DEPOK24JAM— Emiten pengembang properti PT Sentul City Tbk. (BKSL) mencatat pertumbuhan pendapatan neto hingga kuartal III/2026. Namun, perseroan juga menghadapi tekanan akibat kenaikan beban keuangan, peningkatan beban operasional, serta arus kas operasi yang berada di zona negatif.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim yang berakhir pada 30 September 2026, berikut rincian kinerja keuangan dan operasional BKSL selama sembilan bulan pertama tahun ini.
BACA JUGA: Laba Bersih Telkom Turun 1,9% pada Kuartal III/2026, Beban Operasional Meningkat
1. Pendapatan Neto Sentul City Tumbuh
Secara konsolidasian, BKSL membukukan pendapatan neto sebesar Rp1,23 triliun per 30 September 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan Rp836,97 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan ini menunjukkan pertumbuhan pendapatan perseroan selama sembilan bulan pertama 2026. Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut perlu dilihat bersama perkembangan beban usaha dan arus kas operasional.
2. Beban Pokok Pendapatan dan Beban Usaha Meningkat
Pertumbuhan pendapatan BKSL diikuti kenaikan sejumlah komponen biaya.
BACA JUGA: Vale (INCO) Korbankan Arus Kas Demi Pertumbuhan 5 Tahun, Laba Melonjak 314%
Beban pokok pendapatan melonjak 67,6% secara tahunan (year-on-year/yoy), dari Rp373,06 miliar per September 2025 menjadi Rp625,42 miliar per September 2026.
Sementara itu, beban umum dan administrasi meningkat 47,8% secara tahunan, dari Rp144,29 miliar menjadi Rp213,30 miliar per 30 September 2026.
Kenaikan kedua komponen tersebut menjadi faktor penting dalam menilai efisiensi operasional perseroan.
3. Beban Keuangan Sentul City Capai Rp210,07 Miliar
BKSL mencatat beban keuangan sebesar Rp210,07 miliar selama sembilan bulan pertama 2026. Nilai tersebut meningkat dibandingkan dengan Rp191,52 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan beban keuangan menjadi salah satu komponen yang perlu diperhatikan dalam menilai tekanan terhadap profitabilitas perseroan.
4. Arus Kas Operasi Berbalik Negatif
Arus kas dari aktivitas operasi BKSL mengalami perubahan signifikan hingga kuartal III/2026.
Perseroan mencatat arus kas neto yang digunakan untuk aktivitas operasi sebesar Rp992,01 miliar per 30 September 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, BKSL masih membukukan arus kas masuk dari aktivitas operasi sebesar Rp202,21 miliar.
Pengeluaran kas yang tercantum dalam laporan meliputi pembayaran untuk perolehan tanah, pembayaran kepada kontraktor dan pemasok sebesar Rp643,77 miliar, serta pengeluaran untuk aktivitas operasi lainnya sebesar Rp711,91 miliar.
Perubahan arus kas tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kondisi likuiditas operasional perseroan.
5. Kas dan Setara Kas Turun 25,7%
Posisi kas dan setara kas konsolidasian BKSL menurun dibandingkan dengan akhir 2025.
Per 31 Desember 2025, kas dan setara kas perseroan tercatat sebesar Rp561,46 miliar. Angka tersebut turun menjadi Rp417,07 miliar per 30 September 2026.
Dengan demikian, kas dan setara kas berkurang Rp144,39 miliar selama periode tersebut, atau sekitar 25,7% dibandingkan dengan posisi akhir tahun sebelumnya.
6. Liabilitas Meningkat, Pinjaman Bank Jangka Panjang Melonjak
Total liabilitas konsolidasian BKSL meningkat dari Rp5,26 triliun per 31 Desember 2025 menjadi Rp5,61 triliun per 30 September 2026.
Salah satu perubahan signifikan terlihat pada pinjaman bank jangka panjang. Nilainya meningkat dari Rp389,01 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp2,11 triliun per September 2026.
Kenaikan tersebut setara dengan sekitar 442,6% berdasarkan angka yang tercantum dalam naskah. Perubahan ini perlu diperhatikan dalam menilai struktur pendanaan dan kewajiban jangka panjang perseroan.
7. Piutang Usaha Meningkat, Risiko Penurunan Nilai Perlu Dicermati
Piutang usaha pihak ketiga neto BKSL tercatat sebesar Rp498,34 miliar per 30 September 2026. Nilai tersebut meningkat dibandingkan dengan Rp410,43 miliar pada 31 Desember 2025.
Dari total piutang usaha tersebut, Rp439,49 miliar dilaporkan telah melewati jatuh tempo lebih dari satu tahun.
Perseroan juga mencatat penyisihan kerugian penurunan nilai piutang usaha sebesar Rp61,76 miliar.
Data tersebut menjadi indikator yang perlu dicermati dalam menilai kualitas piutang, potensi penagihan, dan pengelolaan modal kerja perseroan.
8. Entitas Asosiasi Mencatat Kerugian
Selain kinerja operasional internal, BKSL juga mencatat bagian atas rugi neto entitas asosiasi sebesar Rp3,79 miliar per 30 September 2026.
Salah satu entitas asosiasi, PT Izumi Sentul Realty, membukukan total rugi komprehensif periode berjalan sebesar Rp45,54 miliar hingga kuartal III/2026.
Kinerja entitas asosiasi tersebut menjadi bagian lain yang perlu diperhatikan dalam membaca laporan keuangan konsolidasian Sentul City.
9. Pendapatan dan Total Aset Menjadi Indikator Positif
Di tengah tekanan arus kas dan peningkatan beban, BKSL masih mencatat sejumlah indikator yang dapat menjadi bahan evaluasi terhadap prospek bisnis perseroan.
Pertama, pendapatan neto meningkat sekitar 47% secara tahunan menjadi Rp1,23 triliun. Pertumbuhan ini menunjukkan kenaikan pendapatan, meskipun tidak dengan sendirinya membuktikan peningkatan permintaan pasar tanpa dukungan data penjualan.
Kedua, saldo pinjaman bank jangka panjang meningkat signifikan. Perubahan tersebut menunjukkan bertambahnya pendanaan melalui pinjaman, tetapi tujuan penggunaan dana perlu dikonfirmasi melalui catatan laporan keuangan atau keterangan resmi perseroan.
Ketiga, total aset konsolidasian BKSL tercatat sebesar Rp23,43 triliun per 30 September 2026. Nilai aset tersebut menjadi salah satu indikator skala usaha perseroan.
Portofolio lahan dan aset properti dapat mendukung pengembangan bisnis jangka panjang. Namun, kemampuan aset tersebut menghasilkan pendapatan dan arus kas tetap bergantung pada realisasi penjualan, kebutuhan investasi, serta pengelolaan kewajiban perseroan.




