DEPOK24JAM – Masuk ke minimarket mana pun, rak roti kemasan hampir selalu menjadi salah satu sudut yang paling ramai. Mulai dari roti tawar untuk sarapan, roti isi cokelat sebagai bekal sekolah, hingga roti keju untuk teman minum kopi, produk Sari Roti sudah menjadi bagian dari keseharian banyak masyarakat Indonesia.
Di tengah kondisi ekonomi yang membuat sebagian konsumen lebih selektif berbelanja, roti kemasan masih menjadi pilihan praktis karena mudah didapat dan harganya relatif terjangkau.
Kebiasaan masyarakat tersebut tercermin pada kinerja PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) sepanjang semester I 2026.
Produsen Sari Roti itu masih mampu mempertahankan penjualan di level Rp1,77 triliun, hampir tidak berubah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang juga mencapai sekitar Rp1,77 triliun. Namun, di balik penjualan yang tetap terjaga, keuntungan perusahaan justru mengalami penurunan sangat tajam.
Sri Mulyana, Corporate Secretary PT Nippon Indosari Corpindo Tbk menyampaikan perseroan telah menyerahkan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026 kepada Bursa Efek Indonesia.
“Perseroan dengan ini menyampaikan laporan keuangan untuk periode 6 bulan yang berakhir pada 30/06/2026,” tulis Sri dalam keterbukaan informasi dikutip, Jumat, 31 Juli 2026.
Laporan tersebut menunjukkan laba bersih ROTI merosot hampir 95% menjadi hanya Rp3,6 miliar pada semester I 2026, dibandingkan Rp70,7 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Artinya, meski masyarakat masih membeli produk roti kemasan, perusahaan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar untuk mempertahankan profitabilitas.
Biaya Operasional Naik, Laba Tertekan
Jika ditelusuri lebih jauh, penyebab utama turunnya laba bukan berasal dari melemahnya permintaan. Penjualan masih relatif stabil, tetapi biaya operasional meningkat cukup signifikan.
Beban penjualan naik menjadi Rp756,44 miliar dari Rp664,70 miliar pada semester I 2025. Sementara itu, laba bruto sedikit turun menjadi Rp910,97 miliar dari Rp918,65 miliar. Kondisi tersebut membuat laba sebelum pajak menyusut drastis menjadi Rp6,79 miliar dibandingkan Rp92,13 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Fenomena ini menggambarkan tantangan yang kini dihadapi industri makanan konsumsi. Di tengah persaingan yang semakin ketat, perusahaan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk distribusi, promosi, hingga operasional agar produk tetap tersedia di ribuan gerai ritel modern di seluruh Indonesia.
Roti Tawar Masih Jadi Andalan
Dari sisi produk, roti tawar masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar perseroan dengan nilai penjualan sekitar Rp1,20 triliun. Sementara roti manis membukukan penjualan sebesar Rp813,08 miliar dan kategori kue menyumbang sekitar Rp193,49 miliar. Komposisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap produk roti sehari-hari masih relatif stabil.
Kondisi Keuangan Masih Terjaga
Pada neraca, total aset perseroan tercatat Rp3,47 triliun per 30 Juni 2026, sedikit turun dibandingkan Rp3,54 triliun pada akhir 2025. Total liabilitas meningkat menjadi Rp1,88 triliun dari Rp1,49 triliun, sedangkan ekuitas turun menjadi Rp1,60 triliun dari Rp2,04 triliun, terutama dipengaruhi pembagian dividen dan penurunan saldo laba.
Kas dan setara kas juga turun menjadi Rp168,66 miliar dari Rp270,52 miliar pada awal tahun. Meski demikian, aktivitas operasional masih menghasilkan arus kas positif sebesar Rp76,54 miliar, meningkat dibandingkan Rp60,92 miliar pada semester I 2025. Hal ini menunjukkan kegiatan usaha inti perusahaan masih mampu menghasilkan kas meski laba bersih tertekan.
Kinerja semester I 2026 memperlihatkan bahwa permintaan terhadap roti kemasan di Indonesia masih cukup kuat. Produk-produk Sari Roti tetap mudah dijumpai di minimarket, supermarket, hingga toko kelontong modern, menandakan konsumsi masyarakat belum mengalami penurunan yang signifikan.
Namun, laporan keuangan ini juga menjadi pengingat bahwa mempertahankan penjualan saja belum cukup. Di tengah kenaikan biaya distribusi, pemasaran, dan operasional, kemampuan perusahaan mengendalikan pengeluaran akan menjadi faktor penting untuk mengembalikan pertumbuhan laba pada paruh kedua tahun 2026.

