Menjangkau Nusantara, Melindungi Generasi : Komdigi dan Klinik Digital Luncurkan Buku Saku PP TUNAS dalam 20 Bahasa Daerah

DEPOK– Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) kembali memperkuat implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) melalui peluncuran Buku Saku Panduan Orang Tua mengenai PP TUNAS dan Pengasuhan Digital dalam 20 bahasa daerah.

Pengembangan dan penerjemahan buku saku tersebut dilakukan bersama Klinik Digital, yang merupakan bagian dari Yayasan Ruang Karya Berdampak (RKD), sebagai upaya menghadirkan materi literasi digital yang lebih inklusif, kontekstual, dan mudah dipahami oleh masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Peluncuran buku saku tersebut dilaksanakan dalam kegiatan “Tunas Indonesia Cakap Digital” bertema “Peringatan Bersama Hari Anak Nasional 2026 dan Girls in ICT Day 2026”, yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Literasi Digital, Badan Pengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan Digital RI, bekerja sama dengan Pusat Kerja Sama Internasional Komdigi dan International Telecommunication Union (ITU) di Garuda Spark Innovation Hub (Ganara Art), FX Sudirman, Jakarta.

Kegiatan dibuka langsung oleh Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafid, serta dihadiri lebih dari 300 peserta yang terdiri atas siswa, kepala sekolah, guru, organisasi internasional, industri teknologi, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan yang bersama-sama memperkuat pelindungan anak di ruang digital.

Kolaborasi antara Komdigi dan Klinik Digital bukanlah kerja sama yang baru dimulai. Sejak 2021, Klinik Digital secara aktif mendukung berbagai program pemerintah sebagai bagian dari Jejaring Nasional Literasi Digital Siberkreasi bersama lebih dari 120 organisasi seperti ICT Watch, Relawan TIK, ECPAT Indonesia, perguruan tinggi, media, komunitas, dan organisasi masyarakat sipil lainnya.

Salah satu kolaborasi terbesar diwujudkan melalui Program Makin Cakap Digital, yang pada periode 2021–2022 berhasil menjangkau lebih dari lima juta masyarakat Indonesia melalui pelatihan, edukasi, dan kampanye literasi digital di berbagai daerah.

Kolaborasi tersebut terus berkembang. Pada 2025, Komdigi kembali mempercayakan Klinik Digital untuk bersama-sama mengembangkan 10 Modul Literasi Digital C-A-B-E (Cakap, Aman, Budaya, dan Etis) yang dirancang bagi berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi, lengkap dengan materi untuk siswa, guru, orang tua, dan dosen.

Tahun 2026, kerja sama tersebut kembali diperluas melalui penerjemahan Buku Saku PP TUNAS ke dalam 20 bahasa daerah, sehingga pesan mengenai pelindungan anak di ruang digital dapat dipahami lebih luas oleh keluarga Indonesia sesuai dengan konteks budaya dan bahasa masing-masing.

Founder Klinik Digital sekaligus Associate Professor Vokasi Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, menegaskan bahwa penggunaan bahasa daerah dalam program literasi digital merupakan strategi komunikasi publik yang didasarkan pada bukti ilmiah, bukan sekadar penerjemahan bahasa.

“Berbagai penelitian dalam bidang komunikasi, linguistik, pendidikan, dan ilmu kognitif menunjukkan bahwa bahasa ibu bukanlah penghalang untuk mempelajari pengetahuan baru, melainkan justru menjadi jembatan yang mempercepat proses belajar,” katanya, Kamis (23/7/2026).

Sebuah penelitian terbaru di Afrika menunjukkan bahwa anak-anak yang diperbolehkan menggunakan bahasa yang mereka kuasai di rumah ketika mempelajari bahasa Inggris justru memiliki pemahaman konsep yang lebih baik, partisipasi belajar yang lebih tinggi, serta rasa percaya diri yang lebih kuat dibandingkan ketika mereka dipaksa meninggalkan bahasa ibunya sejak awal.

“Temuan tersebut menegaskan bahwa pengetahuan akan lebih mudah diterima ketika disampaikan melalui bahasa yang paling dekat dengan pengalaman hidup seseorang,” ujarnya.

Menurut Wiratri Anindhita dari Klinik Digital, prinsip yang sama berlaku dalam membangun literasi digital masyarakat Indonesia. Pesan menjadi lebih mudah dipahami, lebih dipercaya, lebih mudah didiskusikan di dalam keluarga, dan pada akhirnya lebih mungkin diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketika orang tua menerima informasi mengenai keamanan digital, perlindungan data pribadi anak, maupun pengasuhan di ruang digital menggunakan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari, yang berpindah bukan hanya kata-kata, tetapi juga makna, nilai, konteks budaya, dan pengalaman hidup,” katanya.

Mila Viendyasari, Ketua Yayasan Ruang Karya Berdampak (RKD) menambahkan bahwa Indonesia memerlukan pendekatan literasi digital yang menghargai keberagaman bahasa sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional.

Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah. Karena itu, menghadirkan Buku Saku PP TUNAS dalam 20 bahasa daerah bukan hanya bentuk pelestarian budaya, tetapi merupakan strategi komunikasi publik berbasis bukti (evidence-based public communication).

“Transformasi digital yang inklusif berarti memastikan setiap keluarga Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk memahami hak, tanggung jawab, serta cara melindungi anak di ruang digital tanpa dibatasi oleh bahasa yang mereka gunakan sehari-hari. Bahasa daerah sesungguhnya merupakan bagian dari infrastruktur pengetahuan bangsa,” katanya.

Sementara itu, Rizky Ameliah, Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital pada Badan Pengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan Digital, menegaskan bahwa keberhasilan literasi digital nasional merupakan hasil kolaborasi yang dibangun secara konsisten antara pemerintah, industri, akademisi, media, dan masyarakat sipil.

“Klinik Digital merupakan salah satu anggota aktif Jejaring Nasional Literasi Digital Siberkreasi bersama lebih dari 120 organisasi seperti ICT Watch, Relawan TIK, ECPAT Indonesia, perguruan tinggi, media, dan berbagai organisasi masyarakat sipil lainnya. Kehadiran jejaring ini menjadi kekuatan utama dalam memperluas jangkauan literasi digital hingga ke berbagai wilayah Indonesia,” katanya.

Penerima Australian Awards 2019 ini menambahkan bahwa pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun masyarakat digital.

Melalui kolaborasi pemerintah bersama jejaring Siberkreasi, termasuk dalam Program Makin Cakap Digital pada tahun 2021–2022, edukasi literasi digital berhasil menjangkau lebih dari lima juta masyarakat Indonesia. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa membangun masyarakat digital merupakan kerja bersama.

“Karena itu, penerjemahan Buku Saku PP TUNAS ke dalam berbagai bahasa daerah menjadi salah satu ikhtiar negara bersama para pegiat literasi digital agar semakin banyak keluarga Indonesia dapat memahami substansi pelindungan anak di ruang digital sesuai dengan konteks bahasa dan budaya masing-masing,” katanya.

Dalam sambutannya, Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafid, menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan pelindungan terhadap anak.

“Kemajuan digital harus berjalan seiring dengan pelindungan anak. Membangun ruang digital yang aman merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, industri, dunia pendidikan, orang tua, dan masyarakat,” katanya.

Kepala Badan Pengembangan SDM Komunikasi dan Digital, Bonifasius Wahyu Pudjianto, menegaskan bahwa membangun generasi digital merupakan tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan.

Sementara itu, Kishore Babu Yerraballa menyoroti pentingnya memperluas akses keterampilan digital bagi anak perempuan melalui momentum Girls in ICT Day. Perwakilan Canva Indonesia, Stefanie Herlie, juga menekankan pentingnya kreativitas digital sebagai kompetensi masa depan.

Selain peluncuran Buku Saku PP TUNAS dalam 20 bahasa daerah, kegiatan juga menghadirkan Talkshow Tunas Indonesia Cakap Digital, Dongeng Tunas Digital, Workshop Learn & Explore with AI, Workshop Digital Parenting, serta berbagai booth edukatif interaktif yang melibatkan Google, Canva, Meta, TikTok, Blibli.com, Nutrifood, Betadine, Indonesia Child Online Protection (ID-COP), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, KPAI, Relawan TIK, ICT Watch, serta berbagai mitra strategis lainnya.

Sejak didirikan pada 2018, Klinik Digital telah menjangkau lebih dari 20.000 peserta melalui berbagai program literasi digital, mengembangkan lebih dari 75 buku, modul, dan bahan ajar, serta menjadi mitra berbagai kementerian, perguruan tinggi, media, organisasi masyarakat sipil, dan perusahaan teknologi.

Klinik Digital juga beberapa kali mewakili Indonesia dalam forum internasional, di antaranya Asia Pacific News Literacy Conference, Trusted Media Summit APAC di Google Singapura, forum OECD di Paris, serta bersama jejaring peneliti internasional menerima Rural Communication Service Research Award di Nanyang Technological University (NTU), Singapura, atas kontribusinya dalam pengembangan riset komunikasi digital berbasis masyarakat.

Peluncuran Buku Saku PP TUNAS dalam 20 bahasa daerah menegaskan bahwa transformasi digital Indonesia tidak hanya dibangun melalui pengembangan teknologi, tetapi juga melalui pembangunan ekosistem pengetahuan yang menghargai keberagaman bahasa, budaya, dan karakter masyarakat Indonesia.

Melalui kolaborasi yang telah terjalin sejak 2021 dan terus berkembang hingga saat ini, Komdigi bersama Klinik Digital dan seluruh jejaring Siberkreasi menunjukkan bahwa literasi digital yang berdampak lahir dari kerja bersama yang berkelanjutan, berbasis bukti, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *