DEPOK –Menteri Lingkungan Hidup (LH), Jumhur Hidayat mengungkap bahwa kondisi danau di Indonesia kotor.
Hal itu terjadi akibat polusi air yang luar biasa. Salah satu penyebabnya adalah bisnis keramba ikan.
“Ya, keramba ikan karena pakan ternak itu bisa sampai bermeter-meter tuh numpuk bertahun-tahun. Membusuk dan ikannya juga enggak produktif lagi sebetulnya. Dan masyarakat banyak yang enggak bisa menikmati itu. Jadi enggak fair juga,” katanya saat peringatan Hari Danau Sedunia di Universitas Indonesia (UI), Depok, Kamis (27/8/2026).
Ditegaskan bahwa danau adalah milik bersama, sayangnya sebagian dipakai untuk bisnis dan kemudian mencemari yang lain.
Ia pun menegaskan harus ada tindakan terhadap pencemaran danau.
“Nah, selama ini selalu bingung. Nah, kita baru ingin meng-eksersise ya, tadi udah diobrolin dan mudah-mudahan ini bisa jalan. Artinya, mau tidak mau danau itu harus di-restore, dibersihkan, ya,” ujarnya.
Jumhur menegaskan akan meminta investor yang melakukan usaha tersebut untuk menanggung biaya hidup pekerja yang terpaksa harus istirahat karena pembersihan danau.
“Orang yang sudah kadung dapat makan dari situ, kita cek siapa yang dapat makan dari situ. Ternyata pekerja-pekerja yang di keramba itu. Nah, berapa gaji mereka? Berapa pendapatan mereka? Itu harus kita hitung. Kalau dia sebulan dua bulan beristirahat, dia harus dibayar berapa, misalnya begitu. Nah, siapa beban yang kita berikan? Beban itu kita berikan kepada orang investornya. Karena investor itu yang paling banyak menikmati. Itu sampai ratusan miliar lho si investor itu dapat untungnya dari bisnis ini. Untungnya besar, mencemari, dan yang lain susah,” tegasnya.
Jumhur menegaskan akan mengambil alih jika ada investor yang menolak kebijakan tersebut.
Menurutnya masih banyak investor yang bisa bekerja dengan cara yang lebih memulihkan manusia, memulihkan danau, memulihkan lingkungan.
Dikatakan bahwa, saat ini zamannya orang cari duit bisa kaya raya dengan cara juga memuliakan bumi, memuliakan lingkungan.
“Kalau orang mau cari duit kemudian mengorbankan lingkungan, mengorbankan masyarakat, ah itu udah kuno lah. Itu udah minggir aja dari Indonesia orang-orang kayak gitu,” ungkapnya.
Di tempat yang sama, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Air, Retno Marsudi mengatakan, terkait dengan peringatan Hari Danau Sedunia tidak hanya dimaknai secara seremoni saja.
Ia meminta semua pihak untuk mengambil langkah nyata dalam pelestarian lingkungan.
“Yang ingin saya sampaikan adalah bukan hanya penetapan dari Hari Danau tersebut, tetapi bagaimana kita memaknainya, bagaimana kita take action untuk memproteksi dan juga untuk mengelola secara berkelanjutan danau-danau ini. Kenapa danau penting? Saya tadi sampaikan bahwa danau ini merupakan salah satu sumber air,” katanya.
Retno menuturkan, jika bicara mengenai air maka kita menghadapi sebuah tantangan yang sangat besar mengenai masalah air dunia.
Hal ini juga akan dibahas dalam konferensi PBB. Tantangan yang dihadapi danau-danau di dunia pasti beragam, tetapi ada satu goal yang sama, yaitu adalah memproteksi dan mengelola secara sustainable.
“Caranya bagaimana? Dengan kerja sama. Kerja sama ini terus kita dorong, termasuk di antaranya tentunya kerja sama internasional. Kita terus dorong kerja samanya di bidang misalnya, di bidang capacity building dari masing-masing negara,” tegasnya.Men

