DEPOK24JAM – PT Pegadaian (Persero) memperoleh sentimen positif dari pasar modal setelah PT Fitch Ratings Indonesia menetapkan peringkat nasional jangka panjang AAA(idn), atau peringkat tertinggi dalam skala nasional, terhadap sejumlah program obligasi dan sukuk yang akan diterbitkan perseroan. Total plafon pendanaan yang memperoleh peringkat tersebut mencapai Rp40 triliun.
Program yang memperoleh peringkat tersebut meliputi Obligasi Berkelanjutan VII senilai maksimal Rp25 triliun, Sukuk Mudharabah Berkelanjutan IV sebesar Rp5 triliun, Obligasi Berwawasan Sosial Berkelanjutan II senilai Rp7 triliun, serta Sukuk Mudharabah Berwawasan Sosial Berkelanjutan II sebesar Rp3 triliun. Seluruh penerbitan Tahap I Tahun 2026 juga mendapat peringkat yang sama.
Peringkat Tertinggi untuk Instrumen Utang
Dalam laporan yang disusun oleh Roy Purnomo, Director sekaligus Primary Rating Analyst Fitch Ratings Indonesia, dijelaskan bahwa peringkat nasional AAA(idn) merupakan kategori tertinggi dalam skala nasional. Peringkat ini diberikan kepada emiten atau instrumen utang yang memiliki ekspektasi risiko gagal bayar paling rendah dibandingkan instrumen lainnya di Indonesia.
Menurut Fitch, penilaian tersebut menunjukkan kualitas kredit Pegadaian yang sangat kuat. Dengan profil kredit tersebut, perusahaan dinilai memiliki kemampuan yang sangat baik untuk memenuhi seluruh kewajiban finansial kepada investor sesuai ketentuan yang berlaku.
Dana untuk Modal Kerja dan Pembiayaan Sosial
Fitch juga mengungkap rincian penerbitan tahap pertama. Obligasi akan diterbitkan dalam dua seri, yaitu Seri A dengan tenor 370 hari dan Seri B dengan tenor tiga tahun. Sukuk mudharabah juga diterbitkan dalam dua seri dengan jangka waktu yang sama.
Dana hasil penerbitan obligasi dan sukuk akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja Pegadaian. Sementara itu, dana yang diperoleh dari obligasi sosial dan sukuk sosial akan dialokasikan untuk pembiayaan yang sesuai dengan Sustainable Finance Framework atau kerangka pembiayaan berkelanjutan perusahaan.
Perlindungan Investor Dinilai Kuat
Dalam analisisnya, Fitch menyebut seluruh obligasi Pegadaian merupakan kewajiban langsung tanpa jaminan yang memiliki kedudukan setara (pari passu) dengan kewajiban tanpa jaminan lainnya milik perusahaan. Kondisi ini memberikan perlakuan yang sama kepada seluruh pemegang obligasi.
Untuk sukuk mudharabah, Fitch menilai instrumen tersebut memiliki tingkat perlindungan kredit yang setara dengan obligasi. Pembayaran kepada investor tetap bergantung pada kemampuan Pegadaian memenuhi seluruh kewajiban yang tercantum dalam dokumen transaksi.
Ada Kewajiban yang Harus Dipenuhi
Laporan tersebut menjelaskan bahwa Pegadaian wajib membayar bagi hasil tepat waktu, menyediakan dana pada rekening agen pembayaran sebelum tanggal pembayaran, serta mengembalikan pokok investasi kepada pemegang sukuk saat jatuh tempo.
Apabila perusahaan terlambat memenuhi kewajiban tersebut, kondisi itu dapat dikategorikan sebagai wanprestasi (event of default) sesuai ketentuan dalam dokumen transaksi yang mengatur penerbitan sukuk.
Dukungan BRI Perkuat Peringkat
Selain mempertimbangkan kondisi keuangan Pegadaian, Fitch juga menilai perusahaan memiliki potensi memperoleh dukungan luar biasa dari induk usahanya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, apabila sewaktu-waktu diperlukan. Faktor ini menjadi salah satu dasar yang memperkuat penetapan peringkat AAA(idn).
Peringkat Bisa Berubah
Fitch menjelaskan bahwa peluang kenaikan peringkat saat ini sudah tidak tersedia karena Pegadaian telah berada pada level tertinggi dalam skala nasional. Namun, peringkat tetap dapat berubah apabila terjadi perubahan terhadap profil kredit perusahaan di masa mendatang.
Apabila peringkat nasional jangka panjang Pegadaian mengalami penurunan, maka peringkat obligasi maupun sukuk yang diterbitkan perusahaan juga berpotensi ikut diturunkan. Sebaliknya, selama profil kredit tetap kuat, peringkat dapat dipertahankan.
Fitch menegaskan bahwa peringkat kredit bukan merupakan rekomendasi untuk membeli, menjual, maupun mempertahankan suatu efek. Peringkat hanya mencerminkan opini mengenai kualitas kredit suatu instrumen. Oleh karena itu, keputusan investasi tetap harus mempertimbangkan tujuan investasi dan profil risiko masing-masing investor.

