Perusahaan Maskapai Garuda Indonesia Masih Rugi

Garuda Indonesia mencatat pendapatan US$1,8 miliar dan rugi US$112,96 juta pada semester I 2026

DEPOK24JAM- PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) membukukan pendapatan usaha sebesar US$1,8 miliar pada semester I/2026. Pendapatan tersebut meningkat 15,97% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$1,55 miliar.

Namun, kenaikan pendapatan tersebut belum mampu membawa Garuda Indonesia keluar dari zona rugi. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026, perseroan mencatat rugi periode berjalan sebesar US$112,96 juta, meskipun angka tersebut membaik dibandingkan rugi US$147,05 juta pada semester I/2025.

Laporan keuangan Garuda Indonesia disajikan dalam jutaan dolar Amerika Serikat.

Pendapatan penerbangan berjadwal tumbuh

Kinerja pendapatan Garuda terutama ditopang oleh bisnis penerbangan berjadwal. Pendapatan dari penerbangan berjadwal mencapai US$1,31 miliar, naik dari US$1,18 miliar pada semester I/2025.

Pendapatan penerbangan tidak berjadwal juga meningkat menjadi US$272,75 juta dari sebelumnya US$205,84 juta. Sementara pendapatan dari segmen lainnya naik menjadi US$209,21 juta dari US$158,21 juta.

Dengan demikian, total pendapatan usaha Garuda Indonesia mencapai US$1,795 miliar, dibandingkan US$1,548 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Beban bahan bakar melonjak

Di tengah pertumbuhan pendapatan, tekanan biaya masih menjadi persoalan utama Garuda Indonesia.

Beban operasional penerbangan meningkat menjadi US$961,02 juta dari US$765,27 juta pada semester I/2025. Salah satu penyumbang terbesar adalah biaya bahan bakar yang mencapai US$677,60 juta, naik sekitar 43,63% dibandingkan US$471,78 juta pada tahun sebelumnya.

Dalam laporan keuangan, Garuda menyebut pembelian bahan bakar sekitar US$588,60 juta atau setara 33% dari pendapatan usaha berasal dari satu pemasok, PT Pertamina Patra Niaga. Selain bahan bakar, beban pemeliharaan dan perbaikan pesawat juga meningkat menjadi US$407,21 juta dari US$318,38 juta.

Sementara itu, beban umum dan administrasi justru turun menjadi US$48,45 juta dari US$96,66 juta.

Beban keuangan masih besar

Tekanan lain datang dari beban keuangan. Pada semester I/2026, Garuda mencatat beban keuangan sebesar US$222,44 juta.

Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan US$251,59 juta pada semester I/2025. Namun, besarnya beban keuangan tetap menjadi salah satu faktor yang menekan kinerja sebelum pajak.

Garuda mencatat rugi sebelum pajak sebesar US$130,28 juta, membaik dari rugi sebelum pajak US$167,69 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Setelah memperhitungkan manfaat pajak penghasilan sebesar US$17,32 juta, rugi periode berjalan tercatat US$112,96 juta. LK Garuda Indonesia Juni 2026

Rugi membaik, tetapi modal kembali defisit

Meski rugi bersih menyusut sekitar 23,18% secara tahunan, posisi ekuitas Garuda Indonesia justru kembali mengalami tekanan.

Per 30 Juni 2026, total ekuitas perseroan tercatat negatif US$52,15 juta. Posisi tersebut berbanding terbalik dengan ekuitas positif US$44,44 juta pada akhir 2025.

Perubahan tersebut antara lain dipengaruhi oleh rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$120,72 juta.

Liabilitas masih mencapai US$7,43 miliar

Dari sisi neraca, total aset Garuda Indonesia per 30 Juni 2026 mencapai US$7,38 miliar, turun dari US$7,62 miliar pada akhir 2025.

Sementara total liabilitas tercatat US$7,43 miliar, turun dari US$7,58 miliar pada akhir 2025.

Liabilitas jangka panjang masih menjadi komponen terbesar, yakni US$5,81 miliar. Di dalamnya terdapat utang obligasi sebesar US$684,64 juta, pinjaman jangka panjang US$259,69 juta serta liabilitas sewa yang mencapai lebih dari US$1,28 miliar.

Kas dan setara kas juga mengalami penurunan cukup besar. Pada akhir Juni 2026, kas dan setara kas tercatat US$624,34 juta, dibandingkan US$943,40 juta pada akhir 2025. LK Garuda Indonesia Juni 2026

Garuda ungkap kondisi going concern

Dalam catatan laporan keuangannya, manajemen Garuda Indonesia mengungkapkan bahwa pada 30 Juni 2026 perseroan memiliki modal kerja negatif sebesar US$372,79 juta dan defisiensi modal sebesar US$52,15 juta.

Perseroan juga mencatat rugi bersih US$112,96 juta sepanjang enam bulan pertama 2026.

Garuda menyebut kenaikan signifikan harga bahan bakar yang dipicu konflik di Timur Tengah turut menimbulkan ketidakpastian terhadap kondisi usaha perseroan. LK Garuda Indonesia Juni 2026

Untuk merespons kondisi tersebut, manajemen menyatakan telah dan akan menjalankan sejumlah langkah, termasuk upaya memperoleh pendanaan modal kerja yang didukung PT Danantara Asset Management. Pendanaan tersebut antara lain akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja, termasuk pembayaran utang usaha dan pembelian bahan bakar pesawat.

Kinerja Garuda Indonesia Semester I/2026

Pos Semester I/2026 Semester I/2025
Pendapatan usaha US$1,795 miliar US$1,548 miliar
Rugi sebelum pajak US$130,28 juta US$167,69 juta
Rugi periode berjalan US$112,96 juta US$147,05 juta
Beban operasional penerbangan US$961,02 juta US$765,27 juta
Beban keuangan US$222,44 juta US$251,59 juta
Total aset US$7,38 miliar US$7,62 miliar*
Total liabilitas US$7,43 miliar US$7,58 miliar*
Total ekuitas -US$52,15 juta US$44,44 juta*

*Angka posisi keuangan per 31 Desember 2025, disajikan kembali dalam laporan keuangan.

Secara umum, laporan keuangan menunjukkan pendapatan Garuda Indonesia tumbuh cukup signifikan pada semester I/2026 dan kerugian menyusut dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, kenaikan biaya operasional, terutama bahan bakar dan pemeliharaan, serta posisi modal kerja negatif dan defisiensi modal masih menjadi bagian penting dari kondisi keuangan perseroan pada akhir Juni 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *