DEPOK24JAM – Ketika mendengar nama Sentul City, banyak orang langsung teringat pada kawasan hijau di Kabupaten Bogopr yang dipenuhi perumahan, hotel, lapangan golf, pusat kuliner, hingga lokasi wisata favorit saat akhir pekan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini juga berkembang menjadi salah satu kota mandiri yang terus menarik minat masyarakat untuk tinggal maupun berinvestasi properti.
Di balik pengembangan kawasan tersebut berdiri PT Sentul City Tbk (BKSL). Selama lebih dari tiga dekade, perusahaan ini terus membangun kawasan terpadu yang kini memiliki luas lebih dari 3.100 hektare. Bisnisnya tidak hanya mencakup rumah tapak, tetapi juga apartemen, kawasan komersial, pusat bisnis, serta kavling siap bangun.
Saat ini Sentul City mengembangkan berbagai proyek seperti Spring Residence, Centronia Residence, Spring Valley, Spring Valley Extension, Sentul Tower Apartemen, hingga kawasan komersial Centronia Square. Berbagai proyek tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengembangkan kawasan kota mandiri yang terintegrasi dengan hunian, bisnis, dan fasilitas rekreasi.
Perjalanan Sentul City dimulai pada 16 April 1993 dengan nama PT Sentragriya Kharisma sebelum berganti menjadi PT Sentul City Tbk. Dalam perjalanannya, perusahaan beberapa kali melakukan aksi korporasi untuk memperkuat permodalan, termasuk rights issue pada 2009 dan penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) pada 2017 sebagai bagian dari strategi pengembangan kawasan.
Kini, setelah industri properti sempat menghadapi tekanan akibat pandemi, tingginya suku bunga, serta melemahnya daya beli masyarakat, Sentul City mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Hal tersebut tercermin dari laporan keuangan semester I 2026 yang memperlihatkan lonjakan laba dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba Bersih Melonjak Tajam
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian hingga 30 Juni 2026, Sentul City membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp89,84 miliar, melonjak dibandingkan Rp14,58 miliar pada semester I 2025.
Artinya, laba bersih perseroan meningkat lebih dari enam kali lipat secara tahunan. Sejalan dengan itu, total laba komprehensif juga naik menjadi Rp88,24 miliar, dari Rp18,12 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba per saham dasar meningkat menjadi Rp0,54, dibandingkan Rp0,09 pada semester I 2025.
Ringkasan Kinerja Sentul City Semester I 2026
| Keterangan | Semester I 2026 | Semester I 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Laba Bersih Entitas Induk | Rp89,84 miliar | Rp14,58 miliar | ▲ 516% |
| Total Laba Komprehensif | Rp88,24 miliar | Rp18,12 miliar | ▲ 387% |
| Laba per Saham | Rp0,54 | Rp0,09 | ▲ 500% |
Kota Mandiri Masih Menjadi Andalan
Berbeda dengan pengembang yang hanya menjual perumahan, Sentul City mengembangkan konsep kota mandiri (integrated township). Selain kawasan hunian, perusahaan juga membangun area komersial, apartemen, ruang usaha, hingga fasilitas pendukung yang membuat kawasan tersebut tetap hidup sepanjang hari.
Model bisnis seperti ini membuat pendapatan perusahaan tidak hanya bergantung pada penjualan rumah, tetapi juga berasal dari pengembangan lahan dan kawasan komersial yang terus bertumbuh mengikuti perkembangan wilayah Sentul.
Dengan semakin mudahnya akses menuju kawasan Bogor melalui jaringan jalan tol, minat terhadap hunian di wilayah penyangga Jakarta juga terus meningkat. Kondisi tersebut menjadi salah satu sentimen positif bagi pengembang kawasan terpadu seperti Sentul City.
Struktur Permodalan Makin Kuat
Perbaikan laba turut memperkuat posisi keuangan perusahaan.
Hingga 30 Juni 2026, total ekuitas Sentul City mencapai Rp16,08 triliun, meningkat dibandingkan Rp15,99 triliun pada akhir 2025.
Sementara itu, ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi Rp15,33 triliun, dari Rp15,24 triliun pada akhir tahun lalu. Peningkatan tersebut terutama berasal dari akumulasi laba yang berhasil dibukukan selama semester pertama tahun ini.
Posisi Ekuitas
| Keterangan | 30 Juni 2026 | 31 Desember 2025 |
|---|---|---|
| Ekuitas Entitas Induk | Rp15,33 triliun | Rp15,24 triliun |
| Total Ekuitas | Rp16,08 triliun | Rp15,99 triliun |
Arus Kas Operasional Masih Tertekan
Di balik lonjakan laba, Sentul City masih menghadapi tantangan dari sisi arus kas operasional.
Perseroan mencatat arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi sebesar Rp606,77 miliar, jauh lebih besar dibandingkan Rp3,87 miliar pada semester I 2025.
Tekanan tersebut terutama berasal dari meningkatnya pembayaran kepada kontraktor yang mencapai Rp419,34 miliar, serta pembayaran bunga sekitar Rp104,10 miliar. Dalam industri properti, kondisi ini cukup umum terjadi karena perusahaan harus mengeluarkan dana pembangunan proyek lebih dahulu sebelum pendapatan diterima sepenuhnya dari konsumen.
Di sisi lain, aktivitas pendanaan memberikan tambahan likuiditas. Sentul City memperoleh tambahan pinjaman bank sehingga aktivitas pendanaan menghasilkan arus kas positif sebesar Rp298,09 miliar. Posisi kas dan setara kas pada akhir Juni 2026 juga meningkat menjadi Rp234,83 miliar.
Ringkasan Arus Kas
| Keterangan | Semester I 2026 | Semester I 2025 |
|---|---|---|
| Arus Kas Operasi | (Rp606,77 miliar) | (Rp3,87 miliar) |
| Arus Kas Investasi | (Rp17,95 miliar) | (Rp29,40 miliar) |
| Arus Kas Pendanaan | Rp298,09 miliar | (Rp83,26 miliar) |
| Kas dan Setara Kas Akhir Periode | Rp234,83 miliar | Rp157,37 miliar |
Prospek Masih Terbuka
Kinerja semester I 2026 memberikan sinyal bahwa Sentul City mulai memasuki fase pemulihan. Lonjakan laba bersih, meningkatnya laba komprehensif, serta bertambahnya ekuitas menunjukkan fundamental perusahaan bergerak ke arah yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, arus kas operasional masih menjadi aspek yang perlu dicermati. Ke depan, kemampuan perusahaan mempercepat penjualan properti dan mengubah proyek yang sedang dikembangkan menjadi penerimaan kas akan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan.
Dengan terus berkembangnya kawasan Sentul sebagai pusat hunian, bisnis, dan rekreasi di selatan Jakarta, Sentul City memiliki peluang untuk melanjutkan momentum positifnya apabila permintaan properti tetap tumbuh pada paruh kedua tahun 2026.

