BPTJ Gelar Bimbingan Teknis Tata Cara Pengereman Kendaraan Angkutan

35

DEPOK24JAM,- Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Tata Cara Pengereman Kendaraan Angkutan Berat (Barang dan Penumpang) bertempat di Lido, Kabupaten Bogor.

Acara yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2022 diikuti oleh 18 peserta dari berbagai perusahaan operator angkutan barang dan penumpang di Jabodetabek. Kegiatan saat ini merupakan kegiatan yang ke-3 kalinya diselenggarakan oleh BPTJ, dimana sebelumnya pada tahun 2021 BPTJ pernah menyelenggarakan 2 kali kegiatan yang sama.

Direktur Angkutan BPTJ Tatan Rustandi menyebutkan bahwa  kegiatan ini merupakan langkah konkret BPTJ dalam mengimplementasikan amanat Perpres No 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ) khususnya penjabaran dari Pilar I yaitu kebijakan Peningkatan Keselamatan dan Keamanan Transportasi Perkotaan. 

Sekaligus kegiatan ini juga merupakan upaya nyata Pemerintah dalam memberikan pembinaan tentang bagaimana mewujudkan keselamatan (jalan) dan mengelola resiko kecelakaan sebagaimana termuat pada Peraturan Pemerintah No 37 Tahun 2017 tentang Keselamatan LLAJ. 

Dalam pelaksanaan kegiatan ini BPTJ melibatkan dukungan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), MIROS (Malaysia Institute of Road Safety Research) serta KyFu sebuah kelembagaan konsultan di bidang manajemen keselamatan berkendara, peningkatan kompetensi pengemudi dan pelatihan tanggap darurat kecelakaan lalu-lintas

“Bimbingan teknis ini bermanfaat bagi awak kendaraan untuk memberikan pemahamanan tentang bagaimana cara melakukan pengereman yang berkeselamatan pada kendaraan angkutan berat baik barang maupun penumpang,” jelas Tatan. 

Menurut Tatan seringkali terjadi kecelakaan  lalulintas jalan yang disertai fatalitas disebabkan karena ketidakmampuan pengemudi angkutan barang dan penumpang dalam melakukan prosedur pengereman yang benar pada kendaraannya. “Kondisi ini menyebabkan resiko kecelakaan menjadi besar terutama ketika menghadapi medan jalan yang menurun atau menanjak,” kata Tatan.

Data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebutkan dari hasil investigasi kasus 58 kecelakaan jalan yang dilakukan pada tahun 2017 – 2021  diketahui penyebab kecelakaan tertinggi adalah faktor manusia sebanyak 37 kecelakaan, menyusul faktor sarana (kendaraan) sebanyak 20 kecelakaan dan faktor prasarana sebanyak 1 kasus kecelakaan. 

Ahmad Wildan, investigator senior KNKT yang juga menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan ini secara khusus menyebutkan investigasi KNKT terhadap kecelakaan jalan sering menemukan penyebab kecelakaan dengan pola yang sama yaitu kesalahan pengemudi melakukan prosedur pengereman di jalan menurun. Selain itu juga sering ditemui kondisi substandard pada sistem rem kendaraan sehingga saat terjadi kesalahan prosedur pengereman akan mempercepat terjadinya kegagalan pengereman.

Oleh karena itu Tatan menegaskan bahwa dalam konteks penyelenggaraan angkutan umum baik penumpang maupun barang BPTJ dengan dukungan KNKT selalu mendorong pengemudi angkutan umum dan operator angkutan umum untuk memenuhi standar keselamatan dengan menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan (SMK) Perusahaan Angkutan Umum. 

Salah satu upaya untuk merealisasikan hal tersebut, lanjut Tatan adalah dengan peningkatan kapasitas SDM transportasi dan pengguna jalan yang berkeselamatan berupa pelaksanaan bimbingan teknis berkendara yang berkeselamatan untuk pengemudi angkutan umum.

Teori dan Praktek

Untuk menjamin peserta benar-benar dapat menguasai dan menerapkan pengetahuan yang didapat pada praktek kerja sehari hari, bimbingan teknis dilakukan baik melalui penyampaian materi secara teori maupun praktek langsung di lapangan. 

Materi teori diberikan pada hari pertama meliputi Tata Cara Mengemudi yang Berkeselamatan kemudian dilanjutkan dengan teori Pengereman serta ditutup dengan materi tentang Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan. Pada hari kedua satu per satu peserta diberikan kesempatan berpraktek langsung mengemudikan truk 3 sumbu dengan beban kurang lebih 23 ton, sekaligus mempraktekkan tata cara inspeksi kendaraan serta praktek pengereman yang benar pada kontur jalan menurun.

“Dengan pendekatan seperti ini, pelatihan yang dilakukan BPTJ diharapkan dapat memutus hazard penyebab kegagalan pengereman pada angkutan truk dan bus,” jelas Wildan. 

Hal ini menurut Wildan karena para peserta mendapatkan pengetahuan sekaligus keterampilan tentang bagaimana melakukan pemeriksaan kendaraan sebelum beroperasi untuk memastikan kondisi kendaraan sesuai standar teknisnya termasuk pada sistem pengereman. Selanjutnya peserta juga mendapatkan pengetahuan dan keterampilan melaksanakan prosedur mengemudi di jalan menurun.

Ade Mulyadi seorang pengemudi perusahaan bus yang menjadi salah satu peserta bimbingan teknis menyebutkan bahwa dirinya sangat terbantu karena sebelumnya sama sekali belum pernah mendapatkan pengetahuan dan keterampilan pengereman seperti yang diajarkan. 

Sementara Ahmad Amirudin yang kesehariannya adalah pengemudi kendaraan angkutan barang menyebutkan meskipun dirinya sebelumnya pernah mengikuti berbagai pelatihan tentang keselamatan, namun belum pernah mendapatkan materi seperti dalam penyelenggaran bimbingan teknis kali ini. 

“Dengan adanya bimbingan teknis ini diharapkan peserta nantinya akan mampu menjadi agen perubahan di perusahaan masing masing dengan cara menyebarluaskan ilmu dan keterampilan yang diperoleh  sehingga berdampak pada berkurangnya accident di jalan, “kata Tatan. 

Untuk itu Tatan mengucapkan terima kasih kepada 18 perusahaan operator angkutan swasta/BUMN/BUMD di Jabodetabek yang telah bersedia mengirimkan awak kendaraan pada bimbingan pelatihan tersebut.

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

depok24jam