SMS dan WhatsApp Broadcast Masih Jadi Mesin Uang Terbesar Jatis Mobile

Ilustrasi logo Jatis Mobile dengan elemen Artificial Intelligence, chatbot, WhatsApp Business dan komunikasi digital yang menggambarkan kinerja PT Informasi Teknologi Indonesia Tbk semester I 2026.

DEPOK24JAM – PT Informasi Teknologi Indonesia Tbk (JATI) mencatat lonjakan pendapatan hampir dua kali lipat pada semester I 2026. Namun, pertumbuhan bisnis tersebut belum mampu diterjemahkan menjadi kenaikan laba bersih karena beban penyusutan, amortisasi, dan biaya pendanaan meningkat tajam.

Emiten teknologi yang dikenal melalui Jatis Mobile ini bergerak di bidang enterprise digital solutions, mulai dari Artificial Intelligence (AI), omnichannel customer engagement, CPaaS (Communication Platform as a Service), WhatsApp Business Platform, chatbot, conversational AI, voice AI, contact center, automation, hingga solusi digital bagi perusahaan. Teknologi tersebut digunakan berbagai sektor, mulai dari perbankan, telekomunikasi, ritel, logistik, kesehatan hingga instansi pemerintah.

Model bisnis tersebut membuat JATI memperoleh pendapatan terutama dari layanan komunikasi digital perusahaan, khususnya SMS dan WhatsApp Broadcast, yang masih menjadi kontributor terbesar pendapatan.

Berdasarkan laporan keuangan semester I 2026, pendapatan perseroan melonjak menjadi Rp571,99 miliar, naik 103,7% dibandingkan semester I 2025 sebesar Rp280,77 miliar. Meski demikian, laba bersih justru turun menjadi Rp8,77 miliar dari Rp10,11 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

SMS Broadcast Masih Jadi Mesin Uang Terbesar

Lonjakan pendapatan JATI terutama berasal dari bisnis layanan komunikasi digital.

Berdasarkan rincian pendapatan pada Catatan 22 laporan keuangan, sumber pendapatan perusahaan terdiri atas:

  • SMS Broadcast: Rp343,85 miliar
  • WhatsApp Broadcast: Rp223,13 miliar
  • Jasa lainnya: Rp5,01 miliar

Dengan komposisi tersebut, layanan SMS Broadcast masih menjadi kontributor terbesar terhadap total pendapatan, disusul WhatsApp Broadcast yang terus menunjukkan pertumbuhan seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan dalam berkomunikasi dengan pelanggan melalui platform digital.

Bisnis AI dan Omnichannel Terus Diperluas

Selain layanan messaging, Jatis Mobile dalam beberapa tahun terakhir semakin agresif mengembangkan solusi berbasis Artificial Intelligence.

Produk AI perusahaan mencakup chatbot berbasis AI, conversational AI, intelligent automation, voice bot, analitik pelanggan, hingga solusi yang membantu perusahaan mengotomatisasi layanan pelanggan dan meningkatkan pengalaman pengguna.

Teknologi tersebut dipadukan dengan layanan omnichannel sehingga pelanggan korporasi dapat mengelola komunikasi melalui berbagai kanal seperti WhatsApp, SMS, email, media sosial, dan voice dalam satu platform terintegrasi.

Strategi tersebut menjadi salah satu upaya perusahaan memperluas sumber pendapatan di luar layanan SMS konvensional.

Pendapatan Naik, Laba Justru Turun

Meski pendapatan melonjak lebih dari dua kali lipat, laba bersih perusahaan turun sekitar 13%.

Laporan keuangan menunjukkan laba usaha sebenarnya meningkat menjadi Rp26,09 miliar dari Rp16,63 miliar. Namun setelah memperhitungkan kenaikan biaya pendanaan dan penyusutan, laba sebelum pajak turun menjadi Rp11,66 miliar dibandingkan Rp13,22 miliar pada tahun sebelumnya.

Beberapa pos yang menekan profitabilitas antara lain:

  • Beban depresiasi dan amortisasi melonjak menjadi Rp7,46 miliar dari Rp1,39 miliar.
  • Biaya keuangan meningkat menjadi Rp6,00 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp466 juta pada semester I 2025.

Akibatnya, laba bersih yang dibukukan perusahaan turun menjadi Rp8,77 miliar.

Arus Kas Operasi Berbalik Negatif

Di balik pertumbuhan pendapatan, arus kas operasi justru mengalami tekanan.

Kas bersih dari aktivitas operasi berubah menjadi negatif Rp174,43 miliar, padahal pada semester I 2025 masih positif Rp4,58 miliar. Kondisi tersebut dipengaruhi tingginya pembayaran kepada pemasok, pembayaran karyawan, pajak, serta beban operasional lainnya.

Untuk menjaga likuiditas, perusahaan memperoleh tambahan pinjaman bank sebesar Rp253,04 miliar dan melakukan pembayaran pinjaman sekitar Rp97,38 miliar. Selain itu, perseroan juga membagikan dividen tunai serta membeli kembali saham (treasury stock).

Alhasil, kas dan setara kas pada akhir Juni 2026 turun menjadi Rp25,51 miliar dari Rp61,64 miliar pada awal tahun.

Pertumbuhan Masih Ditopang Digitalisasi Korporasi

Kinerja semester pertama menunjukkan permintaan terhadap layanan komunikasi digital perusahaan masih kuat. Pertumbuhan pendapatan lebih dari 100% mengindikasikan semakin banyak perusahaan yang memanfaatkan platform digital Jatis Mobile untuk menjangkau pelanggan.

Namun, lonjakan biaya pendanaan dan penyusutan menjadi tantangan tersendiri sehingga pertumbuhan pendapatan belum sepenuhnya tercermin pada laba bersih. Ke depan, keberhasilan perusahaan mengembangkan layanan berbasis Artificial Intelligence dan solusi omnichannel bernilai tambah akan menjadi faktor penting untuk meningkatkan margin keuntungan.

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *