7 Tempat yang Dulu Hits di Depok, Sekarang Ke Mana?

kolam renang di depok

DEPOK24JAM- Setiap kota punya tempat-tempat yang pernah jadi bagian dari kenangan kolektif warganya. Ada yang bertahan, ada yang berubah wajah, ada yang hilang sama sekali. Depok tidak berbeda. Beberapa nama yang dulu selalu ramai disebut orang, kini tinggal cerita atau berubah jadi sesuatu yang lain. Ini tujuh di antaranya.

1. Depok Fantasi Waterpark — Pionir Rekreasi Air yang Kini Rata Tanah

Bagi anak-anak Depok yang tumbuh di era 2010-an, Depok Fantasi Waterpark atau yang juga dikenal sebagai Aladin Waterpark di kawasan Grand Depok City, Sukmajaya adalah tujuan liburan yang paling ditunggu-tunggu. Berdiri sejak 2008, taman rekreasi air ini hadir dengan nuansa Timur Tengah lengkap dengan seluncuran air tinggi, ember tumpah, dan area permainan air yang luas. Weekendnya selalu penuh.

Pandemi Covid-19 mengakhiri semuanya. Manajemen Depok Fantasi Waterpark secara resmi mengumumkan penutupan permanen dengan pesan yang sederhana: “Mungkin waktu kami sudah selesai, maaf sudah tidak bisa menghibur dan menjadi tempat rekreasi lagi, kami pamit.”

Kini lokasi bekas waterpark itu sudah rata dengan tanah dan telah dialihfungsikan menjadi kompleks perumahan. Tidak ada lagi bekas seluncuran, tidak ada lagi suara riuh anak-anak yang bermain air. Yang tersisa hanya kenangan.

2. Depok Mall / D’Mall — Mal Tertua yang Terus Berganti Wajah

Depok Mall adalah mal pertama yang berdiri di kota ini, hadir sejak 1996, jauh sebelum Margo City atau Depok Town Square ada. Di masanya, nama ini adalah referensi utama warga Depok kalau mau belanja atau sekadar nongkrong.

Seiring berjalannya waktu dan munculnya mal-mal baru yang lebih segar di sepanjang Margonda, Depok Mall mulai kehilangan pamornya. Supermarket Golden Truly yang jadi andalan tutup pada 2017. Mal kemudian rebranding menjadi D’Mall, berbenah dengan menarik penyewa baru, membangun apartemen di sampingnya, dan menghadirkan konsep yang lebih modern.

D’Mall masih berdiri dan beroperasi sampai sekarang di Jalan Margonda No. 88, tapi bagi generasi yang besar bersama nama “Depok Mall”, rasanya tetap ada yang berbeda.

3. Depok Town Square (Detos) — Ikon Margonda yang Berjuang Bertahan

Detos berdiri tahun 2005 dan langsung menjadi pusat semesta anak muda Depok. Bioskopnya, foodcourtnya, putaran lantainya yang ramai jadi tempat nongkrong favorit sepulang sekolah atau kampus. Bertahun-tahun namanya identik dengan Margonda.

Sekarang kondisinya jauh berbeda. Pantauan Kompas.com pada Oktober 2025 menemukan banyak ruko yang tutup, eskalator yang tidak berfungsi, dan lantai atas yang jauh lebih sepi dari bagian bawah. Bukan hanya Detos, fenomena ini juga menimpa ITC Depok di seberangnya, yang sempat sangat populer di era 2010-an namun kini terpantau sepi pengunjung.

Yang bikin salut: Detos tidak menyerah. Pengelola terus beradaptasi, menambahkan FitHub, kolam renang muslimah, lapangan futsal, dan jalur akses dari Stasiun Pondok Cina. Perang bertahan sebuah mal lama di tengah gempuran mal baru dan belanja online memang tidak mudah.

4. Studio Alam TVRI Depok — Lokasi Syuting Legendaris yang Kini Sepi

Nama Studio Alam TVRI sudah ada sejak 1980-an, diresmikan langsung oleh Ibu Tien Soeharto pada 1985. Di lahan seluas lebih dari 20 hektar di Sukmajaya ini, ratusan judul sinetron dan film pernah diproduksi: dari Sengsara Membawa Nikmat dan Siti Nurbaya, drama kolosal era TVRI, sinetron Si Entong, hingga film laga modern The Raid.

Ketika dibuka untuk umum, tempat ini sempat populer sebagai destinasi wisata hijau murah di Depok dengan harga tiket hanya Rp5.000. Tapi kondisi terkini berbeda. Kunjungan Kompas.com pada Oktober 2025 mendapati kawasan yang luas itu tampak lengang, hanya ada beberapa petugas dan segelintir anak dari lingkungan sekitar yang bermain.

Studio Alam TVRI masih berdiri dan masih sesekali digunakan sebagai lokasi syuting, tapi kejayaannya sebagai destinasi wisata populer sudah jauh dari kondisi terbaiknya.

5. Giant Margo City — Supermarket Besar yang Pamit Diam-diam

Giant di Margo City bukan sekadar supermarket biasa bagi warga Depok. Bagi banyak keluarga, belanja bulanan ke Giant Margo City adalah rutinitas yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Luasnya, lengkapnya, dan lokasinya yang strategis di pusat Margonda membuatnya jadi pilihan utama.

Pandemi Covid-19 memukul keras jaringan Hero Group secara nasional. Giant Margo City resmi tutup pada 3 Maret 2021 sebagai bagian dari gelombang penutupan Giant di seluruh Indonesia. Pengumuman resminya datang dari Head of Corporate and Consumer Affairs PT Hero Supermarket.

Ruang yang ditinggalkan Giant kini ditempati oleh tenant lain, tapi bagi yang pernah terbiasa dorong troli di sana setiap akhir bulan, rasanya masih ada yang kurang.

6. Plaza Depok / Ramayana Depok — Mal Pertama yang Perlahan Memudar

Sebelum Depok Mall berdiri pun, Plaza Depok sudah lebih dulu ada di 1996, tepat di depan Terminal Bus Margonda. Namanya lebih dikenal sebagai Plaza Ramayana Depok karena didominasi oleh gerai retail pakaian Ramayana. Ada juga bioskop XXI dan beberapa restoran cepat saji yang waktu itu masih menjadi daya tarik tersendiri.

Kemunculan Margo City dan Depok Town Square di sepanjang Margonda yang sama perlahan menggeser posisi Plaza Depok. Generasi yang lebih muda mungkin tidak banyak yang kenal namanya. Tapi bagi yang tinggal di Depok sejak akhir 1990-an, Plaza Depok adalah tempat di mana banyak kenangan belanja pertama kali terjadi.

7. Kebun Belimbing Warga — Ikon Kota yang Semakin Langka

Ini bukan tempat rekreasi atau mal, tapi keberadaannya dulu jadi bagian dari identitas visual Depok yang tidak bisa diabaikan. Di banyak sudut kota, terutama di sepanjang Kali Ciliwung di kawasan Pondok Cina, Tugu, dan Kelapa Dua, kebun belimbing dewa milik warga tumbuh lebat dan menjadi pemandangan khas yang membuat Depok beda dari kota lain.

Perlahan, satu per satu kebun itu hilang. Dibangun perumahan, ruko, dan kompleks bisnis. Data yang beredar menyebut setidaknya 36 hektar kebun belimbing sudah hilang dalam beberapa tahun terakhir. Depok masih resmi menyandang julukan Kota Belimbing, dan belimbing dewa masih jadi ikon resmi kota sejak 2009. Tapi kalau kamu berkeliling Depok sekarang, pohon belimbing yang dulu bisa dilihat di mana-mana kini semakin sulit ditemukan.

Kota yang tumbuh selalu meninggalkan sesuatu di belakangnya. Beberapa tempat itu tutup karena kalah bersaing, sebagian karena pandemi, sebagian lagi karena kota berkembang ke arah yang berbeda. Tapi selama masih ada yang mengingatnya, tempat-tempat itu tidak benar-benar hilang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *