margonda depok

Mengenal Sosok Margonda, Pejuang yang Jadi Nama Jalan Utama di Depok

35

DEPOK- Nama Margonda lebih banyak dikenal sebagai salah satu nama jalan raya di Kota Depok. Jalan Raya Margonda terletak di pusat Kota Depok, dengan panjang sekitar 3 kilometer. Jalan ini terbentang dari gerbang selamat datang yang ada dekat kampus UI, hingga melewati Balai Kota Depok dengan batas Jalan Kartini dan Jalan Siliwangi.

Penamaan jalan ini berasal dari nama pahlawan yang bernama Margonda. Terdapat dua versi mengenai tempat kelahiran Margonda.

Alwi Shahab dalam cerita “Kisah Margonda dan Tole Iskandar” menyebut Margonda lahir dan besar di Bogor dengan nama Margana. Keluarganya tinggal di Jalan Ardio. Sementara itu, Wenri Wanhar, dalam kisah “Margonda Sang Legenda Revolusi” menyatakan Margonda lahir di Baros, Cimahi, pada tahun 1918.

Menurut Yano Jonatahans, dalam Depok Tempo Dulu (2011), di masa akhir kolonial Hindia Belanda, Margonda pernah mengikuti kursus sebagai analis kimia di Bogor. Selain itu, Margonda juga sempat menempuh sekolah penerbangan. Di masa pendudukan Jepang, Margonda bekerja untuk lembaga pertanian di Bogor.

Di Bogor pula Margonda menemukan belahan jiwanya. Wenri Wanhar, dalam “Kisah Cinta Margonda” di Historia, mengisahkan Margonda menikah dengan Maemunah pada tanggal 24 Juni 1943. Semenjak menikah, mereka tinggal di rumah keluarga Maemunah di Bogor.

Margonda kemudian turut dalam rangka mempertahankan kemerdekaan dengan mendirikan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI). “AMRI pimpinan Margonda lebih dahulu berdiri dibanding BKR (Badan Keamanan Rakyat)”, dalam buku Sejarah Perjuangan Bogor yang ditulis oleh para pelaku sejarah dan beberapa wartawan.

AMRI bermarkas di Jalan Merdeka, Bogor. Umur kelompok ini relatif singkat. Mereka pecah dan anggotanya bergabung dengan BKR, Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia), KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi).

Depok saat itu merupakan daerah istimewa karena memiliki otonomi khusus sebagai tanah partikelir sejak zaman kolonial Hindia Belanda. Depok dianggap tak mau tunduk kepada pemerintah republik yang baru merdeka. Akibatnya, Depok digempur oleh laskar – laskar dan BKR yang kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dari berbagai penjuru.

Baca Juga: Kebijakan Angkot Dan Motor Masuk Jalur Lambat Margonda Dinilai Tak Efektif

Margonda bersama kawan seperjuangan menyerbu Depok pada tanggal 11 Oktober 1945. Dampak dari penyerbuan tersebut, Depok dapat dikuasai oleh pejuang republik. Namun, ini tidak bertahan lama. Pasukan sekutu dan Belanda dapat merebut Depok. Hal ini membuat para pejuang republik menyusun strategi untuk merebut kembali Depok.

Margonda menyusun siasat untuk melancarkan serbuan balasan sekaligus merebut kembali wilayah Depok dari tangan sekutu dan Belanda. Serangan yang telah direncanakan, berhasil dilaksanakan pada tanggal 16 November 1945, menurut Wenri Wanhar dalam Gedoran Depok: Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945 – 1955 (2012).

Dalam serangan tersebut, Margonda gugur di Kalibata, Depok. Dadanya tertembus peluru tentara Belanda ketika akan melempar granat. Lantas, granat dalam genggamannya meledak dan membuat tubuhnya hancur.

Kematiannya yang tragis membuat kabar tentangnya menjadi tidak jelas. Menurut Wenri Wanhar, kabar mengenai Margonda baru dapat diketahui empat tahun setelah pertempuran. Maemunah, istrinya akhirnya mengetahui jika suaminya, Margonda telah gugur.

Klik Sumber Gambar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lebih Tahu Depok