus berkolaborasi dengan K3D.
“Harapannya ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi warga untuk datang ke Depok dan melihat aneka pohon bonsai yang ada di sini,” uajrnya.
Di tempat yang sama, Gunardi selaku juri mengatakan dari acara ini diharapkan bisa membentuk Depok sebagai salah satu sentra bonsai. Komunitas bonsai sudah ada sejak tahun 2014. Namun sempat terhenti aktivitasnya akibat pandemi. Setelah pandemi, kata dia itu momentum titik balik. Dia menekankan pentingnya memahami esensi bonsai, bukan hanya dari segi keindahan tetapi juga makna filosofis dan kedekatannya dengan alam. Itu karena, tambah Gunardi, bonsai bukan sekadar hobi, tapi juga bentuk kontemplasi dan pelestarian.
“Kriteria bonsai unggul bukan hanya tentang bentuk indah, tapi bagaimana dia mampu meniru pohon tua di alam sesuai dengan style yang diusung,” katanya.
Bonsai yang diikutsertakan dalam kontes banyak yang berukuran kecil hingga mini. Alasannya adalah inklusivitas, agar pemula atau masyarakat umum pun bisa terjangkau untuk ikut menanam dan memelihara bonsai.
“Tidak semua orang bisa membeli bonsai besar, jadi kita fasilitasi peminat bonsai mini agar bisa ikut serta,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Abdul Rahman mengatakan, karya seni bonsai yang ditampilkan sudah setara dengan kelas dunia. Dia pun mengaku akan memberikan dukungan, baik dari sisi tempat, promosi, maupun fasilitas. Direncanakan, K3D akan menjadi showroom bonsai. Menurutnya, bonsai merupakan wujud nyata dari filosofi konservasi.
“Yang jelas dari DLHK terkait dengan komunitas ini tentu pertama, ini kan merupakan lokasi dari K3D gitu. Harapannya kita nanti akan punya semacam showroom ya, bukan hanya pada saat kontes, tetapi keseharian juga bisa dinikmati, bonsai itu filosofi. Ketika kita merancang sebuah desain bonsai ini mau jadi bentuk seperti apa? Ini kan artinya kita mempelajari alam gitu. Di dalam konteks lingkungan hidup mempelajari alam itu lebih utama daripada alam yang akan memberikan pelajaran kepada kita,” katanya.

