DEPOK24JAM– Bagi banyak masyarakat Indonesia, nama Bata bukan sekadar merek sepatu. Produk-produknya telah menemani berbagai momen, mulai dari sepatu sekolah yang dipakai sejak SD, sepatu kerja untuk aktivitas harian, hingga sandal dan sneakers yang digunakan untuk berbagai kesempatan. Kini, selain melalui ratusan gerai di berbagai kota, produk Bata juga dipasarkan melalui kanal digital sehingga semakin mudah dijangkau konsumen.
Di balik kedekatan merek tersebut dengan masyarakat, PT Sepatu Bata Tbk (BATA) masih menghadapi tantangan dari sisi kinerja keuangan. Sepanjang semester I 2026, perseroan mencatat penurunan penjualan yang diikuti meningkatnya rugi bersih dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pergerakan Saham BATA
Berikut grafik pergerakan saham PT Sepatu Bata Tbk (BATA) sebagai pelengkap informasi kinerja perseroan.
Sumber: Narastock.
Berdasarkan laporan keuangan hingga 30 Juni 2026, penjualan perseroan tercatat sebesar Rp152,35 miliar, turun sekitar 4,4% dibandingkan Rp159,44 miliar pada semester I 2025.
Meski penjualan menurun, perusahaan berhasil menekan beban pokok penjualan menjadi Rp86,37 miliar dari Rp93,33 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perbaikan tersebut membuat laba bruto relatif stabil di kisaran Rp65,98 miliar, tidak jauh berbeda dibandingkan Rp66,10 miliar setahun sebelumnya.
Namun efisiensi pada biaya produksi belum mampu menutup kenaikan beban operasional. Beban penjualan meningkat menjadi Rp75,20 miliar dari Rp68,66 miliar, sementara beban umum dan administrasi naik menjadi Rp35,24 miliar dari Rp27,57 miliar. Kenaikan kedua pos tersebut menjadi salah satu penyebab tekanan terhadap kinerja perusahaan selama enam bulan pertama tahun ini.
Di sisi lain, terdapat beberapa perbaikan. Beban bunga dan keuangan berhasil ditekan menjadi Rp3,90 miliar, turun dari Rp8,16 miliar pada semester I 2025. Perseroan juga membukukan keuntungan transaksi perdagangan efek sebesar Rp1,35 miliar, berbalik dari kerugian pada periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian, perbaikan tersebut belum cukup membawa perseroan kembali mencetak laba. Hingga akhir Juni 2026, Bata masih membukukan rugi bersih sebesar Rp46,46 miliar, meningkat dibandingkan rugi Rp40,52 miliar pada semester I tahun lalu.
Rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp46,31 miliar, lebih besar dibandingkan Rp40,42 miliar pada semester I 2025. Sejalan dengan itu, rugi per saham juga meningkat menjadi Rp35,62 dari Rp31,09.
Tekanan juga terlihat pada arus kas operasional. Jika pada semester I 2025 perusahaan masih mencatat arus kas operasi positif sebesar Rp14,19 miliar, maka pada semester I tahun ini arus kas dari aktivitas operasi berubah menjadi negatif sebesar Rp10,47 miliar.
Produk Bata yang Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari
Bata merupakan salah satu merek alas kaki yang telah hadir di Indonesia sejak 1931. Selama puluhan tahun, produk-produknya menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat, mulai dari anak sekolah, pekerja kantoran, hingga keluarga.
Saat ini Bata tidak hanya menjual sepatu sekolah yang menjadi ikon perusahaan. Perseroan juga menawarkan berbagai kategori produk seperti sepatu formal pria dan wanita, sepatu kasual, sneakers, sandal, sepatu olahraga, sepatu anak, tas, kaus kaki, hingga produk perawatan sepatu.
Perusahaan juga membawahi sejumlah merek yang cukup dikenal masyarakat, antara lain North Star untuk sneakers kasual, Power untuk alas kaki olahraga, Bubblegummers yang menyasar segmen anak-anak, Weinbrenner untuk aktivitas outdoor, Comfit yang mengutamakan kenyamanan, serta Bata Red Label dan Pata-Pata yang melayani berbagai segmen konsumen.
Produk-produk tersebut dipasarkan melalui jaringan toko Bata di berbagai daerah, dealer, pusat perbelanjaan, serta platform belanja online resmi perusahaan sehingga tetap mudah dijangkau masyarakat.
Laporan semester I 2026 menunjukkan bahwa perseroan masih menghadapi tekanan dari penurunan penjualan dan meningkatnya beban operasional. Di sisi lain, perusahaan mampu memperbaiki efisiensi biaya produksi serta menurunkan beban bunga. Ke depan, perbaikan kinerja operasional akan menjadi faktor penting dalam upaya perseroan mengembalikan profitabilitasnya.

