DEPOK24JAM — Emiten pengelola jaringan ritel Hypermart, PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA), membukukan pertumbuhan pendapatan sepanjang semester I/2026 sekaligus berhasil menekan kerugian bersih perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026 yang dirilis Rabu (29/7/2026), emiten bersandi saham MPPA ini mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp4,00 triliun. Capaian tersebut tumbuh 3,93% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp3,85 triliun.
Seiring dengan kenaikan top line, beban pokok penjualan perseroan terkerek menjadi Rp3,30 triliun dari sebelumnya Rp3,18 triliun per Juni 2025. Meski demikian, MPPA masih mampu mengamankan laba bruto sebesar Rp699,35 miliar, atau naik 5,17% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari posisi Rp664,95 miliar.
Corporate Secretary MPPA Mirtha Sukanto menyampaikan dari sisi operasional, perseroan berhasil membukukan laba usaha sebesar Rp17,51 miliar pada enam bulan pertama tahun ini, melompat signifikan dari laba usaha semester I/2025 yang tercatat sebesar Rp10,03 miliar.
“Kenaikan ini turut ditopang oleh pos pendapatan lain-lain neto yang melonjak menjadi Rp33,41 miliar, berbalik dari posisi minus Rp7,83 miliar pada periode sama tahun lalu,” demikian dalam laporan keuangan tersebut.
Efisiensi tersebut mendorong perbaikan pada pos bottom line. MPPA berhasil memangkas rugi periode berjalan menjadi Rp34,57 miliar pada semester I/2026, membaik sekitar 41,25% dibandingkan rugi bersih per Juni 2025 yang mencapai Rp58,84 miliar. Adapun rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp34,12 miliar.
Posisi Keuangan & Kas
Hingga akhir Juni 2026, total aset MPPA tercatat sebesar Rp3,09 triliun, menyusut dari posisi akhir Desember 2025 yang mencapai Rp3,67 triliun. Penurunan aset ini terutama disumbang oleh susutnya nilai persediaan dari Rp1,41 triliun menjadi Rp1,00 triliun.
BACA JUGA: Laba Bersih Makmur Berkah Amanda (AMAN) Turun 27,95% di Semester I/2026
Sementara itu, total liabilitas perseroan juga berhasil ditekan menjadi Rp3,13 triliun per 30 Juni 2026, dari sebelumnya Rp3,64 triliun pada akhir 2025. Penurunan beban kewajiban ini dipicu oleh pembayaran utang usaha serta penurunan pinjaman bank jangka pendek dari Rp550 miliar menjadi Rp377,25 miliar.
Di sisi arus kas, MPPA mencatatkan arus kas neto yang diperoleh dari aktivitas operasi sebesar Rp364,66 miliar, naik tajam dibandingkan periode Juni 2025 yang sebesar Rp188,90 miliar. Kenaikan arus kas operasi ini didukung oleh peningkatan penerimaan kas dari pelanggan yang mencapai Rp4,09 triliun.
Posisi kas dan bank akhir periode MPPA dijaga pada level Rp249,98 miliar. Per 30 Juni 2026, perseroan tercatat mengoperasikan 166 lokasi toko ritel termasuk Hypermart, Foodmart, Hyfresh, dan Boston Health & Beauty di berbagai kota di Indonesia.

