GoPay Jadi Mesin Laba Baru GoTo pada Semester I 2026

Ilustrasi logo GoTo dan GoPay dengan grafik keuangan yang menunjukkan peningkatan laba perusahaan pada semester I 2026.

DEPOK24JAM – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) membalik posisi dari rugi menjadi laba sepanjang semester I/2026. Turnaround operasionalnya nyata dan kuat.

Namun, laporan laba rugi interim yang belum diaudit itu menyimpan dua catatan penting. Sebagian laba masih ditopang keuntungan selisih kurs yang bersifat volatil, sementara seluruh kinerja ini merupakan potret sebelum aturan komisi baru yang menekan bisnis inti mulai berlaku.

Induk usaha Gojek dan GoPay itu membukukan laba periode berjalan sebesar Rp423,3 miliar pada enam bulan pertama 2026, berbalik dari rugi Rp742,0 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Angka tersebut merupakan akumulasi laba bersih kuartal I sebesar Rp171 miliar dan kuartal II sebesar Rp252 miliar, sehingga perseroan berhasil mencetak laba selama dua kuartal berturut-turut.

Turnaround Operasional yang Riil

Mesin di balik pembalikan kinerja ini adalah operating leverage. Pendapatan bersih tumbuh 28,5% menjadi Rp10,99 triliun, sedangkan total biaya dan beban hanya meningkat 17,0% menjadi Rp10,21 triliun.

Ketika pendapatan tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan biaya, GoTo berhasil membalikkan rugi usaha Rp171,6 miliar menjadi laba usaha Rp781,9 miliar. Margin usaha pun melonjak dari minus 2,0% menjadi positif 7,1%.

Disiplin biaya yang berulang kali disampaikan manajemen juga tercermin pada laporan keuangan. Beban pokok pendapatan hanya naik 15,4%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan, sementara beban pengembangan produk relatif datar dengan kenaikan hanya 0,9%.

Meski demikian, terdapat satu pos yang layak dicermati, yakni beban umum dan administrasi yang meningkat 27,2%, hampir setara dengan laju pertumbuhan pendapatan. Jika pertumbuhan pendapatan melambat pada paruh kedua tahun ini, pos tersebut berpotensi kembali menekan margin perusahaan.

Kualitas Laba Diuji di Bawah Garis Usaha

Cerita mulai berubah ketika melihat komponen di bawah laba usaha.

Laba sebelum pajak tercatat Rp691,3 miliar, lebih rendah dibandingkan laba usaha akibat tekanan dari sejumlah pos non-operasional.

Yang paling menonjol adalah keuntungan selisih kurs sebesar Rp315,1 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, pos ini justru mencatat rugi Rp44,3 miliar. Dengan demikian, terjadi perubahan sekitar Rp360 miliar yang sepenuhnya berasal dari pergerakan nilai tukar, bukan dari aktivitas operasional perusahaan.

Apabila keuntungan selisih kurs tersebut dikeluarkan, laba sebelum pajak menyusut menjadi sekitar Rp376 miliar. Nilainya memang masih positif, tetapi jauh lebih tipis. Hal ini menunjukkan sebagian bantalan laba tahun ini masih bergantung pada faktor eksternal yang sulit dikendalikan manajemen.

BACA JUGA: Vale (INCO) Korbankan Arus Kas Demi Pertumbuhan 5 Tahun, Laba Melonjak 314%

Menariknya, keuntungan selisih kurs tersebut hampir sepenuhnya diimbangi oleh kerugian penyesuaian nilai wajar instrumen keuangan sebesar Rp328,1 miliar. Dua pos non-operasional dengan nilai besar tersebut praktis saling meniadakan, sehingga semakin menegaskan bahwa laba di bawah garis usaha masih dipengaruhi faktor yang tidak berulang.

Di sisi lain, beban bunga melonjak dari Rp240,5 miliar menjadi Rp388,3 miliar atau naik sekitar 61%, seiring ekspansi bisnis pinjaman. Akibatnya, pendapatan dan biaya keuangan secara keseluruhan masih menghasilkan bunga bersih negatif sekitar Rp60 miliar.

Setelah dikurangi beban pajak penghasilan sebesar Rp268 miliar, laba periode berjalan yang tersisa mencapai Rp423,3 miliar.

Tarif pajak efektif tercatat 38,8%, jauh di atas tarif pajak badan sebesar 22%. Kondisi ini lazim terjadi pada grup usaha dengan banyak entitas anak. Laba dari entitas yang untung tetap dikenai pajak, sementara rugi pada entitas lain tidak dapat digunakan untuk mengurangi beban pajak grup. Hal serupa juga terjadi pada tahun lalu ketika GoTo tetap membayar pajak Rp242,5 miliar meski secara konsolidasi masih membukukan rugi.

Struktur tersebut juga menjelaskan adanya anomali pada laba bersih. Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp607 miliar, lebih besar dibandingkan laba periode berjalan sebesar Rp423,3 miliar. Selisih tersebut menunjukkan kepentingan non-pengendali menanggung rugi sekitar Rp184 miliar, yang mengindikasikan sebagian anak usaha masih mencatat kerugian dan bebannya ditanggung oleh pemegang saham minoritas.

Mesin Utama Melambat Menjelang Aturan Komisi

Di bisnis inti, sinyal perlambatan mulai terlihat.

Gross Transaction Value (GTV) segmen On-demand Services hanya tumbuh 2% menjadi Rp16,7 triliun pada kuartal II/2026, sementara jumlah pesanan yang diselesaikan meningkat tipis 3%. Bahkan, GTV segmen Mobility turun 3%.

Meski demikian, pendapatan bersih Mobility masih mampu tumbuh 20%. Artinya, take rate efektif meningkat dari sekitar 12% menjadi hampir 15%. Dengan kata lain, perseroan memperoleh pendapatan yang lebih besar dari setiap transaksi meski volume pertumbuhannya mulai melambat. Strategi monetisasi tersebut justru diterapkan pada segmen yang akan terdampak langsung oleh aturan pembatasan komisi.

Aturan tersebut, yakni Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026, baru berlaku mulai 1 Juli 2026 dan mengatur batas komisi layanan transportasi roda dua yang menyumbang sekitar 7% pendapatan bersih grup.

Karena aturan tersebut mulai berlaku setelah periode pelaporan berakhir, dampaknya belum tercermin dalam kinerja semester I/2026.

“Dampak dari perubahan komisi ini akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga,” kata Direktur Utama Grup GoTo Hans Patuwo.

Sebagai langkah antisipasi, GoTo memangkas proyeksi EBITDA bisnis On-demand Services sepanjang tahun ini menjadi Rp1,4–1,5 triliun, dari sebelumnya Rp1,7–1,8 triliun.

Penurunan sekitar Rp300 miliar tersebut diimbangi dengan kenaikan target EBITDA bisnis Fintech dalam jumlah yang sama, sehingga target EBITDA grup tetap dipertahankan pada kisaran Rp3,2 triliun – Rp3,4 triliun.

Konsekuensinya, pencapaian target kinerja GoTo kini semakin bergantung pada bisnis Fintech yang terus menunjukkan pertumbuhan di atas ekspektasi. Pada kuartal II/2026, EBITDA yang disesuaikan dari segmen ini melonjak 447%, sementara nilai buku pinjaman meningkat 58% menjadi Rp11 triliun.

Seluruh angka dalam laporan keuangan ini masih berstatus belum diaudit, belum direviu, maupun belum diperiksa, sehingga masih berpotensi mengalami perubahan.

Bersamaan dengan penyampaian kinerja semester I/2026, GoTo juga mengumumkan rencana membatalkan lebih dari 32 miliar saham tresuri atau sekitar 2,7% dari total saham beredar. Rencana tersebut masih menunggu persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

“Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya,” ujar Hans.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *