DEPOK24JAM – Di atas kertas, bank bjb menutup semester I 2026 dengan kinerja yang lebih baik. Laba bersih tumbuh 39 persen menjadi Rp992,17 miliar, sementara laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat hampir 59 persen menjadi Rp782,83 miliar.
Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih dan efisiensi beban operasional yang mendorong laba operasional mencapai Rp1,26 triliun.
Namun, jika melihat lebih jauh ke dalam laporan keuangan, terdapat sejumlah indikator yang menunjukkan bahwa bisnis inti perseroan masih menghadapi tantangan.
Salah satunya terlihat dari penyaluran kredit yang belum bertumbuh. Hingga akhir Juni 2026, total kredit yang disalurkan tercatat Rp127,82 triliun, sedikit lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp128,79 triliun.
Pada saat yang sama, Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) meningkat menjadi Rp3,65 triliun dari Rp3,41 triliun pada akhir tahun lalu. Kenaikan pencadangan tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan tipis portofolio kredit selama enam bulan pertama tahun ini.
Dari sisi permodalan, total ekuitas juga mengalami penurunan menjadi Rp19,77 triliun dari Rp20,82 triliun pada akhir 2025. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh rugi komprehensif lain yang berasal dari perubahan nilai wajar aset keuangan.
Dampaknya terlihat pada total laba komprehensif yang tercatat sebesar Rp68,34 miliar. Nilai tersebut jauh lebih rendah dibandingkan laba bersih yang dibukukan perseroan karena adanya rugi komprehensif lain selama periode berjalan.
BACA JUGA: Kinerja BJB Syariah Merosot 41% pada Semester I 2026
Meski demikian, kondisi likuiditas bank menunjukkan perbaikan. Total aset meningkat menjadi Rp228,25 triliun, didorong pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) menjadi Rp149,69 triliun.
Arus kas dari aktivitas operasional juga berbalik positif menjadi Rp16,07 triliun. Selain itu, penempatan dana pada Bank Indonesia dan bank lain meningkat menjadi Rp17,15 triliun dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya.
Direktur Keuangan bank bjb, Hana Dartiwan, mengatakan perseroan tetap mampu menjaga pertumbuhan kinerja di tengah dinamika industri perbankan.
“Kinerja semester pertama 2026 menunjukkan bank bjb tetap mampu membukukan pertumbuhan laba di tengah dinamika industri perbankan, dengan tetap mengedepankan kualitas aset dan pengelolaan risiko secara prudent,” tulis Hana dalam laporan keuangan perseroan.
Di luar kinerja keuangan, bank bjb juga masih menghadapi proses hukum yang tengah berjalan.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini tengah menyidik dugaan tindak pidana korupsi dalam pengadaan iklan dan beban promosi bank bjb periode 2021–2023. KPK memperkirakan perkara tersebut menimbulkan kerugian negara sekitar Rp222 miliar.
Dalam perkara tersebut, KPK telah menetapkan lima orang sebagai tersangka, termasuk mantan Direktur Utama bank bjb Yuddy Renaldi, Pimpinan Divisi Corporate Secretary Widi Hartoto, serta tiga pihak dari perusahaan swasta. Penyidikan masih berlangsung dengan pemeriksaan sejumlah saksi dan penyitaan aset yang diduga berkaitan dengan perkara tersebut.
Laporan semester I 2026 memperlihatkan bahwa bank bjb masih mampu mencatatkan pertumbuhan laba di tengah kondisi industri perbankan. Namun demikian, perlambatan penyaluran kredit, peningkatan CKPN, penurunan ekuitas, serta proses hukum yang masih berjalan menjadi sejumlah faktor yang akan tetap menjadi perhatian investor dalam mencermati perkembangan perseroan ke depan.

