Bisnis Jalan Tol, Jasa Marga Untung Rp2,63 Triliun di Separuh Tahun 2026

Laba bersih JSMR naik 8,4 persen menjadi Rp2,63 triliun pada semester I 2026

DEPOK24JAM- PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) mencatat pertumbuhan laba bersih pada semester I 2026. Di tengah pendapatan yang menurun, perseroan berhasil membukukan laba bersih Rp2,63 triliun, naik 8,4% dibandingkan Rp2,42 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja tersebut menjadi catatan positif bagi Jasa Marga karena pertumbuhan laba terjadi ketika pendapatan usaha perseroan justru turun. Pada enam bulan pertama 2026, pendapatan JSMR tercatat Rp13,11 triliun, dibandingkan Rp13,95 triliun pada semester I 2025.

Namun, penurunan pendapatan tersebut diikuti dengan penurunan beban pokok penjualan dan pendapatan yang lebih besar. Beban pokok turun dari Rp8,31 triliun menjadi Rp7 triliun.

Alhasil, laba bruto JSMR meningkat menjadi Rp6,11 triliun dari sebelumnya Rp5,63 triliun.

Laba Sebelum Pajak Ikut Naik

Kenaikan laba berlanjut hingga tingkat sebelum pajak.

JSMR membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp3,54 triliun pada semester I 2026, naik dari Rp3,20 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Setelah dikurangi beban pajak penghasilan sebesar Rp913,58 miliar, laba bersih perseroan mencapai Rp2,63 triliun.

Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai sekitar Rp1,91 triliun.

Meski demikian, beban bunga dan keuangan masih menjadi salah satu beban besar JSMR. Pos ini tercatat Rp1,79 triliun, sedikit meningkat dari Rp1,75 triliun pada semester I 2025.

Utang Bank JSMR Capai Rp73,39 Triliun

Besarnya beban bunga tersebut tidak terlepas dari struktur pembiayaan JSMR yang memang bertumpu pada utang untuk mendukung bisnis jalan tol.

Per 30 Juni 2026, utang bank bruto JSMR mencapai Rp73,39 triliun, meningkat dari Rp72,83 triliun pada akhir 2025.

Setelah dikurangi biaya penerbitan utang bank yang belum diamortisasi sebesar Rp467,66 miliar, utang bank bersih JSMR berada di kisaran Rp72,92 triliun.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp8,58 triliun merupakan bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun, sementara Rp64,34 triliun merupakan utang bank jangka panjang.

Selain pinjaman bank, JSMR juga memiliki utang obligasi. Per akhir Juni 2026, utang obligasi bruto mencapai Rp4,61 triliun, naik dari Rp2,55 triliun pada akhir 2025.

Dengan demikian, utang bank dan obligasi JSMR secara bruto telah mencapai sekitar Rp78 triliun.

Total Liabilitas Hampir Rp100 Triliun

Secara keseluruhan, total liabilitas JSMR mencapai Rp99,98 triliun per 30 Juni 2026. Angka tersebut meningkat dari Rp97,63 triliun pada akhir 2025.

Di sisi lain, total aset perseroan mencapai Rp163,21 triliun, naik dari Rp160 triliun pada akhir 2025. Porsi terbesar aset JSMR berasal dari hak konsesi jalan tol yang mencapai Rp142,74 triliun.

Ekuitas JSMR tercatat Rp63,23 triliun, meningkat dari Rp62,36 triliun pada akhir 2025.

Anak Usaha Dapat Pembiayaan Rp1,57 Triliun

Di tengah struktur pembiayaan yang besar tersebut, JSMR juga memperkuat pendanaan melalui anak usahanya, PT Jasamarga Bali Tol (JBT).

Pada 30 Juli 2026, JBT menandatangani perjanjian Sustainability Linked Financing (SLF) dengan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) dengan nilai maksimal Rp1,567 triliun.

Fasilitas tersebut ditujukan untuk pembiayaan investasi aset Jalan Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa serta pelunasan sebagian pokok dan/atau bunga pinjaman pemegang saham.

JBT merupakan perusahaan pengelola Jalan Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa. Jasa Marga menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 64,44%.

Dengan demikian, pembiayaan Rp1,57 triliun tersebut bukan merupakan utang baru JSMR secara langsung, melainkan fasilitas yang diterima oleh anak usaha perseroan, JBT.

Transaksi JBT dengan BSI tersebut juga dikategorikan sebagai transaksi afiliasi karena JBT merupakan anak perusahaan JSMR, sedangkan BSI merupakan badan usaha milik negara yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh pihak yang sama, yakni Pemerintah Republik Indonesia.

Arus Kas Operasi Menguat

Di balik tingginya kebutuhan pendanaan, JSMR masih mencatat perbaikan arus kas dari aktivitas operasi.

Pada semester I 2026, arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi mencapai Rp3,13 triliun, naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan Rp1,32 triliun pada semester I 2025.

Penerimaan kas dari pelanggan juga meningkat menjadi Rp9,52 triliun dari Rp8,80 triliun.

Namun, kebutuhan investasi tetap besar. JSMR mengeluarkan sekitar Rp4,09 triliun untuk memperoleh hak penguasaan jalan tol selama semester I 2026.

Dengan demikian, kinerja JSMR pada semester I 2026 memperlihatkan kombinasi antara pertumbuhan profitabilitas dan kebutuhan pendanaan yang tetap tinggi.

Laba bersih naik 8,4% menjadi Rp2,63 triliun meski pendapatan turun, sementara utang bank mencapai Rp73,39 triliun dan total liabilitas mendekati Rp100 triliun. Pada saat yang sama, anak usaha JSMR memperoleh fasilitas pembiayaan berkelanjutan maksimal Rp1,57 triliun untuk mendukung aset Jalan Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *