Di Era Kemajuan AI, Ternyata Perempuan Hanya Masih Menjadi Objek

DEPOK– Kecerdasan buatan saat berkembang cukup pesat. Artificial Intelligence (AI) banyak digunakan oleh banyak kalangan, termasuk perempuan salah satunya. Tapi ternyata ada fakta mencengangkan di balik pesatnya perkembangan AI saat ini.

Peneliti gender yang juga dosen senior Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Pancasila, Fitria Angeliqa menguak sisi lain di balik pesatnya penggunaan AI saat ini oleh kaum perempuan.

Fitri mengungkapkan bahwa AI belum ramah terhadap kaum perempuan. Hal itu terlihat dari sajian dan belum banyaknya perempuan yang memanfaatkan AI untuk mendukung produktivitas mereka.

Dari hasil riset yang dilakukan pihaknya terlihat bahwa perempuan menggunakan AI untuk hal-hal yang konsumtif, ketimbang hal-hal yang produktif.

“Walaupun perempuan menjalankan bisnis, tapi ternyata penggunaan AI itu lebih digunakan untuk hal-hal yang konsumtif dan keseharian mereka dan bukan membantu bisnisnya pada akhirnya, jadi bahaya,” katanya usai diskusi AI For Her bertajuk ‘AI 101: Bestie Baru Era Digital’, Minggu (24/5/2026).

Kegiatan ini merupakan program dari Female Life Academy bekerjasama dengan Think.Women, Female Circle, Ladies In Tech, dan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila.

Kegiatan ini dirancang untuk membantu perempuan memahami penggunaan AI secara lebih praktis, kritis, dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari.

Fitri yang merupakan peneliti gender mengungkapkan, penyedia arsitektur AI sendiri kebanyakan laki-laki. Hal itu yang membuat suara perempuan tidak terakomodir, sehingga perempuan harus men-translate keinginannya berkali-kali supaya bisa dipahami oleh AI tersebut dan membantu produktifitasnya.

“(AI) belum ramah perempuan karena memang belum banyak ternyata perempuan di dalamnya. Tadi ada yang cerita belum banyak secara arsitekturnya, yang mengisi prompting pun belum banyak. Jadi tadi itu prompting perempuan lebih banyak soal estetik, seperti ngedit foto. Jadi bukan untuk belajar untuk sesuatu yang rumit,” tegasnya.

Dalam isu kesehatan saja, ucap Fitri, perempuan yang menjadi pengguna utama dengan mencari informasi gejala penyakit lewat platform kesehatan justru memiliki beban ganda. Dimana perempuan harus mencari literasi kesehatan kemudian juga dibebankan sebagai penanggung jawab utama perawatan anggota keluarga.

“Mengingat beban kerja perempuan yang kompleks, perempuan seharusnya menjadi target utama AI untuk meringkas dan mempermudah pekerjaan mereka dalam satu sistem yang ramah pengguna,” tukasnya.

AI harus digunakan untuk membangun kesadaran gender, kesehatan diri yang lebih baik, serta meringankan banyak beban sosial perempuan.

Bagi Fitri, perempuan perlu diajarkan menggunakan AI untuk mempelajari hal-hal baru, seperti membaca literatur, memahami isu gender agar mampu mengenali ketidakberesan sosial dan menolak normalisasi kekerasan, seperti KDRT atau kekerasan seksual.

Selain itu, perempuan harus memanfaatkan AI agar berdaya secara ekonomi tanpa ketergantungan penuh pada pihak lain.

“Misal mampu analisis pasar dan melakukan promosi sendiri tanpa melibatkan pihak ketiga,” tegasnya.

Ia meminta industri teknologi untuk mengubah ritme dan desain AI agar tidak melulu teknis, melainkan lebih memberdayakan diri bagi perempuan dan anak-anak.

Fitria mengatakan AI seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai alat pemberdayaan perempuan, termasuk membantu mengurangi beban kerja domestik maupun pekerjaan multitasking yang selama ini banyak dihadapi perempuan.

“AI seharusnya bisa membuat perempuan lebih empower. Misalnya lebih sadar soal kesehatan, soal gender, dan membantu meringkaskan banyak pekerjaan perempuan dalam satu waktu,” tuturnya.

Menurutnya, pemahaman mengenai prompting menjadi salah satu kunci agar AI benar-benar mampu membantu aktivitas perempuan secara praktis dan efisien.

“Ketika kita tahu prompting apa yang harus dimasukkan, sebenarnya AI bisa membantu meringkaskan banyak pekerjaan perempuan,” ungkapnya.

Ia berharap perkembangan industri teknologi ke depan dapat semakin ramah terhadap kebutuhan perempuan dan anak-anak, termasuk dalam menghadirkan sistem AI yang lebih inklusif dan mudah diakses semua kalangan.

“Industri seharusnya mengikuti ritme kebutuhan perempuan, bukan membuat teknologi menjadi terlalu teknis. Tapi justru harus lebih ramah terhadap perempuan maupun anak-anak,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *