Bos Persib Glenn Sugita Kawal NexAI (MGLV) Tinggalkan Bisnis Lama, All-in ke Data Center Belasan Triliun

Ilustrasi PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) dengan logo perusahaan dan Glenn T. Sugita berlatar pusat data (data center) sebagai simbol transformasi bisnis infrastruktur digital.

DEPOK24JAM–  Ada aksi korporasi yang lumayan berani di Bursa Efek Indonesia. PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV), yang dulu dikenal sebagai PT Panca Anugrah Wisesa Tbk, memutuskan untuk meninggalkan bisnis lamanya dan pindah total ke sektor pusat data alias data center.

Rencana ini resmi diumumkan lewat Keterbukaan Informasi tertanggal 28 Juli 2026, sesuai POJK No. 17/POJK.04/2020 soal transaksi material dan perubahan kegiatan usaha. Perseroan bakal minta restu pemegang saham di RUPSLB pada 3 September 2026.

Yang bikin menarik, ini bukan sekadar nambah lini bisnis. Ini ganti total. Di proyeksi proforma yang disusun manajemen, seluruh pendapatan dari bisnis dagang lama dihapus sampai jadi nol, seiring rencana melepas anak-anak usaha lama. Jadi perusahaan ini benar-benar mulai dari halaman kosong.

Dari jualan perabot rumah ke infrastruktur AI

Sedikit kilas balik. Perusahaan ini lahir 6 Juni 2012 dengan nama awal PT Mitra Anugrah Investama, di hadapan Notaris Chilmiyati Rufaida di Kabupaten Bogor. Bertahun-tahun bisnisnya di perdagangan besar barang rumah tangga, perdagangan atas balas jasa, dan sewa guna usaha. Bisnis yang, jujur saja, jauh dari kesan teknologi.

Baca Juga: Bos Persib Bandung Glenn Sugita Terjun ke Bisnis Infrastruktur AI

Semua berubah awal 2026. Kendali pindah ke PT Nextier Datamate Center (NDC), yang mencaplok 78,74% saham dan resmi jadi pengendali baru sejak 9 Februari 2026, menggeser PT Trijaya Wisesa Makmur. Nama pun ganti jadi PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk, efektif di bursa mulai 20 Juli 2026. Dasar hukumnya Akta No. 79 tanggal 24 Juni 2026 yang sudah disetujui Menkum pada 10 Juli 2026.

Saat ini NDC pegang 75,78% saham (1.443.570.400 lembar), sisanya 24,22% milik publik di bawah 5%. Kursi Direktur Utama diisi Ahmad Zulfikar, bareng Putra Harianto Bate’e, Afin, dan Ma Da. Di jajaran komisaris ada nama yang bakal bikin pembaca bola melek: Glenn T Sugita, yang dikenal sebagai bos Persib Bandung, duduk bareng Komisaris Utama Suriyanto dan Komisaris Independen Ridwan Hasan.

Buat menopang arah baru ini, Perseroan nambah tiga KBLI: infrastruktur komputasi dan hosting (63102), perusahaan induk (64210), dan konsultasi manajemen (70209).

Dua proyek, 96 MW, penyewanya Indosat

Nah, inti dari transformasi ini ada di dua perusahaan data center milik grup pengendali yang bakal dialihkan ke Perseroan. Pertama, PT Nextier GenAI Center (NGC), kapasitas 60 MW, lokasinya di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Jawa Tengah, tepat di koridor Pantura yang nyambung langsung ke Tol Trans Jawa. Kedua, PT Nextier Askara Center (NAC), kapasitas 36 MW, di kawasan Jababeka, Cikarang, yang kelebihannya dekat dengan ekosistem hyperscaler dan enterprise Jabodetabek.

Kalau dijumlah, totalnya sekitar 96 MW. Biar pasokannya kepakai, Perseroan bilang sudah ada perjanjian sewa dengan PT Indosat Tbk dan PT Megaspeed International Indonesia. Sewa lahan NGC sendiri berlaku panjang banget, 75 tahun, sampai tahun 2101.

Ringkasan studi kelayakan

Perseroan nunjuk KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R) buat bikin studi kelayakan, yang keluar lewat Laporan No. 00139/2.0176-00/BS/05/0453/1/VII/2026 tanggal 27 Juli 2026.

Dari sisi pasar, laporannya cukup optimistis. Kapasitas data center nasional baru 430 MW di 2024, sementara kebutuhannya diperkirakan sekitar 650 MW pada 2025 dan tumbuh dengan CAGR 16,8%. Ujungnya, permintaan diproyeksi meroket sampai sekitar 3,06 GW di 2034. Tapi laporannya juga cukup jujur: bakal ada kelebihan pasokan (over-supply) selama tiga tahun, dari 2026 sampai 2028, sebelum akhirnya berbalik jadi over-demand mulai 2029.

Bisnis barunya dijadwalkan jalan bertahap mulai Januari 2027, digarap sebagai unit mandiri. Ini empat indikator kelayakannya:

Indikator Hasil Keterangan
Net Present Value (NPV) Rp 3,98 triliun Layak (> 0)
Internal Rate of Return (IRR) 13,64% Layak (di atas discount rate 9,99%)
Profitability Index (PI) 1,27 Layak (> 1)
Payback Period 8 tahun 8 bulan

Yang unik, proyeksi arus kas buat analisis ini ditarik panjang sekali, sampai 2101, ngikutin masa habis sewa lahan NGC. Kesimpulan penilai: proyek LAYAK dijalankan.

Duitnya dari mana? 70% utang, 30% modal sendiri

Buat mendanai semua ini, Perseroan pasang struktur sekitar 70% dari pinjaman bank dan 30% dari modal sendiri. Modal sendirinya sendiri gabungan dari pinjaman pemegang saham (buat dana talangan awal), hasil rights issue (PMHMETD I), plus dana internal.

Dan skalanya nggak main-main. Belanja modal diproyeksi tembus Rp 7,08 triliun di 2026 dan Rp 6,28 triliun di 2027. Rights issue-nya bakal terbitin sampai 285,73 juta saham baru, buat nutup kewajiban akuisisi NAC dan NGC serta modal kerja pengembangan data center.

Efeknya ke keuangan: kas meledak, pendapatan lama nol

Dampak rencana ini ke proforma keuangan per 30 April 2026 kelihatan banget. Ini pos-pos yang paling berubah:

Pos Sebelum Sesudah proforma
Kas dan bank Rp 1,3 miliar Rp 6,67 triliun
Aset tetap naik dari akuisisi Rp 1,23 triliun
Utang pemegang saham jangka panjang nihil Rp 4 triliun
Agio saham Rp 42,9 miliar Rp 2,39 triliun

Lonjakan kas itu terutama dari pinjaman pemegang saham Rp 4 triliun dan hasil rights issue Rp 2,35 triliun, ditambah kas dari entitas yang diakuisisi sekitar Rp 193,8 miliar. Sebaliknya, pos-pos seperti piutang usaha, persediaan, dan uang muka pada susut jadi nol karena bisnis lama dilepas.

Di laporan laba rugi juga sama tegasnya. Seluruh pendapatan usaha lama sebesar Rp 24,1 miliar dihapus jadi nol. Tapi ada kabar baik tipis: rugi sebelum pajak proforma malah menyusut, dari rugi Rp 9,28 miliar secara historis jadi rugi Rp 5,49 miliar setelah transaksi, alias membaik sekitar Rp 3,79 miliar.

Tapi tunggu dulu, ini yang perlu dicermati

Di balik ambisi gede itu, ada beberapa hal yang mestinya bikin pemegang saham mikir dua kali. Perusahaan ini sekarang masih rugi, dengan rugi berjalan Rp 9,35 miliar per 30 April 2026. Pendapatan tahunannya juga lagi turun, dari Rp 208,8 miliar (2024) jadi Rp 127,9 miliar (2025). Artinya, mereka bertaruh besar di sektor yang belum pernah digarap, dengan utang tinggi dan balik modal butuh lebih dari delapan tahun.

Satu lagi yang penting dari sisi tata kelola: aset data center yang dibeli itu asalnya dari pengendali sendiri (NDC). Jadi rencana ini punya dimensi transaksi afiliasi sekaligus material, yang biasanya perlu perhatian ekstra. Peralihan kendalinya juga menyimpan cerita. Begitu kendali pindah ke Nextier, nama Patrick Walujo tercatat menghilang dari daftar penerima manfaat akhir emiten ini.

Jadwal RUPSLB

Agenda Tanggal
Pengumuman RUPSLB 28 Juli 2026
Keterbukaan Informasi ke pemegang saham 28 Juli 2026
Recording date (DPS berhak hadir) 11 Agustus 2026
Pemanggilan RUPSLB 12 Agustus 2026
RUPSLB 3 September 2026

Biar sah, RUPSLB butuh kuorum kehadiran minimal 2/3 dari seluruh saham berhak suara, dan keputusannya sah kalau disetujui lebih dari 2/3 saham yang hadir. Restu inilah yang bakal nentuin, apakah taruhan besar NexAI ini benar-benar jalan atau nggak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *