Pendapatan XLSMART Melonjak Jadi Rp23,99 Triliun, Tapi Masih Rugi, Kok Bisa?

XLSMART mencatat pendapatan Rp23,99 triliun dan rugi Rp998,07 miliar pada semester I 2026

DEPOK24JAM- PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk, perusahaan hasil penggabungan XL Axiata dengan Smartfren dan Smart Telecom, mencatat pertumbuhan pendapatan yang cukup kuat pada semester I 2026. Namun, kenaikan pendapatan tersebut belum mampu membawa perusahaan keluar dari zona rugi.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim per 30 Juni 2026, XLSMART membukukan pendapatan Rp23,99 triliun sepanjang enam bulan pertama 2026. Angka ini meningkat 25,65% dibandingkan pendapatan Rp19,09 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, perusahaan masih membukukan rugi bersih Rp998,07 miliar. Meski demikian, kerugian tersebut menyusut dibandingkan rugi Rp1,22 triliun pada semester I 2025. Dengan demikian, rugi bersih berhasil ditekan sekitar 18,1%.

Pendapatan Data Jadi Mesin Utama

Jika dibedah berdasarkan sumber pendapatan, bisnis data dan layanan digital menjadi penyumbang terbesar XLSMART.

Pendapatan dari data dan layanan digital mencapai Rp21,53 triliun pada semester I 2026, naik dari Rp17,46 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kontribusinya mencapai hampir 90% dari total pendapatan perusahaan.

Dari angka tersebut, sebesar Rp20,45 triliun berasal dari sistem teknologi informasi yang kompleks. Pada semester I 2025, kontribusi dari sumber yang sama tercatat Rp16,57 triliun.

Sementara itu, pendapatan dari jasa interkoneksi dan jasa telekomunikasi lainnya naik menjadi Rp1,81 triliun dari Rp1,01 triliun.

Pendapatan percakapan dan SMS juga meningkat menjadi Rp440,77 miliar dari Rp375,28 miliar.

Secara keseluruhan, jasa GSM mobile dan jaringan telekomunikasi menghasilkan Rp23,74 triliun setelah dikurangi diskon pendapatan. Sementara bisnis managed service dan teknologi informasi menyumbang Rp249,58 miliar.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa bisnis konektivitas data menjadi tulang punggung utama XLSMART setelah penggabungan dengan Smartfren.

Beban Ikut Melonjak

Masalahnya, pertumbuhan pendapatan belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi laba.

Total beban XLSMART meningkat menjadi Rp23,36 triliun pada semester I 2026, dari Rp18,57 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Beban penyusutan menjadi salah satu pos terbesar, mencapai Rp10,41 triliun, naik dari Rp7,31 triliun.

Beban infrastruktur juga meningkat menjadi Rp6,71 triliun dari Rp5,37 triliun. Sementara beban interkoneksi dan biaya langsung lainnya naik menjadi Rp2,79 triliun dari Rp2,12 triliun.

Tekanan juga terlihat pada biaya penjualan dan pemasaran yang meningkat cukup tajam, dari Rp916,12 miliar menjadi Rp1,47 triliun.

Dengan struktur biaya tersebut, laba dari aktivitas sebelum memperhitungkan biaya keuangan dan pos terkait hanya mencapai Rp636,27 miliar, dibandingkan Rp525,18 miliar pada semester I 2025.

Beban Keuangan Masih Menggerus Kinerja

Setelah memperhitungkan biaya keuangan Rp1,86 triliun, penghasilan keuangan Rp86,48 miliar, serta bagian atas rugi bersih entitas asosiasi Rp175,63 miliar, XLSMART masih mencatat rugi sebelum pajak Rp1,31 triliun.

Angka tersebut sebenarnya membaik dibandingkan rugi sebelum pajak Rp1,34 triliun pada semester I 2025.

Manfaat pajak penghasilan sebesar Rp315,20 miliar kemudian membantu menekan rugi periode berjalan menjadi Rp998,07 miliar. Pada semester I 2025, manfaat pajak hanya Rp123,36 miliar dan rugi periode berjalan mencapai Rp1,22 triliun.

Rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp994,15 miliar, turun dari Rp1,22 triliun pada semester I 2025.

Rugi per saham juga membaik dari Rp82 menjadi Rp55 per saham.

Kas Operasi Justru Menguat

Di tengah kerugian akuntansi tersebut, arus kas operasi XLSMART menunjukkan perbaikan signifikan.

Kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi mencapai Rp13,68 triliun, naik dari Rp8,82 triliun pada semester I 2025. Penerimaan dari pelanggan dan operator lain juga meningkat menjadi Rp24,78 triliun dari Rp17,72 triliun.

Namun, kebutuhan investasi perusahaan ikut membesar.

XLSMART mengeluarkan Rp7,79 triliun untuk pembelian aset tetap dan aset takberwujud, lebih dari dua kali lipat dibandingkan Rp3,89 triliun pada semester I 2025.

Di sisi pendanaan, perusahaan mencatat arus kas keluar bersih Rp6,75 triliun. Akibatnya, kas dan setara kas turun dari Rp2,67 triliun pada awal tahun menjadi Rp2,02 triliun per 30 Juni 2026.

Aset Rp113,55 Triliun, Liabilitas Rp84,5 Triliun

Per 30 Juni 2026, XLSMART memiliki total aset Rp113,55 triliun, turun tipis dari Rp115,32 triliun pada akhir 2025.

Aset tidak lancar justru naik menjadi Rp101,84 triliun dari Rp100,30 triliun. Namun aset lancar turun dari Rp15,02 triliun menjadi Rp11,71 triliun.

Liabilitas tercatat Rp84,50 triliun, sedikit turun dari Rp85,31 triliun pada akhir 2025. Liabilitas jangka panjang turun cukup besar menjadi Rp47,63 triliun dari Rp53,47 triliun.

Ekuitas per 30 Juni 2026 tercatat Rp29,05 triliun. Saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya menyusut menjadi hanya Rp54,13 miliar, dari Rp1,01 triliun pada akhir 2025, terutama karena rugi periode berjalan.

Tantangan Besar Setelah Merger

Laporan keuangan ini memperlihatkan dua wajah XLSMART pada semester pertama 2026.

Di satu sisi, mesin pendapatan perusahaan bekerja lebih kencang. Pendapatan tumbuh 25,65%, terutama ditopang bisnis data dan layanan digital yang mencapai Rp21,53 triliun.

Di sisi lain, biaya untuk menopang bisnis tersebut juga sangat besar. Beban penyusutan mencapai Rp10,41 triliun dan beban infrastruktur Rp6,71 triliun. Biaya keuangan hampir Rp1,9 triliun juga masih menjadi beban berat bagi perusahaan.

Dengan kata lain, tantangan XLSMART bukan lagi sekadar mengejar pertumbuhan pendapatan. Setelah merger XL Axiata dan Smartfren, tantangan berikutnya adalah memastikan skala bisnis yang jauh lebih besar tersebut mampu menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan.

Laporan keuangan interim ini telah diotorisasi Direksi XLSMART pada 11 Agustus 2026.

Menariknya, setelah periode pelaporan, XLSMART juga memperoleh hak penggunaan spektrum 700 MHz dan 2600 MHz untuk 5G melalui lelang pada 21 Juli 2026. Perusahaan diwajibkan membayar biaya awal Rp1,29 triliun dan biaya penggunaan spektrum tahunan Rp992,82 miliar, dengan masa berlaku izin 5 Agustus 2026 hingga 4 Agustus 2036.

Artinya, investasi dan kebutuhan modal XLSMART ke depan berpotensi tetap besar. Pertumbuhan pendapatan memang sudah terlihat, tetapi pekerjaan rumah terbesar perusahaan masih sama: mengubah skala bisnis dan investasi besar pascamerger menjadi laba yang konsisten.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *