DEPOK24JAM- PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) menghadapi semester pertama 2026 dengan kinerja yang relatif solid di tengah tekanan pada pendapatan bunga dan syariah. Hingga 30 Juni 2026, bank mencatat laba bersih Rp3,44 triliun, sedikit turun dibandingkan Rp3,51 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim yang telah direviu, laba bersih CIMB Niaga pada semester I 2026 mencapai Rp3,44 triliun, turun 2,2% secara tahunan dari Rp3,51 triliun pada semester I 2025. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turun menjadi Rp3,44 triliun dari Rp3,45 triliun.
Meski laba menurun tipis, neraca CIMB Niaga masih menunjukkan ekspansi. Total aset per 30 Juni 2026 mencapai Rp381,97 triliun, naik dari Rp372,70 triliun pada akhir 2025. Salah satu penopangnya adalah pertumbuhan kredit yang diberikan.
Kredit Tumbuh, Penyaluran Mencapai Rp237,32 Triliun
Kredit menjadi salah satu sisi yang masih menunjukkan pertumbuhan sepanjang paruh pertama 2026.
Per 30 Juni 2026, total kredit yang diberikan CIMB Niaga mencapai Rp237,32 triliun. Angka tersebut meningkat sekitar 4,1% dibandingkan posisi Rp228,00 triliun pada akhir Desember 2025.
Kredit kepada pihak ketiga menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp237,17 triliun, sedangkan kredit kepada pihak berelasi mencapai Rp149,99 miliar. Setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp6,44 triliun, nilai kredit bersih tercatat Rp230,89 triliun.
Pertumbuhan kredit ini menjadi menarik karena terjadi ketika simpanan nasabah justru sedikit menyusut.
Dana Nasabah Sedikit Turun
Total simpanan dari nasabah pada akhir Juni 2026 tercatat Rp269,34 triliun, turun tipis dari Rp270,52 triliun pada akhir 2025.
Perubahannya terutama terlihat pada deposito berjangka. Nilai deposito turun dari Rp81,06 triliun menjadi Rp76,22 triliun.
Sebaliknya, dana giro meningkat dari Rp103,08 triliun menjadi Rp104,41 triliun. Tabungan juga naik dari Rp86,38 triliun menjadi Rp88,70 triliun.
Dengan demikian, meskipun total dana pihak ketiga sedikit menurun, struktur simpanan menunjukkan pergeseran dari deposito berjangka menuju giro dan tabungan.
Pendapatan Bunga dan Syariah Tertekan
Dari sisi pendapatan utama, tekanan terlihat pada pendapatan bunga dan syariah bersih.
CIMB Niaga membukukan pendapatan bunga sebesar Rp9,47 triliun pada semester I 2026, turun dari Rp9,92 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan syariah juga turun dari Rp2,47 triliun menjadi Rp2,15 triliun.
Namun, penurunan tersebut sebagian diimbangi oleh beban bunga dan beban syariah yang juga mengalami penurunan. Beban bunga turun dari Rp4,23 triliun menjadi Rp3,94 triliun, sementara beban syariah menyusut dari Rp1,53 triliun menjadi Rp1,12 triliun.
Alhasil, pendapatan bunga dan syariah bersih CIMB Niaga mencapai Rp6,55 triliun, sedikit turun 1,1% dibandingkan Rp6,62 triliun pada semester I 2025.
Pendapatan Operasional Lainnya Justru Melonjak
Jika pendapatan bunga dan syariah mengalami tekanan, sumber pendapatan operasional lainnya justru menunjukkan peningkatan cukup besar.
Pendapatan operasional lainnya mencapai Rp2,15 triliun, melonjak sekitar 61,1% dibandingkan Rp1,34 triliun pada semester I 2025.
Kenaikan tersebut terutama terlihat dari pos lain-lain yang meningkat dari Rp381,60 miliar menjadi Rp714,45 miliar. Sementara pendapatan provisi dan komisi lainnya tercatat Rp1,51 triliun, sedikit turun dari Rp1,54 triliun.
CIMB Niaga juga berhasil menekan kerugian transaksi mata uang asing bersih. Pos ini berbalik dari kerugian Rp586,02 miliar pada semester I 2025 menjadi kerugian Rp71,24 miliar pada semester I 2026.
Di sisi lain, keuntungan dari instrumen keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi meningkat menjadi Rp1,82 triliun dari Rp1,07 triliun.
Beban Operasional Naik, Laba Tertekan
Tekanan terhadap laba juga datang dari kenaikan beban operasional.
Total beban operasional lainnya meningkat menjadi Rp4,66 triliun dari Rp4,33 triliun pada semester I 2025.
Beban tenaga kerja naik menjadi Rp2,68 triliun dari Rp2,61 triliun. Beban umum dan administrasi juga meningkat menjadi Rp1,98 triliun dari Rp1,71 triliun.
Selain itu, beban penurunan nilai atas aset keuangan dan nonkeuangan bersih meningkat cukup signifikan menjadi Rp1,18 triliun dari Rp737,95 miliar pada tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat laba operasional bersih CIMB Niaga turun menjadi Rp4,30 triliun dari Rp4,43 triliun. Setelah memperhitungkan pendapatan nonoperasional dan pajak, laba bersih berakhir di Rp3,44 triliun.
Aset Menembus Rp381 Triliun
Di tengah penurunan tipis laba, ukuran neraca CIMB Niaga terus bertambah.
Total aset per 30 Juni 2026 mencapai Rp381,97 triliun, naik sekitar 2,5% dari Rp372,70 triliun pada akhir 2025.
Selain kredit, peningkatan aset juga terlihat pada obligasi pemerintah yang naik menjadi Rp68,74 triliun dari Rp65,14 triliun. Efek-efek juga meningkat menjadi Rp21,77 triliun dari Rp20,33 triliun.
Namun, penempatan pada bank lain dan Bank Indonesia turun cukup tajam dari Rp11,84 triliun menjadi Rp3,33 triliun.
Ekuitas Menurun karena Dividen dan Penghasilan Komprehensif
Total ekuitas CIMB Niaga pada akhir Juni 2026 tercatat Rp56,31 triliun, turun dari Rp58,16 triliun pada akhir 2025.
Penurunan ini antara lain dipengaruhi oleh pembagian dividen tunai atas laba tahun buku 2025 sebesar Rp4,07 triliun kepada pemilik entitas induk.
Selain itu, CIMB Niaga mencatat kerugian penghasilan komprehensif lain sebesar Rp1,20 triliun pada semester I 2026, terutama berasal dari perubahan nilai wajar efek-efek dan obligasi pemerintah yang diukur melalui penghasilan komprehensif lain.
Arus Kas Operasi Berbalik Negatif
Dari sisi arus kas, CIMB Niaga mencatat perubahan yang cukup besar.
Kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi mencapai Rp3,89 triliun pada semester I 2026, berbanding Rp75,14 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Salah satu faktor yang memengaruhi arus kas operasi adalah kenaikan penyaluran kredit yang menyerap kas Rp11,21 triliun. Di sisi lain, transaksi efek yang dijual dengan janji dibeli kembali memberikan arus kas masuk Rp13,30 triliun.
Aktivitas pendanaan juga menggunakan kas Rp5,22 triliun, antara lain karena pembayaran dividen sebesar Rp4,09 triliun.
Akibatnya, kas dan setara kas pada akhir Juni 2026 turun menjadi Rp19,89 triliun dari Rp29,75 triliun pada awal tahun.
CIMB Niaga Masih Bertumbuh, tetapi Margin dan Biaya Jadi Perhatian
Laporan semester I 2026 menunjukkan gambaran yang cukup berimbang bagi CIMB Niaga.
Di satu sisi, kredit terus tumbuh dan aset berhasil meningkat. Pendapatan operasional lainnya juga mencatat pertumbuhan signifikan, terutama karena membaiknya sejumlah pos nonbunga dan transaksi valuta asing.
Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya mampu mengangkat laba. Pendapatan bunga dan syariah bersih masih turun, sementara beban operasional dan kerugian penurunan nilai meningkat.
Dengan kondisi tersebut, tantangan CIMB Niaga pada paruh kedua 2026 bukan sekadar memperbesar penyaluran kredit, tetapi juga menjaga kualitas pertumbuhan kredit, memperkuat pendapatan nonbunga, serta mengendalikan biaya agar ekspansi bisnis dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba yang lebih kuat.
Baca juga:
- Kinerja Bank BJB Semester I 2026: Laba Naik 39 Persen
- Laba Jatis Mobile Turun, tetapi Pendapatan Melejit Dua Kali Lipat

