Madusari Murni Indah Raup Pendapatan Rp730,66 Miliar, Laba Melonjak 192%

Madusari Murni Indah MOLI mencatat kenaikan laba semester I 2026

DEPOK24JAM- PT Madusari Murni Indah Tbk (MOLI) membukukan kinerja yang jauh lebih kuat pada semester I 2026. Meski pendapatan hanya tumbuh tipis, laba bersih perusahaan melonjak hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim yang berakhir 30 Juni 2026, MOLI mencatat pendapatan bersih Rp730,66 miliar. Angka tersebut naik 1,65% dibandingkan Rp718,77 miliar pada semester I 2025.

Yang mencolok adalah pergerakan laba. Laba bersih periode berjalan mencapai Rp75,33 miliar, melonjak 192,14% dari Rp25,79 miliar pada semester I 2025. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga naik dari Rp19,87 miliar menjadi Rp63,22 miliar.

Perbaikan tersebut terjadi ketika pendapatan hanya meningkat tipis. Titik pentingnya justru berada pada penurunan beban pokok penjualan dan jauh lebih rendahnya beban keuangan.

Pendapatan Naik Tipis, Laba Bruto Melompat

Pendapatan bersih MOLI pada semester I 2026 mencapai Rp730,66 miliar, naik Rp11,89 miliar dari Rp718,77 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Namun, biaya untuk menghasilkan pendapatan tersebut justru turun. Beban pokok penjualan berkurang dari Rp535,98 miliar menjadi Rp489,99 miliar, atau turun sekitar 8,58%.

Kombinasi kenaikan pendapatan dan penurunan beban pokok penjualan membuat laba bruto meningkat 31,66%, dari Rp182,79 miliar menjadi Rp240,67 miliar.

Margin laba bruto pun melebar cukup signifikan. Pada semester I 2025, margin laba bruto sekitar 25,43%. Angka tersebut naik menjadi 32,94% pada semester I 2026.

Dengan kata lain, MOLI tidak sekadar menjual lebih banyak secara nilai. Perusahaan juga menghasilkan selisih yang lebih besar setelah memperhitungkan biaya pokok penjualan.

Catatan beban pokok penjualan menunjukkan pemakaian bahan baku, barang dalam proses, dan beban produksi lainnya turun dari Rp446,78 miliar menjadi Rp349,90 miliar. Di sisi lain, pembelian barang jadi meningkat dari Rp82,09 miliar menjadi Rp124,76 miliar.

Pendapatan Perusahaan Berasal dari Mana?

Bisnis MOLI masih sangat bergantung pada etanol.

Dari total pendapatan Rp730,66 miliar pada semester I 2026, penjualan etanol mencapai Rp651,43 miliar. Artinya, sekitar 89,16% pendapatan bersih Grup berasal dari produk tersebut.

Rinciannya sebagai berikut:

  • Etanol: Rp651,43 miliar, kontribusi 89,16%
  • Karbon dioksida: Rp29,50 miliar, kontribusi 4,04%
  • Pupuk: Rp21,12 miliar, kontribusi 2,89%
  • Lainnya: Rp28,61 miliar, kontribusi 3,92%

Data tersebut menunjukkan betapa dominannya etanol terhadap struktur pendapatan MOLI.

Penjualan etanol masih tumbuh 1,55% dari Rp641,52 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp651,43 miliar.

Pupuk menjadi produk dengan pertumbuhan paling tinggi. Penjualannya melonjak 46,21%, dari Rp14,44 miliar menjadi Rp21,12 miliar. Namun karena basis pendapatannya relatif kecil, kenaikan tersebut belum mengubah dominasi etanol.

Sebaliknya, penjualan karbon dioksida turun 9,90% dari Rp32,74 miliar menjadi Rp29,50 miliar. Penjualan produk lainnya juga turun 4,85% menjadi Rp28,61 miliar.

Etanol dan Pupuk Jadi Penopang Utama

MOLI membagi bisnisnya menjadi dua kelompok utama, yakni Etanol dan Pupuk serta Karbon Dioksida dan Lainnya.

Segmen Etanol dan Pupuk menghasilkan pendapatan Rp672,55 miliar pada semester I 2026. Nilai tersebut setara sekitar 92,05% dari total pendapatan Grup.

Pendapatan segmen ini meningkat 2,53% dibandingkan Rp655,96 miliar pada semester I 2025.

Sementara itu, segmen Karbon Dioksida dan Lainnya membukukan pendapatan Rp58,11 miliar, atau sekitar 7,95% dari total pendapatan. Segmen ini justru turun 7,48% dibandingkan Rp62,81 miliar pada semester I 2025.

Dari sisi laba bruto, segmen Etanol dan Pupuk juga menjadi sumber terbesar. Laba bruto segmen tersebut mencapai Rp222,49 miliar, sedangkan Karbon Dioksida dan Lainnya menghasilkan Rp18,18 miliar.

Struktur ini memperlihatkan bahwa kinerja MOLI sangat ditentukan oleh bisnis etanol dan pupuk, dengan etanol sebagai produk yang paling dominan.

Laba Melonjak karena Biaya Produksi dan Keuangan Menurun

Setelah laba bruto meningkat menjadi Rp240,67 miliar, MOLI masih menghadapi kenaikan sejumlah beban operasional.

Beban penjualan dan distribusi naik dari Rp77,35 miliar menjadi Rp79,71 miliar. Beban umum dan administrasi juga meningkat dari Rp55,84 miliar menjadi Rp64,59 miliar.

Meski demikian, kenaikan beban tersebut tertutupi oleh lonjakan laba bruto.

Laba usaha akhirnya meningkat dari Rp49,73 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp106,92 miliar pada semester I 2026, atau naik sekitar 114,99%.

Faktor lain yang cukup besar adalah beban keuangan. Pada semester I 2025, MOLI menanggung beban keuangan Rp12,91 miliar. Angka tersebut turun drastis menjadi hanya Rp960,47 juta pada semester I 2026, atau berkurang sekitar 92,56%.

Penurunan beban keuangan tersebut ikut memperlebar laba sebelum pajak. Laba sebelum pajak meningkat dari Rp36,86 miliar menjadi Rp105,94 miliar.

Beban pajak penghasilan memang meningkat dari Rp11,07 miliar menjadi Rp30,61 miliar. Namun kenaikan pajak tersebut tidak cukup untuk menghapus peningkatan laba sebelum pajak.

Hasil akhirnya, laba bersih naik dari Rp25,79 miliar menjadi Rp75,33 miliar.

Margin laba bersih pun meningkat tajam, dari sekitar 3,59% pada semester I 2025 menjadi 10,31% pada semester I 2026.

Faktor yang Menjelaskan Kinerja

Laporan keuangan menunjukkan beberapa perubahan yang secara langsung membantu menjelaskan lonjakan laba.

Pertama, pendapatan naik Rp11,89 miliar. Kedua, beban pokok penjualan justru turun Rp45,98 miliar. Ketiga, beban keuangan berkurang hampir Rp11,95 miliar.

Penurunan biaya bahan baku dan barang dalam proses serta beban produksi lainnya menjadi salah satu perubahan terbesar dalam struktur biaya. Pos tersebut turun dari Rp446,78 miliar menjadi Rp349,90 miliar.

Namun, laporan keuangan tidak merinci secara spesifik apakah perubahan tersebut terutama disebabkan oleh perubahan volume produksi, harga bahan baku, harga jual, atau faktor operasional lainnya.

Dengan demikian, peningkatan margin tidak tepat langsung disebut sebagai hasil kenaikan harga jual atau efisiensi tertentu karena laporan tidak memberikan penjelasan spesifik mengenai penyebab tersebut.

Ada pula faktor pendapatan lain-lain. Pos pendapatan atau kerugian lain-lain bersih berubah dari rugi Rp10,26 juta pada semester I 2025 menjadi pendapatan Rp9,67 miliar pada semester I 2026. Pendapatan bunga juga naik menjadi Rp1,11 miliar dari Rp171,43 juta.

Kas Menguat, Utang Bank Jangka Pendek Hilang

Perbaikan laba juga berjalan bersama dengan peningkatan posisi kas.

Per 30 Juni 2026, kas dan setara kas MOLI mencapai Rp149,13 miliar, naik tajam dari Rp68,80 miliar pada 31 Desember 2025.

Dalam periode enam bulan, kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi mencapai Rp120,97 miliar. Namun perusahaan juga menggunakan Rp27,40 miliar untuk aktivitas investasi, terutama untuk perolehan dan pembayaran uang muka aset tetap sebesar Rp56,49 miliar.

Menariknya, utang bank jangka pendek yang tercatat Rp13,26 miliar pada akhir 2025 sudah tidak tercatat pada 30 Juni 2026.

Total liabilitas memang meningkat dari Rp172,03 miliar menjadi Rp219,97 miliar, tetapi ekuitas juga naik dari Rp1,44 triliun menjadi Rp1,49 triliun.

Semester I 2026 menunjukkan perubahan yang cukup besar pada kualitas laba MOLI. Pendapatan hanya tumbuh 1,65%, tetapi laba bersih melonjak 192,14%.

Kunci perubahan tersebut terlihat dari sisi biaya. Beban pokok penjualan turun 8,58%, membuat margin laba bruto melebar dari 25,43% menjadi 32,94%. Beban keuangan juga merosot lebih dari 92%, sehingga laba sebelum pajak meningkat jauh lebih cepat daripada pendapatan.

Di sisi pendapatan, bisnis MOLI tetap sangat terkonsentrasi pada etanol. Produk ini menyumbang 89,16% pendapatan bersih, sementara segmen Etanol dan Pupuk secara keseluruhan menyumbang sekitar 92,05%.

Karena itu, meski kinerja semester I 2026 membaik tajam, struktur bisnis MOLI masih sangat bergantung pada performa etanol. Sementara itu, penurunan penjualan karbon dioksida dan produk lainnya menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak terjadi secara merata di seluruh lini bisnis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *