Bogor24Jam.com – Bogor yang selama ini dikenal sebagai Kota Hujan dengan udara sejuk kini mulai mengalami perubahan. Dalam beberapa waktu terakhir, suhu udara pada siang hari terasa lebih menyengat, bahkan mencapai kisaran 32–34 derajat Celsius, sementara intensitas hujan juga cenderung berkurang.
Kondisi tersebut membuat banyak masyarakat bertanya-tanya, apakah cuaca panas di Bogor masih tergolong normal atau justru menjadi tanda dampak perubahan iklim yang semakin nyata?
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr. Givo Alsepan, menjelaskan bahwa peningkatan suhu udara di Bogor dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor. Mulai dari fenomena iklim global, pemanasan global, hingga perubahan tutupan lahan akibat pesatnya urbanisasi.
Suhu Normal Bogor Berapa Derajat?
Menurut Dr. Givo, secara klimatologis suhu udara rata-rata di wilayah Bogor berada pada kisaran 25,5 hingga 27 derajat Celsius. Namun, pada periode tertentu suhu dapat meningkat akibat pengaruh fenomena iklim global, terutama El Nino-Southern Oscillation (ENSO).
“Secara klimatologis, suhu udara rata-rata di wilayah Bogor berkisar antara 25,5 hingga 27 derajat Celsius. Namun, dalam periode tertentu kondisi tersebut dapat berubah akibat pengaruh fenomena iklim global, terutama El Nino-Southern Oscillation (ENSO),” ujarnya.
El Nino Jadi Salah Satu Penyebab Cuaca Panas di Bogor
ENSO merupakan fenomena interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik tropis yang memiliki dua fase, yaitu El Nino dan La Nina.
Saat terjadi El Nino, suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat. Akibatnya, pusat pembentukan awan bergeser ke arah timur Pasifik sehingga pasokan uap air menuju Indonesia berkurang. Dampaknya, curah hujan menurun dan sinar matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi.
“Saat ini El Nino sedang berkembang di Samudra Pasifik tropis dan diprediksi berlangsung hingga akhir tahun 2026. Pergeseran awan dari wilayah Indonesia menuju Pasifik menyebabkan tutupan awan berkurang sehingga radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi. Kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab masyarakat Bogor merasakan cuaca lebih panas dibanding biasanya,” jelasnya.
Perubahan Iklim Jadi Penyebab Utama Kenaikan Suhu
Meski demikian, Dr. Givo menegaskan bahwa El Nino hanya menjadi faktor pemicu dalam jangka pendek. Penyebab yang lebih besar adalah perubahan iklim global yang membuat tren suhu terus meningkat dari tahun ke tahun.
Berdasarkan data klimatologi, suhu rata-rata tahunan di wilayah Bogor menunjukkan tren kenaikan yang konsisten sejak sekitar tahun 1990. Kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya suhu rata-rata bumi akibat pemanasan global.
“Perubahan iklim dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya suhu udara di Bogor. Jika tidak ada upaya mitigasi yang serius, tren pemanasan ini akan terus berlanjut,” katanya.
Fenomena Urban Heat Island Perparah Kondisi
Selain dipengaruhi faktor global, perubahan bentang alam di Bogor juga ikut memperburuk kondisi suhu udara.
Berkurangnya ruang terbuka hijau serta meningkatnya pembangunan kawasan permukiman dan perkotaan menyebabkan munculnya fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan, yaitu kondisi ketika suhu di kawasan perkotaan lebih tinggi dibanding wilayah sekitarnya.
Mengutip penelitian Nurwanda dan Honjo (2018), Dr. Givo menjelaskan bahwa ekspansi kawasan perkotaan di Bogor berlangsung sangat pesat, khususnya pada periode 1997–2007.
Penelitian tersebut menunjukkan perbedaan suhu antara kawasan urban dan suburban meningkat dari sekitar 1,36 derajat Celsius pada 1990 menjadi hampir 2,26 derajat Celsius pada 2017.
Menurutnya, pembangunan yang tidak diimbangi dengan perlindungan ruang terbuka hijau akan semakin memperkuat dampak perubahan iklim di tingkat lokal.
Cara Mengurangi Dampak Cuaca Panas di Bogor
Dr. Givo menilai masyarakat dan pemerintah sama-sama memiliki peran penting dalam mengurangi dampak meningkatnya suhu udara.
Masyarakat dapat berkontribusi melalui penghijauan lingkungan, menanam pohon, serta menerapkan desain bangunan yang lebih adaptif terhadap suhu panas. Sementara itu, pemerintah perlu memperkuat tata ruang berbasis iklim dan memperluas ruang terbuka hijau.
“Pohon merupakan solusi alami yang efektif untuk menurunkan suhu udara, mengurangi efek urban heat island, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan,” pungkasnya.

