DEPOK24JAM— PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) tengah berada dalam fase transformasi besar. Di satu sisi, emiten nikel tersebut berhasil mencatat lonjakan laba bersih lebih dari empat kali lipat pada semester I/2026. Di sisi lain, saldo kas perusahaan menyusut tajam akibat derasnya investasi untuk membangun fondasi pertumbuhan dalam beberapa tahun ke depan.
Strategi tersebut tercermin dari realisasi belanja modal (capital expenditure/capex) yang terus mengalir ke berbagai proyek strategis, mulai dari pengembangan Indonesia Growth Project (IGP), proyek High Pressure Acid Leach (HPAL), hingga penguatan operasi di Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.
Berdasarkan laporan keuangan interim, PT Vale membukukan laba bersih sebesar US$104,4 juta pada semester I/2026, melonjak sekitar 314% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$25,2 juta. Pendapatan juga meningkat menjadi US$543 juta dari US$426,7 juta pada semester I/2025. EBITDA bahkan melonjak menjadi US$196 juta, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$92 juta.
Kinerja tersebut didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata nikel matte, meningkatnya produksi pada kuartal II/2026, serta efisiensi biaya produksi yang berhasil dipertahankan perusahaan.
BACA JUGA: Jaringan Ritel Hypermart Catat Pendapatan Rp4 Triliun Sepanjang Semester 1/2026
Meski demikian, di balik pertumbuhan laba tersebut terdapat konsekuensi berupa penurunan likuiditas jangka pendek.
Per 30 Juni 2026, saldo kas dan setara kas PT Vale tercatat sebesar US$110,7 juta, turun hampir 50% dibandingkan posisi akhir Maret 2026 sebesar US$220,1 juta, bahkan jauh lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar US$376,4 juta. Penurunan tersebut bukan disebabkan melemahnya bisnis inti, melainkan besarnya investasi yang sedang dijalankan perusahaan.
Sepanjang kuartal II/2026 saja, PT Vale merealisasikan belanja modal sekitar US$116 juta. Secara kumulatif semester pertama, arus kas investasi masih negatif sebesar US$254,5 juta, sebagian besar digunakan untuk pembangunan aset tetap dan proyek-proyek strategis.
Dengan kata lain, perusahaan tengah mengorbankan kekuatan kas saat ini demi membangun kapasitas produksi dan hilirisasi yang diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan pada tahun-tahun mendatang.
Strategi tersebut mulai terlihat hasilnya.
Pada kuartal II/2026, produksi nikel matte mencapai 16.153 metrik ton, meningkat sekitar 19% dibandingkan kuartal sebelumnya setelah selesainya pembangunan kembali Tanur Listrik 3. Perseroan juga mencatat peningkatan signifikan penjualan bijih nikel dari Blok Bahodopi maupun Pomalaa, yang mulai memberikan diversifikasi sumber pendapatan di luar bisnis nikel matte.
Di saat yang sama, efisiensi operasional tetap terjaga. Biaya tunai pokok penjualan nikel matte turun menjadi US$10.005 per ton dari US$10.382 per ton pada kuartal sebelumnya. Efisiensi tersebut menjadi pencapaian tersendiri mengingat perusahaan menghadapi kenaikan harga energi global, mulai dari HSFO, diesel hingga batu bara akibat kondisi geopolitik internasional.
Komitmen investasi Vale juga terlihat dari perkembangan proyek hilirisasi. Pada Juli 2026, perusahaan menerima autoclave untuk Proyek HPAL Sambalagi yang menjadi bagian dari Indonesia Growth Project Morowali.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale Bernardus Irmanto mengatakan kedatangan peralatan utama tersebut menjadi tonggak penting bagi pengembangan industri baterai nasional.
“Kedatangan autoclave tersebut merupakan langkah maju yang signifikan dalam pengembangan rantai nilai bahan baku baterai terintegrasi di Indonesia serta memperkuat komitmen PT Vale untuk mendukung agenda hilirisasi nasional,” ujar Bernardus Irmanto.
Ke depan, PT Vale akan melanjutkan percepatan pembangunan proyek HPAL untuk mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebagai bahan baku utama rantai pasok baterai kendaraan listrik.

