Oleh: Dr Yulina Eva Riany
Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak IPB University
DEPOK24JAM– Pemerintah melalui kebijakan terbaru, yakni Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026, resmi mengatur larangan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun. Kebijakan ini menjadi langkah strategis dalam melindungi anak dari berbagai risiko di ruang digital.
Mulai dari paparan konten negatif, perundungan siber (cyberbullying), kecanduan media sosial, hingga eksploitasi daring menjadi alasan utama hadirnya regulasi ini. Meski tidak sepenuhnya mampu menutup celah seperti pemalsuan usia, aturan ini tetap penting sebagai fondasi perlindungan awal bagi anak.
kolaborasi jadi kunci keberhasilan kebijakan
Agar kebijakan ini efektif, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, platform digital, dan masyarakat. Platform media sosial didorong untuk memperkuat sistem perlindungan anak, terutama dalam hal verifikasi usia.
Saat ini, sebagian besar platform masih menggunakan sistem deklarasi mandiri yang mudah dimanipulasi. Ke depan, diperlukan teknologi verifikasi usia yang lebih akurat, seperti kecerdasan buatan (AI), identitas digital, hingga persetujuan orang tua (parental consent).
Selain itu, platform juga perlu menerapkan desain ramah anak, seperti:
-
membatasi interaksi dengan orang asing
-
mengatur akun menjadi privat secara otomatis
-
membatasi waktu penggunaan
-
memperketat moderasi konten berbahaya
Langkah ini penting agar media sosial tidak hanya menjadi tempat hiburan, tetapi juga ruang yang aman bagi pengguna muda.
literasi digital jadi pondasi utama
Regulasi saja tidak cukup tanpa diiringi literasi digital. Anak perlu memahami risiko dunia digital, sementara orang tua harus mampu membimbing penggunaan teknologi secara sehat.
Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan gadget, tetapi juga memahami dampak sosial, psikologis, dan keamanan dari aktivitas online. Anak perlu mengenal risiko seperti:
-
perundungan siber
-
penyebaran hoaks
-
eksploitasi data pribadi
-
kecanduan media sosial
Di sisi lain, orang tua juga harus melek digital agar pengawasan terhadap anak bisa berjalan efektif.
pengawasan dan penegakan aturan harus tegas
Tanpa pengawasan yang kuat, regulasi berpotensi hanya menjadi simbol kebijakan. Pemerintah perlu menetapkan standar perlindungan anak yang wajib dipatuhi oleh semua platform digital.
Standar tersebut meliputi:
-
verifikasi usia yang kredibel
-
perlindungan data anak
-
moderasi konten ketat
-
sistem pelaporan yang mudah diakses
Selain itu, harus ada sanksi tegas bagi platform yang tidak mematuhi aturan, agar regulasi benar-benar memiliki daya dorong.
pentingnya ruang digital ramah anak
Pembatasan media sosial bukan berarti menjauhkan anak dari dunia digital sepenuhnya. Anak tetap membutuhkan ruang untuk belajar, berkreasi, dan berinteraksi.
Karena itu, pemerintah dan sektor teknologi perlu mendorong pengembangan platform digital ramah anak yang:
-
edukatif
-
aman
-
sesuai tahap perkembangan anak
Dengan begitu, anak tetap bisa memanfaatkan teknologi tanpa terpapar risiko yang berbahaya.
peran orang tua tetap yang utama
Meski sudah ada regulasi, peran orang tua tetap menjadi faktor paling penting dalam perlindungan anak di dunia digital.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua:
-
melakukan pendampingan aktif saat anak menggunakan internet
-
membangun komunikasi terbuka
-
menetapkan aturan penggunaan gadget
-
menjadi contoh dalam penggunaan teknologi
Pengawasan orang tua bukan sekadar kontrol, tetapi juga proses edukasi agar anak mampu menggunakan teknologi secara bijak.
celah manipulasi usia masih jadi tantangan
Salah satu tantangan terbesar adalah sistem deklarasi usia yang masih mudah dimanipulasi. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan:
-
penguatan sistem verifikasi usia
-
regulasi yang mendorong tanggung jawab platform
-
edukasi etika digital kepada anak
-
pengawasan lebih kuat dari orang tua
Tanpa perbaikan di aspek ini, perlindungan anak di ruang digital akan sulit berjalan maksimal.
solusi agar anak tetap bisa belajar di era digital
Pembatasan media sosial tidak boleh menghambat proses belajar anak. Beberapa solusi yang bisa dilakukan antara lain:
-
memanfaatkan platform pendidikan digital
-
menyediakan ruang digital khusus anak
-
memperkuat peran sekolah dalam pembelajaran digital
-
pendampingan orang tua dalam aktivitas online
-
meningkatkan literasi digital sejak dini
Dengan pendekatan ini, anak tetap bisa mendapatkan manfaat teknologi tanpa harus terekspos risiko yang tinggi.

