40% Perusahaan Indonesia Sudah Adopsi Artificial Intelligence untuk Tingkatkan Pendapatan

DEPOK24JAM — Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di kalangan pelaku usaha Indonesia memasuki babak baru. Sekitar 40% perusahaan di Tanah Air kini telah mengadopsi AI, dan dari kelompok itu 62% mengaku pendapatan mereka ikut tumbuh berkat teknologi tersebut.

Temuan itu terungkap dalam studi bertajuk Unlocking Indonesia’s AI Potential 2026 yang dirilis Amazon Web Services (AWS) bersama Strand Partners di ajang AWS Summit Jakarta, awal Agustus 2026. Studi ini menyurvei 1.000 pemimpin bisnis dan 1.000 anggota masyarakat umum untuk memetakan sejauh mana adopsi AI dan cloud berlangsung di Indonesia.

Angka adopsi 40% tersebut melonjak signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 25%. Peningkatan ini menandai pergeseran fase dari sekadar uji coba menuju implementasi nyata di lini bisnis.

Dampak pada Produktivitas dan Pendapatan

Di antara perusahaan yang telah mengadopsi AI, sebanyak 75% melaporkan peningkatan produktivitas, 72% menyebut AI mempercepat inovasi, dan 62% merasakan pertumbuhan pendapatan. Optimisme pelaku usaha pun tetap tinggi. Sebanyak 78% perusahaan memperkirakan penggunaan AI akan meningkat dalam 12 bulan ke depan, sementara 72% berencana memperluas implementasi AI ke lebih banyak lini bisnis.

“Kisah AI di Indonesia sudah bergeser dari eksperimen menuju eksekusi. Hasilnya berbicara dengan sendirinya. Yang terpenting sekarang adalah mengubah keberhasilan awal menjadi transformasi di seluruh perusahaan,” ujar Anthony Amni, Country Manager Amazon Web Services Indonesia, dalam sesi keynote di AWS Summit Jakarta.

Gelombang berikutnya, menurut AWS, datang dari agentic AI. Perusahaan yang telah mengadopsi teknologi ini melaporkan hasil yang lebih tinggi, mulai dari peningkatan produktivitas 84%, pengambilan keputusan lebih cepat 47%, hingga peningkatan efisiensi operasional 44%.

Startup Berbasis AI Tumbuh Lebih Kencang

Dampak paling mencolok terlihat pada perusahaan rintisan yang menempatkan AI sebagai inti bisnis. Startup kelompok ini membukukan pertumbuhan pendapatan tahunan rata-rata 142%, jauh melampaui rata-rata startup nasional yang sebesar 60%. Mereka juga memiliki peluang 4,8 kali lebih besar untuk mencatat pendapatan tahunan di atas US$1 juta, dan hampir seluruhnya (97%) memperkirakan AI akan terus memacu pertumbuhan pendapatan pada tahun mendatang.

Implementasi ini sudah berjalan di lapangan. Perusahaan healthtech Rey, misalnya, membangun Olvo AI menggunakan Amazon Bedrock untuk mengotomatisasi proses klaim dan menghadirkan layanan kesehatan terintegrasi dalam skala besar. Sementara hibank menanamkan AI langsung ke jantung operasionalnya, mulai dari penilaian kelayakan kredit (underwriting) hingga deteksi kecurangan (fraud).

Adopsi Tinggi, Kesiapan Masih Timpang

Meski laju adopsi tergolong agresif, AWS menyoroti kesenjangan pada kesiapan tata kelola. Nandini Ramani, Vice President Governance and Compliance AWS, mengungkapkan bahwa dari sekitar 40% perusahaan yang telah mengadopsi AI, baru 24% yang memiliki strategi AI formal dan sekitar 21% yang menerapkan tata kelola data (data governance).

Tantangan lain datang dari sisi sumber daya manusia. Sebanyak 56% organisasi mengaku kekurangan talenta digital dan AI menjadi hambatan terbesar dalam memperluas implementasi.

Kendati demikian, Anthony menilai Indonesia telah memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mempercepat transformasi. “Infrastruktur, layanan, dan program pengembangan talenta sudah tersedia. Perusahaan yang bergerak cepat dan berani mengambil langkah akan menentukan arah dekade berikutnya bagi ekonomi digital Indonesia,” katanya.


Sumber: Studi AWS x Strand Partners “Unlocking Indonesia’s AI Potential 2026” (AWS Summit Jakarta), sebagaimana diberitakan detikINET, Kompas.com, dan Telset.id, Agustus 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *