DEPOK– Nasib pekerja Hotel Bumi Wiyata Depok diujung tanduk. Sudah berbulan-bulan mereka tidak digaji perusahaan tanpa alasan yang jelas.
Mereka pun harus memutar otak agar tetap bertahan hidup. Mulai dari mengojek hingga akhirnya terjerat pinjaman online (pinjol).
Hal itu dilakukan karena mereka tidak ada pilihan lain. Pasalnya dapur rumah tangga masing-masing harus tetap ngebul dan membayar uang sekolah. Bulan Juni adalah bulan terberat bagi mereka karena memasuki tahun ajaran baru di kalender pendidikan.
Ketua Pengurus Komisariat (PK) FSB KAMIPARHO Hotel Bumi Wiyata, PT Bumi Putera Wisata, Muhamad Soleh, mengatakan bahwa ada 104 karyawan di hotel tersebut yang gajinya belum dibayar. Berbagai cara dilakukan pekerja untuk tetap bisa makan dan bertahan hidup.
“Ya mau nggak mau mereka mungkin diawali dengan meminjam tetangga, saudara. Tapi dengan dengan segitu lamanya 7 bulan ini kan, ya saudara juga kagak mungkin istilah kata men-support terus. Akhirnya mereka mau tidak mau, ya kan, meminjam melalui pinjol, yang memang sangat mudah dan cepat,” katanya, Selasa (14/7/2026).
Diperkirakan ada 20 pekerja yang terlibat pinjol. Cara itu terpaksa dilakukan karena mereka tidak ad pilihan lain.
“Nah, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu dan akhirnya, ya dengan permasalahan yang berlarut-larut terkait upah yang belum diberikan, ya akhirnya tertunggak-tunggak,” ujarnya.
Sejumlah penagih utang (debt collector) kerap menghubungi pihak hotel untuk menanyakan sejumlah status karyawan yang terjerat pinjol.
“Nah, dampak akibat dari tertunggak itu, DC-DC sering telepon ke operator gitu loh, menanyakan si karyawan tuh,” ungkapnya.
Selain itu, dampak yang dirasakan pekerja adalah banyak yang terganggu kesehatannya. Soleh menuturkan, dampak dari belum dibayarkan hak pekerja sangatlah mengerikan.
“Nah itulah laporan yang kita terima akhirnya, ya ternyata dampak dari ini bukan hanya kesehatan ya terganggu. Tapi memang akibatnya, ya ini terjerat pinjol, gitu. Kan sangat sangat sangat mengerikan gitu loh,” tukasnya.
Hari ini puluhan pekerja turun ke jalan menuntut hak mereka agar segera dibayarkan berbulan-bulan. Diperkirakan total tunggakan perusahaan yang harus dibayarkan ke karyawan sebesar Rp 4 miliar.
Soleh mengatakan, ada 104 karyawan di hotel tersebut yang gajinya belum dibayar. Mereka juga meminta penyesuaian upah tahun 2026 sesuai dengan SK Gubernur Jawa Barat tahun 2025 yang belum dilaksanakan oleh manajemen.
“7 bulan itu di bulan Maret 2025, terus April 2025, Februari 2026, Maret 2026, April 2026, Mei 2026, dan Juni 2026 dan sekarang sudah memasuki Juli, Juli pun itu belum ada tanda-tanda. Belum ada tanda-tanda hak kami akan diberikan dan mungkin akan bertambah lagi,” tegasnya.
Soleh menuturkan, upaya negosiasi sudah dilakukan dan mencari solusi bersama-sama. Namun mereka heran kenapa manajemen masih belum menyelesaikan kewajiban pada karyawan.
“Tolong perbaiki kinerja atau manajemen ini untuk lebih baik, untuk peningkatan revenue-nya bagaimana agar bulan berjalan ini dibayarkan sesuai dengan ketentuan, gitu loh. Tapi kenyataannya memang suara kita, aspirasi kita, usulan-usulan kita tidak tidak pernah dilaksanakan oleh manajemen, tidak pernah didengarkan oleh manajemen,” ujarnya.
Kendati belum membayar gaji, namun pihak manajemen tetap meminta agar aktivitas hotel tetap berjalan.
“Jadi kemarin kita sudah minta data dari manajemen itu sekitar kurang lebih Rp 4 miliar untuk seluruh tunggakan. Iya, hotel masih tetap berjalan karena itu permintaan dari manajemen,” ungkapnya kesal.
“Jadi, kita dipaksakan untuk hotel ini tetap berjalan, gitu. Tapi tidak ada upaya atau langkah-langkah strategis yang dilakukan oleh pihak manajemen untuk mengatasi kebutuhan operasional, tidak ada upaya,” pungkasnya.

