DEPOK24JAM – Setelah beberapa tahun menghadapi tekanan akibat melemahnya daya beli masyarakat, kenaikan cukai rokok, dan persaingan industri yang semakin ketat, PT Gudang Garam Tbk (BEI: GGRM) mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.
Produsen rokok kretek yang telah berdiri sejak 1958 itu berhasil mencatat lonjakan laba pada semester I 2026. Meski penjualan masih mengalami penurunan, perusahaan mampu memperbaiki profitabilitas melalui efisiensi biaya produksi, penurunan beban operasional, dan berkurangnya beban bunga.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, Gudang Garam membukukan laba bersih sebesar Rp2,98 triliun, melonjak hampir 25 kali lipat dibandingkan laba bersih semester I 2025 yang hanya mencapai Rp120,25 miliar. Lonjakan tersebut membuat laba per saham dasar meningkat menjadi Rp1.547, dari hanya Rp61 pada periode yang sama tahun lalu.
Perbaikan laba terjadi meski penjualan perseroan masih mengalami penurunan. Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, penjualan Gudang Garam tercatat Rp41,18 triliun, turun sekitar 7,2 persen dibandingkan Rp44,37 triliun pada semester I 2025.
Namun, penurunan penjualan tersebut berhasil diimbangi dengan efisiensi yang signifikan. Beban pokok penjualan turun menjadi Rp35,19 triliun dari Rp40,58 triliun, sehingga laba bruto meningkat menjadi Rp5,99 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp3,79 triliun pada semester I tahun lalu. Dengan kata lain, margin laba kotor perusahaan membaik meski pendapatan menyusut.
Efisiensi juga terlihat pada beban operasional. Beban penjualan turun menjadi Rp1,10 triliun dari Rp1,83 triliun, sementara beban umum dan administrasi berkurang menjadi Rp1,16 triliun dari Rp1,59 triliun. Pada saat yang sama, beban bunga dan keuangan anjlok drastis menjadi hanya Rp4,52 miliar, dibandingkan Rp219,35 miliar pada semester I 2025. Kombinasi ketiga faktor tersebut menjadi pendorong utama lonjakan laba perusahaan.
Hasilnya, laba sebelum pajak Gudang Garam melonjak menjadi Rp3,90 triliun, dibandingkan hanya Rp294,37 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Setelah dikurangi beban pajak, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham induk mencapai Rp2,98 triliun.
Perbaikan tersebut juga tercermin pada posisi neraca. Total ekuitas meningkat menjadi Rp64,01 triliun dari Rp62,57 triliun pada akhir 2025, didorong oleh kenaikan saldo laba menjadi Rp62,82 triliun. Meski perusahaan membagikan dividen tunai sekitar Rp1,54 triliun, nilai ekuitas tetap bertambah berkat besarnya laba yang dihasilkan selama semester pertama.
Di sisi kas, Gudang Garam juga membukukan arus kas operasi yang lebih kuat. Arus kas bersih dari aktivitas operasi mencapai Rp6,30 triliun, meningkat dibandingkan Rp5,68 triliun pada semester I 2025. Kinerja tersebut menunjukkan bisnis inti perusahaan masih mampu menghasilkan kas dalam jumlah besar meski industri rokok menghadapi tekanan dari sisi permintaan dan regulasi.
Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya hilang. Penjualan yang masih menurun mengindikasikan permintaan terhadap produk rokok belum sepenuhnya pulih. Industri hasil tembakau juga masih menghadapi tekanan dari kebijakan cukai, kenaikan harga jual, serta perubahan pola konsumsi masyarakat.
Namun untuk sementara, strategi efisiensi yang dijalankan Gudang Garam terbukti berhasil menjaga profitabilitas. Di tengah penjualan yang melemah, perusahaan justru mampu mengubah tekanan tersebut menjadi lonjakan laba, sebuah sinyal bahwa pengendalian biaya kini menjadi senjata utama emiten rokok tersebut dalam menghadapi dinamika industri.

