DEPOK24JAM – PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk. (ISAT) mencatat penurunan jumlah pelanggan seluler pada semester I/2026. Hingga 30 Juni 2026, operator telekomunikasi tersebut melayani sekitar 93,4 juta pelanggan, turun dibandingkan 95,4 juta pelanggan pada periode yang sama tahun lalu. Di tengah penyusutan basis pelanggan tersebut, perseroan justru membukukan pertumbuhan laba dan pendapatan yang solid.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, laba periode berjalan melonjak 75,9% menjadi Rp4,42 triliun dari Rp2,51 triliun pada semester I/2025. Sementara itu, pendapatan meningkat 13,1% menjadi Rp30,65 triliun dibandingkan Rp27,11 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Jumlah Pelanggan Menurun, Perseroan Fokus pada Kualitas
Manajemen Indosat dalam keterangan resmi, mengatakan perseroan terus menjalankan strategi transformasi menjadi AI TechCo guna menciptakan nilai jangka panjang bagi pelanggan, pemegang saham, dan Indonesia.
Penurunan jumlah pelanggan tidak serta-merta mencerminkan pelemahan bisnis. Sebaliknya, Indosat berhasil meningkatkan kualitas basis pelanggannya. Hal tersebut tercermin dari kenaikan average revenue per user (ARPU) sebesar 17,3% menjadi Rp46 ribu.
Selain itu, trafik data tumbuh 19,9% menjadi 9.892 petabyte (PB). Peningkatan tersebut menunjukkan pelanggan menggunakan layanan digital dengan intensitas yang lebih tinggi sehingga mampu memberikan kontribusi pendapatan yang lebih besar bagi perusahaan.
Laba Melonjak Berkat Efisiensi dan Pertumbuhan Pendapatan
Peningkatan kualitas pelanggan turut mendorong perbaikan profitabilitas. Laba usaha Indosat naik 49,3% menjadi Rp7,74 triliun.
Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 84,5% menjadi Rp4,31 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan menunjukkan perusahaan mampu menjaga efisiensi operasional di tengah kompetisi industri telekomunikasi yang masih ketat.
Kontributor terbesar pendapatan masih berasal dari bisnis seluler. Perseroan juga memperoleh dukungan dari segmen Multimedia, Komunikasi Data, dan Internet (MIDI) serta layanan telekomunikasi tetap yang terus bertumbuh selama semester pertama tahun ini.
Investasi Jaringan Terus Berlanjut
Di tengah pertumbuhan kinerja keuangan, Indosat tetap melanjutkan investasi untuk memperkuat infrastruktur jaringan.
Sepanjang semester I/2026, perseroan merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp9,52 triliun. Sebanyak 57,1% dari total capex dialokasikan untuk memperkuat bisnis seluler, sedangkan sisanya digunakan untuk pengembangan bisnis MIDI dan telekomunikasi tetap.
Hingga akhir Juni 2026, Indosat mengoperasikan sekitar 214 ribu BTS 4G dan lebih dari 10 ribu BTS 5G. Jumlah BTS 5G meningkat lebih dari sebelas kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menunjukkan agresivitas perusahaan dalam memperluas jaringan generasi kelima guna mendukung pertumbuhan konsumsi data di masa mendatang.
Posisi Kas Menguat, Utang Tetap Perlu Dicermati
Dari sisi neraca, posisi kas dan setara kas Indosat meningkat menjadi Rp15,78 triliun pada akhir Juni 2026.
Perseroan memiliki total utang pokok sebesar Rp18,54 triliun, sehingga utang bersih berada di kisaran Rp2,75 triliun. Dengan dukungan kas yang kuat, perusahaan masih memiliki ruang untuk melanjutkan ekspansi jaringan sekaligus memenuhi kewajiban utang yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan.
Meski demikian, peningkatan utang serta penurunan jumlah pelanggan tetap menjadi faktor yang akan diperhatikan investor pada paruh kedua tahun ini.
Prospek Semester II/2026
Ke depan, tantangan utama Indosat adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan profitabilitas dan peningkatan jumlah pelanggan.
Strategi yang saat ini dijalankan menunjukkan perusahaan mulai berfokus pada pelanggan dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Hal itu tercermin dari kenaikan ARPU, pertumbuhan trafik data, serta lonjakan laba bersih yang melampaui pertumbuhan pendapatan.
Investor akan mencermati apakah strategi tersebut mampu dipertahankan pada semester II/2026, terutama di tengah persaingan industri telekomunikasi yang semakin ketat dan kebutuhan investasi jaringan yang terus meningkat.

