DEPOK24JAM- PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) menghadapi tekanan cukup berat pada kinerja keuangan semester I 2026. Pendapatan perseroan merosot tajam, sementara laba yang sebelumnya masih dicatat pada periode yang sama tahun lalu berbalik menjadi kerugian.
Berdasarkan laporan keuangan interim PT Harta Djaya Karya Tbk untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026, perseroan membukukan pendapatan sekitar Rp6,37 miliar. Angka ini anjlok 79,5% dibandingkan pendapatan semester I 2025 yang mencapai Rp31,07 miliar.
Laporan tersebut merupakan laporan keuangan PT Harta Djaya Karya Tbk dengan kode saham MEJA untuk periode Januari-Juni 2026. Perseroan tercatat berada di sektor barang konsumen siklikal, subsektor household goods, dengan industri home furnishings.
Pendapatan Anjlok Hampir 80%
Penurunan pendapatan menjadi persoalan utama dalam kinerja MEJA sepanjang enam bulan pertama 2026.
Pada semester I 2025, pendapatan perseroan masih mencapai Rp31,07 miliar. Namun, pada periode yang sama tahun ini, pendapatan hanya sekitar Rp6,37 miliar.
Artinya, terjadi penurunan sekitar Rp24,70 miliar hanya dalam satu tahun.
Secara persentase, pendapatan MEJA merosot sekitar 79,5% secara tahunan.
Penurunan pendapatan tersebut kemudian memberikan tekanan langsung terhadap kemampuan perseroan menghasilkan laba.
Dari Laba Rp988 Juta Jadi Rugi Rp8,88 Miliar
Tekanan pendapatan membuat kinerja bottom line MEJA berubah drastis.
Pada semester I 2025, perseroan masih membukukan laba bersih Rp988,78 juta. Namun, pada semester I 2026, MEJA justru mencatat rugi bersih Rp8,88 miliar.
Dengan demikian, terjadi perubahan kinerja sekitar Rp9,87 miliar secara tahunan.
Jika dilihat secara sederhana, setiap Rp100 pendapatan yang diperoleh MEJA pada semester I 2026 menghasilkan kerugian sekitar Rp139 setelah seluruh beban diperhitungkan.
Kondisi ini menunjukkan persoalan MEJA pada semester I 2026 bukan hanya penurunan penjualan, tetapi juga tekanan terhadap profitabilitas.
Aset Naik, Ekuitas Ikut Menguat
Di tengah penurunan pendapatan, posisi aset MEJA justru meningkat.
Total aset perseroan per 30 Juni 2026 mencapai sekitar Rp118,15 miliar, naik dari Rp88,71 miliar pada akhir 2025.
Kenaikannya mencapai sekitar Rp29,44 miliar atau 33,2%.
Ekuitas juga meningkat cukup signifikan. Per 30 Juni 2026, total ekuitas tercatat Rp90,73 miliar, dibandingkan Rp63,59 miliar pada 31 Desember 2025.
Artinya, meski perseroan membukukan rugi pada semester I 2026, struktur permodalannya masih menunjukkan peningkatan dibandingkan posisi akhir tahun lalu.
Utang Berbunga Justru Turun
Dari sisi utang, terdapat perkembangan yang relatif positif.
Data laporan keuangan menunjukkan total utang berbunga MEJA terdiri dari utang jangka pendek sekitar Rp8,5 miliar dan utang jangka panjang sekitar Rp2,4 miliar pada 30 Juni 2026. Dengan demikian, total utang berbunga berada di kisaran Rp10,9 miliar.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2025, ketika utang jangka pendek tercatat sekitar Rp24,1 miliar dan utang jangka panjang sekitar Rp974,7 juta.
Dengan demikian, secara kasar utang berbunga MEJA turun lebih dari 50% dibandingkan akhir 2025.
Rasio utang terhadap ekuitas juga relatif rendah, sekitar 0,12 kali berdasarkan data semester I 2026.
Kas Masih Sekitar Rp30 Miliar
Posisi kas juga menjadi salah satu penyangga neraca perseroan.
Kas dan setara kas pada akhir semester I 2026 tercatat sekitar Rp30,30 miliar. Angka tersebut relatif tidak berubah dibandingkan posisi akhir 2025 yang berada di kisaran Rp30,3 miliar.
Dengan posisi kas tersebut, MEJA masih memiliki likuiditas yang cukup besar jika dibandingkan dengan utang berbunga sekitar Rp10,9 miliar.
Namun, tantangan yang perlu diperhatikan adalah kemampuan perseroan untuk kembali menghasilkan pendapatan dan laba dari kegiatan operasionalnya.
Tantangan MEJA Bukan Sekadar Utang
Jika melihat laporan keuangan secara keseluruhan, persoalan utama MEJA pada semester I 2026 bukan berada pada besarnya utang.
Justru, utang berbunga mengalami penurunan. Kas masih sekitar Rp30 miliar dan ekuitas meningkat menjadi Rp90,73 miliar.
Masalah terbesar berada pada sisi bisnis. Pendapatan anjlok hampir 80% dan kondisi tersebut membuat perseroan berbalik dari laba menjadi rugi.
Dengan demikian, pekerjaan rumah terbesar MEJA adalah mengembalikan pertumbuhan pendapatan sekaligus memperbaiki margin usaha. Tanpa pemulihan pendapatan, posisi kas dan rendahnya utang saja belum cukup untuk mengembalikan perseroan ke zona laba.
Sebagai konteks, MEJA sebelumnya juga mengalami tekanan berat pada 2025. Pendapatan setahun penuh turun menjadi Rp28,07 miliar dari Rp47,15 miliar pada 2024 dan perseroan membukukan rugi bersih Rp21,61 miliar.
Semester I 2026 menunjukkan bahwa tekanan terhadap bisnis MEJA masih berlanjut, bahkan penurunan pendapatan menjadi jauh lebih dalam.
Ringkasan Kinerja MEJA
| Indikator | Semester I 2026 | Semester I 2025 |
|---|---|---|
| Pendapatan | Rp6,37 miliar | Rp31,07 miliar |
| Laba/rugi bersih | Rugi Rp8,88 miliar | Laba Rp988,78 juta |
| Total aset | Rp118,15 miliar* | Rp88,71 miliar** |
| Total ekuitas | Rp90,73 miliar* | Rp63,59 miliar** |
| Utang berbunga | ±Rp10,9 miliar* | ±Rp25,1 miliar** |
| Kas & setara kas | Rp30,30 miliar* | Rp30,30 miliar** |
*Kondisi per 30 Juni 2026.
**Kondisi per 31 Desember 2025.
Sumber utama: laporan keuangan PT Harta Djaya Karya Tbk dan data kinerja semester I 2026.

