ARKO Kantongi Pinjaman Rp450 Miliar untuk Lunasi Obligasi Hijau

Arkora Hydro (ARKO) teken pinjaman Rp450 miliar dari IIF untuk lunasi green bond

DEPOK24JAM – PT Arkora Hydro Tbk. (ARKO) memperoleh fasilitas pinjaman senilai maksimal Rp450 miliar dari PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) untuk melunasi pokok Obligasi Berwawasan Lingkungan Hijau I Arkora Hydro Seri A yang akan jatuh tempo pada 8 Agustus 2026.

Berdasarkan keterbukaan informasi, perjanjian fasilitas pinjaman ditandatangani pada 24 Juli 2026 dengan jangka waktu tujuh tahun. Dana pinjaman akan digunakan untuk melunasi pokok green bond Seri A senilai Rp318,06 miliar, sementara sisanya dapat dimanfaatkan untuk keperluan umum perseroan.

Corporate Secretary Arkora Hydro Ricky Hartono mengatakan fasilitas pinjaman tersebut diharapkan memberikan dampak positif terhadap kegiatan operasional, kondisi keuangan, dan kelangsungan usaha perseroan.

“Transaksi ini juga merupakan Transaksi Material yang dikecualikan sesuai POJK Nomor 17/POJK.04/2020 sehingga tidak memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS),” ujar Ricky dalam keterbukaan informasi dikutip pada Selasa, 28 Juli 2026.

Langkah refinancing tersebut dilakukan ketika kinerja keuangan ARKO pada tiga bulan pertama 2026 mengalami perlambatan. Perseroan membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp17,26 miliar, turun sekitar 18,2% dibandingkan Rp21,10 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Penurunan laba terjadi seiring turunnya pendapatan menjadi Rp68,06 miliar dari Rp71,07 miliar pada kuartal I/2025. Selain itu, laba bruto menyusut menjadi Rp26,40 miliar dari Rp34,54 miliar, sementara beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp16,27 miliar dibandingkan Rp11,20 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Meski demikian, ARKO masih mampu menjaga profitabilitas berkat kenaikan pendapatan keuangan menjadi Rp22,83 miliar dari Rp17,82 miliar, serta penurunan beban pajak menjadi Rp1,06 miliar dari Rp4,09 miliar. Laba sebelum pajak tercatat Rp18,31 miliar pada kuartal I/2026.

Dari sisi neraca, total aset perseroan naik tipis menjadi Rp1,71 triliun per akhir Maret 2026. Total liabilitas turun menjadi Rp1,17 triliun, sedangkan ekuitas meningkat menjadi Rp533,45 miliar dari Rp516,20 miliar pada akhir 2025.

Sementara itu, arus kas operasi menunjukkan perbaikan dengan membukukan arus kas bersih positif Rp3,95 miliar, berbalik dari posisi negatif Rp41,24 miliar pada kuartal I/2025. Perbaikan tersebut ditopang peningkatan penerimaan kas dari pelanggan yang mencapai Rp60,20 miliar.

Arkora Hydro merupakan produsen listrik swasta (independent power producer/IPP) berbasis tenaga air aliran sungai (run-of-river) yang menjual seluruh produksinya kepada PT PLN (Persero) melalui kontrak jangka panjang. Perseroan mengoperasikan sejumlah PLTA skala kecil hingga menengah, antara lain di Jawa Barat, Sulawesi Tengah, dan Lampung.

Perseroan tengah dalam fase ekspansi kapasitas, ditandai dengan beroperasinya sejumlah pembangkit baru dan proyek yang masih dalam tahap konstruksi. Kelancaran refinancing obligasi hijau ini menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga struktur pendanaan perseroan di tengah agenda pertumbuhannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *